Process-audit dalam penyelenggaraan pendidikan akademik S-1 Bimbingan dan Konseling / Nur Hidayah - Repositori Universitas Negeri Malang

Process-audit dalam penyelenggaraan pendidikan akademik S-1 Bimbingan dan Konseling / Nur Hidayah

Hidayah, Nur (2010) Process-audit dalam penyelenggaraan pendidikan akademik S-1 Bimbingan dan Konseling / Nur Hidayah. Doctoral thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Nur Hidayah 2009. Process-Audit dalam Penyelenggaraan Pendidikan Akademik jenjang S-1 Bimbingan dan Konseling. Disertasi Program Studi Bimbingan dan Konseling Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. T. Raka Joni M.Sc. (II) Dr. Dany M. Handarini M.A. (III) Dr. Marthen Pali M.Psi. Kata kunci pendidikan akademik S-1 bimbingan dan konseling process-audit countenance-model NA PPPK Pendidikan Profesional Konselor Pra-jabatan diselenggarakan dalam dua tahap yaitu (1) Tahap Pendidikan Akademik dan (2) Tahap Pendidikan Profesi. Tahap Pendidikan Akademik merupakan dasar pembentukan penguasaan kompetensi akademik yang bermuara pada penganugrahan ijasah S-1 Bimbingan dan Konseling. Sedangkan Pendidikan Profesi Bimbingan dan Konseling/Konselor merupakan program untuk melatih penerapan kemampuan akademik di bidang Bimbingan dan Konseling dalam konteks otentik di lapangan dengan mekanisme penyeliaan yang efektif. Penyelenggaraan Pendidikan Akademik S-1 Bimbingan dan Konseling sekarang praktiknya ditemukan ada perusakan kesehatan organisasi baik dari dalam yang ditumbuhkan oleh LPTK sendiri maupun dari luar yang ditumbuhkan oleh Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1981 dan UU No. 14 tahun 2005. Perusakan-perusakan tersebut dilacak melalui Process-Audit. Tujuan penelitian secara rinci adalah (1) Mendeskripsikan profil gabungan LPTK sampel dalam penyelenggaraan Pendidikan Akademik S-1 Bimbingan dan Konseling (2) Mendeskripsikan profil tiap-tiap LPTK sampel dalam penyeleng-garaan Pendidikan Akademik S-1 Bimbingan dan Konseling dan (3) Menemukenali kesenjangan antara standar dan realita dalam penyelenggaraan Pendidikan Akademik S-1 Bimbingan dan Konseling di LPTK. Penelitian evaluatif ini menggunakan Standar Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Konselor (ABKIN 2007) sebagai kriteria yang digunakan untuk menetapkan penilaian (judgement) terhadap penyelenggaraan program dengan rancangan penelitian yang diturunkan dari The Countenance Model Stake. Penelitian ini menggunakan metode campuran (blended methods) yaitu metode kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilaksanakan pada Semester Gasal 2008/2009 dengan tiga sampel penelitian yaitu (1) sampel data (2) sampel lembaga dan (3) sampel waktu. Sampel lembaga melibatkan 4 LPTK yaitu LPTK 1 2 3 dan 4. Penetapan sampel lembaga dilakukan secara sengaja dengan teknik purposive sampling dari LPTK-LPTK yang memenuhi kriteria antara lain (a) program studi S-1 Bimbingan dan Konseling ex IKIP Negeri (b) penyelenggara program studi S-1 Bimbingan dan Konseling yang tidak pernah di-phase out oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Instrumen pengumpul data menggunakan kuesioner dokumentasi observasi dan wawancara. Subyek penelitian adalah pimpinan dosen teknisi/laboran dan mahasiswa. iii Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif menggunakan analisis komparatif termodifikasi dan analisis komparatif konstan. Analisis kualitatif menggunakan strategi Experiential Learning (David Kolb 1984) sehingga menghasilkan analisis dan pemaknaan data LPTK 1 2 3 dan 4. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Pertama Profil dari gabungan LPTK sampel penyelenggaraan Pendidikan Akademik S-1 Bimbingan dan Konseling mendekati standar NA PPPK (ABKIN 2007). Ke lima Fokus di antaranya yang paling dekat dengan standar adalah Fokus 3 yaitu proses pembelajaran sebagai implementasi kurikulum. Sebaliknya Fokus 1 2 4 dan 5 jauh dari standar. Khusus pengembangan Kurikulum tampil zig-zag dan mengalami kegamangan paradigma dari KepMendiknas no. 045/U/2002 tentang Kurikulum inti pendidikan tinggi (Content Transmission Paradigm) berpindah ke Competency-Based Paradigm. Kedua Profil aktual penyelenggaraan Pendidikan Akademik S-1 Bimbingan dan Konseling pada tiap-tiap LPTK sampel bervariasi. Pengembangan Kurikulum S-1 Bimbingan dan Konseling menunjukkan kesenjangan yang sama dari standar yaitu tampil zig-zag dan mengalami kegamangan paradigma baik di LPTK 1 2 3 maupun di LPTK 4. Kurikulum S-1 yang dikembangkan oleh empat LPTK belum menggambarkan sosok utuh kompetensi konselor sehingga kurikulum yang sedianya berbasis kompetensi diplesetkan menjadi Koyo Biyen Kae . Proses pembelajaran konseling yang diharapkan belum sepenuhnya menggelar pengalaman belajar dengan menskenariokan 3 domain pembelajaran yang mampu memicu dan memacu mahasiswa untuk berfikir sehingga berdampak mendidik. Penyelenggaraan asesmen cukup wajar hanya di LPTK 2 saja yang tidak sesuai dengan standar Sistem Kredit Semester (SKS) sebagaimana dirujuk oleh LPTK-LPTK lain. Adapun semua LPTK sampel belum merespon penumbuhan dan pemeliharaan good-practicess dalam budaya hirau mutu. Terakhir ditemukan perbedaan di antara keempat LPTK seperti LPTK 1 rujukan pengembangan kurikulum menggunakan Benchmarking Malaysia. Standar baku tersebut pada dasarnya tidak sesuai dengan hakikat penyelenggaraan Pendidikan Akademik S-1 Bimbingan dan Konseling di Indonesia (ABKIN 2007). Di samping itu LPTK 1 memperluas wilayah layanan di luar Nieche-nya yaitu layanan Bimbingan dan Konseling Perkembangan dan Bimbingan dan Konseling Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Berbeda dengan LPTK 2 memiliki ciri khas dalam memberikan kewenangan tambahan bersertifikat kepada lulusannya (pra-ABKIN) setara dengan menempuh matakuliah Universiter Kependidikan (UNK). Penganugerahan kewenangan tersebut dalam bentuk Sertifikat Akta IV tidak sama dan sebangun dengan sertifikat yang diberikan setelah mengikuti PPK yaitu Brevet Konselor yang merupakan Gelar Profesi (ABKIN 2007). Penyelenggaraan asesmen di LPTK 2 ditemukan berlebihan dalam menetapkan standar kelulusan seperti pada iv matakuliah Praktik Teknik Keterampilan Dasar Konseling sehingga berdampak merugikan mahasiswa karena mereka harus mengulang sampai lulus dan tidak jarang terjadi mahasiswa menempuh sampai semester berikutnya. Temuan khas di LPTK 3 yaitu terlambat hadir kuliah dianggap wajar oleh mahasiswa sehingga budaya akademik tersebut mengganggu keberlangsungan transaksi pembelajaran yang digelar oleh dosen. Selanjutnya temuan di LPTK 3 yang berbeda dengan tiga LPTK lainnya adalah penumbuhan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat khas dari pemakai layanan dalam rangka memasuki Nieche DKI (HELTS 2003 2010) tanpa meninggalkan fitrahnya sebagai Program studi S-1 Bimbingan dan Konseling yang lulusannya tetap mengemban amanat untuk menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling yang meman-dirikan sesuai standar NA PPPK (ABKIN 2007). Sedangkan rujukan proses pengembangan Kurikulum S-1 Bimbingan dan Konseling di LPTK 4 dicederai oleh need-assessment pasca ABKIN. Lazimnya sumber informasi dalam penilaian kebutuhan layanan adalah kepuasan pemakai layanan (customer satisfaction) bukan dosen dan pimpinan jurusan. Prosedur pengembangan kurikulum tersebut jelas telah meninggalkan fitrahnya sebagai Competency-Based Curriculum serta meninggalkan standar NA PPPK yang bersifat akademik profesional. Berangkat dari pengalaman dan terus dikembangkan oleh Program Studi S-1 Bimbingan dan Konseling LPTK 4 bahwa proses pembelajaran pada tahap yang bisa dicapai oleh para dosen adalah terampil menggunakan peralatan laboratorium yang tersedia. Demikian mereka membelajarkan mahasiswa agar dapat menggunakan peralatan laboratorium untuk memproduksi media sambil merefleksi pengalaman praktik yang tengah dijalaninya. Sisi kelemahan di LPTK 4 ditemukan dalam praktik kurang terejawantahkan dalam pembelajaran konseling. Berdasarkan temuan penelitian sebagaimana dipaparkan di atas maka diajukan beberapa saran rekomendasi berikut. Pertama kepada LPTK sampel segera meninggalkan Content Transmission Paradigm ke arah Competency-Based Curriculum. Kepada para dosen dan pimpinan Jurusan Bimbingan dan Konseling yang merupakan jajaran ABKIN di tiap-tiap LPTK segera bergegas mengasah diri untuk menghasilkan Kurikulum S-1 dan Pendidikan Profesi yang lazim diseleng-garakan Pasca S-1. Kedua kepada tiap-tiap LPTK 1 2 3 dan 4 dalam mengem-bangkan kurikulum S-1 Bimbingan dan Konseling harus mengacu kepada standar NA PPPK. Sedangkan proses pembelajaran yang dikembangkan oleh setiap LPTK yang sudah mendekati standar terus dikembangkan sesuai dengan standar NA PPPK. Terakhir Kepada ABKIN sebagai pengawal mutu layanan bimbingan dan konseling yang memandirikan harus konsisten dengan NA PPPK. Selain standar kompetensi lulusan yang dirumuskan ABKIN perlu menambahkan good practicess dalam rangka menumbuhkan dan memelihara budaya hirau mutu (Quality Cultural Care). Sebagai asosiasi profesi ABKIN harus menyebarluaskan kerangka pikirnya kepada semua LPTK di tanah air. Temuan penelitian ini merupakan informasi awal yang harus ditindaklanjuti oleh ABKIN melalui penelitian serupa secara nasional agar terjaring rekam jejak kurikulum dan implementasinya secara komprehensip. Dalam mewujudkan profesionalitas konselor ditempuh melalui Pendidikan Profesi Konselor. Sedangkan pendidik konselor jika latar akademiknya S-1 Bimbingan dan Konseling serta S-1 bukan Guru (TEP Manajemen dan PLS) maka perlu menempuh program penyetalaan. ABSTRACT Nur Hidayah 2009. Process-Audit in Academic Education of S-1 Guidance and Counseling Program. Dissertation Guidance and Counseling Program Graduate School of the State University of Malang. Advisor (I) Prof. Dr. T. Raka Joni M.Sc. as Chief Promoter (II) Dr. Dhany M. Handarini M.A. as Promoter I and (III) Dr. Marthen Pali M.Psi. as Promoter II. Keywords academic education of graduates S-1 guidance and counseling process-audit countenance-model NA PPPK. Pre-service Counselor Professional Education that are two phases (1) Academic Education phase and (2) Professional Education phase. Academic Education phase is foundation form academic competencies that end in certificate of qualification awarding of Guidance and Counseling Bachelor Degree. Whereas Counselor Profession Education is a program to train the applying of academic skill in Guidance and Counseling field in authentic context in court with mechanism of effective supervision. The Academic Education of S-1 Guidance and Counseling in practice nowadays is found destructions in organization of healthy both from inside which grown by LPTK itself and also from outside which grown by Government Regulatory No. 27 tahun 1981 and UU No. 14 tahun 2005. The destructions found are traced through Process-Audit. The aims of research in detail are (1) describes LPTK combined profile in academic education of Guidance and Counseling of graduates S-1 program (2) describes each LPTK profile in academic education of Guidance and Counseling of graduates S-1 program and (3) knowing the gap between standard and reality in academic education of Guidance and Counseling of graduates S-1 program in LPTK. This evaluative research with Process-Audit using Counselor Professional Education Standard (ABKIN 2007) as a criterion used to determine judgement in program using research plan that is from the Countenance Model-Robert Stake. The research uses blended methods which are qualitative and quantitative methods. The research is held in semester I 2008/2009 with three research sample that are (1) data sample (2) institution sample and (3) time sample. The institution sample involves 4 LPTK that are LPTK 1 2 3 and 4. The determination of institution sample conducted purposively with purposive sampling technique from all of LPTK which fulfill the criteria such as (a) Guidance and Counseling of graduates S-1 program ex-IKIP (b) the holder of Guidance and Counseling bachelor program which never been phased out by Directorate General of Higher Education. Data collecting instrument uses questioner documentation observation and interview. The research data sources or subject research are leader lecturer laboratories technician and student. Collected data research is analyzed with qualitative and quantitative techniques. Quantitative analysis uses modified comparative analysis and constant comparative analysis. Qualitative analysis uses Experiential Learning (Davis Kolb 1984) so that produce content analysis LPTK 1 2 3 and 4. The result of research indicated that First sample LPTK combined profile about reconstruction of academic education Guidance and Counseling of graduates S-1 program that attached to Naskah Akademik Penataan Pendidikan Profesional Konselor (ABKIN 2007). Among the five focuses that are much closer to the standard is the third focus which is learning process as curriculum implementation. On the other side focus 1 2 4 and focus 5 are far away from the standard. In particular development of curriculum appears zig-zag from KepMendiknas no. 045/U/2002 about high education core curriculum that moves to Competency-Based Paradigm that is the final thing is the curricular material supplies and to experience indecisiveness paradigm (kegamangan paradigmatik) in LPTK. Second Reconstruction of process in actual profile each LPTK be varied. Development of Guidance and Counseling of graduates S-1 program curriculum shows the same gap from the standard that is appears zig-zag and experiences indecisiveness paradigm (kegamangan paradigmatik) both in LPTK 1 2 3 and also in LPTK 4. Bachelor curriculum developed by 4 LPTK has yet to describe a full counselor competition so that it should be based competition becomes koyo biyen kae . Means no different with Content Transmission Paradigm. Counseling learning process hoped is not fully holds learning experience by directing 3 learning domains that are capable to trigger and motivate student to think so that it affects to teach. Assessment performance is only fair enough in LPTK 2 which wounds SKS standard as referred by other LPTK. Whereas all LPTK have yet to respond the growing and maintenance of good-practices in quality culture care. The Last having been found the differences between 4 LPTK such as LPTK 1 curriculum development references uses Malaysia Benchmarking. That standard basically is not appropriate with academic education in Guidance and Counseling bachelor program in Indonesia (ABKIN 2007). Besides LPTK 1 broadens its service area outside its Nieche which is service of Development Guidance and Counseling and Guidance and Counseling Student with Special Need (ABK). Different with LPTK 2 that has specifically in giving certified additional rights to its graduated (pra-ABKIN) same with get UNK lessons. Giving that right in form of certificate AKTA IV is not similar with certificate given after following PPK which is Counselor Brevet which is Profession Degree (ABKIN 2007). Assessment performance in LPTK 2 found too much in determining graduation standard of Counseling Basic Skill Technique Practices lesson so that it affects not too profitable for student because they must repeat until accomplished and continued until the next semester. More specifically in LPTK 3 that is late lecture is considered as fair behavior by the students so that academic culture bothers the going concern of learning transaction made by their lecturers. The new result in LPTK 3 is skill growing to fulfill the need which has special characteristic from its services user within entry DKI Nieche (HELTS 2003-2010) without abandoning its originality as guidance and counseling bachelor program which its graduated still bring mandate to perform Guidance and Counseling services that autonomies according to Profession Association direction (ABKIN). Whereas development process references of Guidance and Counseling Bachelor Curriculum at LPTK 4 was being stained by need-assessment pasca ABKIN. Formally information sources in services need judgement is Costumer Satisfaction neither lecturer nor department leader. Development procedure of curriculum obviously has left its originality as Competency-based Curriculum and leaving direction NA standard PPPK which has professional academic characteristic as well. Capitalized with experience and keep being developed by LPTK 4 Guidance and Counseling Bachelor Degree learning process in achieved stage by lecturers is capable in using available laboratories equipments. Therefore they teach students to use laboratory equipments to produce media while reflecting practicing experience that they have been doing right the way. Even though it is found the other weakness side in practice which is lack of being implemented in counseling learning. Based on the result of research as explained above there are several recommendations as follows. First to general LPTK leaving soon Content Transmission Paradigm toward Curriculum Based Competency. For lecturers and Department Leader of Guidance and Counseling who are ABKIN in each LPTK to sharpen themselves to produce Profession Education and Bachelor Degree Curriculum soon that is formal held pasca S-1. Second in each LPTK 1 2 3 and 4 in developing Guidance and Counseling Bachelor Degree Curriculum must refer to NA standard PPPK. Whereas learning process developed by each LPTK has been closed to the standard that keeps to be developed until appropriate to NA standard PPPK. Last to ABKIN as a quality guide of guidance and counseling services that being autonomy must be consistent with NA PPPK. Besides graduated competency standards which was formulated ABKIN should add good practices within grow and maintain quality cultural care. As a profession association ABKIN must broaden its frame thought to all LPTK in this country. The result of research is beginning information that has to be even identified and followed up by ABKIN through the same research nationally so that can be traced its curriculum track record and its implementation comprehensively. To create counselor professionalism therefore must get Counselor Profession Education first. Whereas for counselor guider if their academic background is Guidance and Counseling S-1 program and not Teacher S-1 Program (TEP MPD and PLS) then fine tuning should be made. viii

Item Type: Thesis (Doctoral)
Subjects: ?? ??
Divisions: Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) > Departemen Bimbingan dan Konseling (BK) > S3 Bimbingan dan Konseling
Depositing User: library UM
Date Deposited: 11 Feb 2010 04:29
Last Modified: 09 Sep 2010 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/63490

Actions (login required)

View Item View Item