Potret ketidakadilan pemerintah dalam novel namaku alam karya Leila S. Chudori (kajian hegemoni antonio gramsci) / Salma Nisa Syaidina Al Aziz</p> - Repositori Universitas Negeri Malang

Potret ketidakadilan pemerintah dalam novel namaku alam karya Leila S. Chudori (kajian hegemoni antonio gramsci) / Salma Nisa Syaidina Al Aziz</p>

Aziz, Salma Nisa Syaidina Al (2025) Potret ketidakadilan pemerintah dalam novel namaku alam karya Leila S. Chudori (kajian hegemoni antonio gramsci) / Salma Nisa Syaidina Al Aziz</p>. Diploma thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

p Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan pada sistem hukum di Indonesia disinyalir masih kurang menjadi tameng pelindung bagi warga negara Indonesia. Sebagai pemegang kekuasaan tidak disadari bahwa acapkali pemerintah menggunakan kekuasaan tersebut sebagai tangan-tangan mereka dalam menghegemoni masyarakat. Penulis sejarawan dan masyarakat Indonesia sering mendapatkan pembungkaman ketika mengkritik kinerja pemerintah dengan berbagai cara dan berbagai siasat. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak penulis sejarawan juga masyarakat yang tak gentar menyerukan ketidakadilan yang mereka dapati. Penelitian ini berfokus pada praktik hegemoni yang dilakukan oleh pemerintah dalam novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori. Praktik hegemoni tersebut dilandasi oleh teori hegemoni milik Antonio Gramsci yang berfokus pada bagaimana negara mengelola sistem di masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan konsentrasi teori pada Hegemoni Antonio Gramsci. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang mengedepankan hasil berupa kata frasa dengan peneliti sebagai instrumen penelitian. Rancangan penelitian ini yang pertama adalah menentukan objek penelitian. Objek formal dalam penelitian ini adalah potret ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah. Objek material dalam penelitian ini adalah novel Namaku Alam. Rancangan kedua adalah menentukan teori yang relevan yang mampu digunakan sebagai pisau bedah untuk membongkar isu-isu yang terjadi di novel Namaku Alam. Teori besar yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori hegemoni yang dicetuskan oleh Antonio Gramsci. Tahap ketiga adalah menentukan rumusan masalah. Problem apa saja yang menjadi landasan penelitian ini berlangsung dan bagaimana cara memecahkannya. Dalam penelitian ini terdapat tiga rumusan masalah yang diteliti. Setelah selesai merumuskan masalah tahap selanjutnya adalah mencari data yang relevan dengan rumusan masalah dan berkesinambungan dengan teori hegemoni dari Antonio Gramsci. Tahapan terakhir dalam perancangan penelitian ini adalah menganalisis data mentah yang telah ditemukan melalui berbagai rangkaian metode penelitian yang telah digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat bentuk hegemoni kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah dan diselipi juga dengan hegemoni persuasi. Didapati kategori hegemoni itu terjadi karena kesepakatan (konsensus) dari masyarakat yang didasari karena rasa takut akan konsekuensi jika tidak menerima praktik hegemoni tersebut. Lantas ditemukan juga bahwa tingkatan hegemoni pemerintah disinyalir masuk ke dalam tingkatan hegemoni merosot. Selain bentuk dampak terkait kondisi mental serta kehidupan sosial para tokoh yang diduga sebagai korban dari praktik hegemoni ditemukan dalam hasil penelitian ini. Hasilnya rasa trauma yang dimiliki tokoh akibat praktik hegemoni tersebut terbagi menjadi situasi mental yang stabil dan mental yang cenderung tidak stabil. Serta ketidakadilan dari lingkungan diskriminasi sosial serta pandangan masyarakat terhadap keturunan tapol menjadi hasil dari dampak kehidupan sosial tokoh yang diduga sebagai korban dari praktik hegemoni. Terakhir peran institusi (sekolah) terhadap praktik hegemoni Pemerintah terbagi menjadi dua kategori. Sekolah yang menerima praktik hegemoni tersebut dan sekolah yang menolak praktik hegemoni tersebut. Berdasarkan rangkuman hasil di atas dapat ditarik kesimpulan dari penelitian ini bahwa pemerintah termasuk ke dalam kelas diktator karena menggunakan kekeran dan paksaan saat memerintah negara Indonesia dalam novel Namaku Alam. Pemerintah dengan sengaja membungkam seluruh suara yang hendak mengkritiknya dengan mengeluarkan konsekuensi-konsekuensi yang akan diterima masyrakat jika tidak mau menurutinya. Hal ini berdampak pada hilangnya kebebasan berpendapat warga Indonesia serta ketidakadilan yang didapati warga. Tentu saja hal ini tidak sesuai dengan ideologi pancasila yang sudah disepakati sejak Indonesia meredeka tahun 1945. Leila S. Chudori sebagai penulis dari novel Namaku Alam berhasil merangkum dengan epik point of view dari para keturunan tapol yang hidupnya sengsara akibat pemerintah. Menarik dari dua novel Laila sebelumnya yang berjudul Pulang (2012) dan Laut Bercerita (2017) lantas saat ini Namaku Alam (2023) dapat dilihat bahwa Leila masih ingin terus memperjuangkan hak-hak lsquo mereka rsquo yang secara paksa dihilangkan oleh pemerintah Orde Baru. /p

Item Type: Thesis (Diploma)
Divisions: Fakultas Sastra (FS) > Departemen Sastra Indonesia (IND) > S1 Bahasa dan Sastra Indonesia
Depositing User: library UM
Date Deposited: 10 Feb 2025 04:29
Last Modified: 09 Sep 2025 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/420488

Actions (login required)

View Item View Item