Mitos lelaki ideal dalam novel mustika zakar celeng karya Adia Puja / M. Isnaini Wijaya</p> - Repositori Universitas Negeri Malang

Mitos lelaki ideal dalam novel mustika zakar celeng karya Adia Puja / M. Isnaini Wijaya</p>

Wijaya, M. Isnaini (2025) Mitos lelaki ideal dalam novel mustika zakar celeng karya Adia Puja / M. Isnaini Wijaya</p>. Diploma thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

p Standar lelaki ideal telah merebak dan diikuti oleh beberapa masyarakat. Padahal standar tersebut hanyalah konstruksi kolektif atau konvensional. Lelaki ideal tidak bisa diukur dengan alat ukur tertentu atau dalam narasi lain lelaki ideal bersifat relatif dan bergantung pada selera masing-masing personal. Itulah yang menyebabkan konsep lelaki ideal senantiasa berubah. Akan tetapi pada kenyataannya masyarakat menganggap bahwa lelaki ideal memiliki ukuran tertentu. Karena mistar keidealan tersebut dikonstruksi lalu diletakkan di tempat atau periode tertentu dan diikuti oleh masyarakat lain ia tidak sekadar konsep keidealan semata melainkan telah menjadi mitos. Oleh karena itu sastra sebagai media yang mampu meresapi realitas menunjukkan bagaimana manusia menyepekati mitos lelaki ideal tersebut. Bersetuju dengan fenomena lelaki ideal yang dipaparkan di atas mendeskripsikan bentuk mitos lelaki ideal dan perilaku untuk menjadi ideal dalam novel Mustika Zakar Celeng karya Adia Puja menjadi tujuan utama penelitian ini. Mustika Zakar Celeng menampilkan heroisme laki-laki yang seolah-olah disengaja oleh Adia Puja untuk memberikan mistar seperti apa laki-laki sejati itu. Dua tokoh laki-laki yaitu Tobor dan Bentol masing-masing memenuhi aspek maskulinitas yang dirumuskan oleh Janet Saltzman Chafetz. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan konsentrasi teori maskulinitas Janet Saltzman Chafetz.Chafetz mengelompokkan tujuah area maskulinitas secara fisik fungsional seksual emosional intelektual interpersonal dan karakter pribadi lainnya. Sementara semiotika Roland Barthes digunakan sebagai alat analisis untuk mendedah mitos yang tersembunyi dalam tanda linguistik pada novel. Pendekatan kualitatif dipilih karena menyesuaikan dengan kebutuhan penelitian yang menekankan pada kedalaman penafsiran. Teori maskulinitas Janet Saltzman Chafet dipilih karena Chafetz merumuskan tujuh area maskulinitas berdasarkan aspek psikologi. Hal tersebut sejalan dengan konflik yang dihadapi tokoh dalam Mustika Zakar Celeng yang lebih psikologikal. Sementara semiotika Roland Barthes digunakan sebagai alat analisis karena kebutuhan penelitian ini berupaya untuk menunjukkan bentuk mitos manusia modern dan semiotika Barthes menawarkan metode yang jelas dalam mendedah mitos. Data penelitian ini adalah kalimat yang terdapat pada sumber data yaitu novel Mustika Zakar Celeng karya Adia Puja. Novel Mustika Zakar Celeng adalah peraih predikat Menarik Perhatian Dewan Juri pada Sayembara Novel DKJ 2021 sehingga atas dasar hal itu mutu kesastraan dalam novel ini tak perlu diragukan. Data dikumpulkan dengan teknik baca dan catat. Peneliti membaca keseluruhan novel dan mencatat beberapa tanda bahasa yang dicurigai menyembunyikan mitos lelaki ideal. Sebagai alat analisis dalam penelitian peneliti menggunakan teknik analaisis interaktif dari Miles dan Huberman yaitu reduksi data interpretasi data dan penarikan kesimpulan. Ketiganya dilakukan secara berurutan dan berulang untuk memastikan validitas data. Hasil penelitian ini menunjukkan dari tujuh area maskulinitas yang ditawarkan Chafetz enam di antaranya direpresentasikan oleh tokoh Tobor dan Bentol yaitu (1) fisik (2) fungsional (3) seksual (4) emosional (5) inetelektual dan (6) interpersonal. Dari enam area maskulinitas tersebut Tobor gagal pada wilayah seksual. Sementara Bentol berhasil dalam wilayah seksual tetapi dalam aspek lain tak terlalu ditunjukkan. Keenam bentuk maskulinitas tersebut harus dipenuhi oleh tokoh laki-laki untuk bisa dikatakan sebagai lelaki ideal. Dalam beberapa kasus mitos lelaki ideal menjadikan laki-laki bersikap positif tetapi di lain sisi juga merugikan. Untuk dapat memuaskan istrinya misalnya Tobor harus pergi ke alas Leuweung Heum dan meminta bantuan kekuatan supranatural. Setelah itu pun Tobor haru menanggung kesedihan karena istirnya justru memilih lelaki lain. Seturut pemaparan keseluruhan penelitian di atas dapat disimpulkan jika novel Mustika Zakar Celeng mengekalkan mitos manusia modern utamanya dalam mitos lelaki ideal meski aspek maskulinitas tak terpenuhi semuanya bukan berarti laki-laki tidak dianggap ideal seksual menjadi level tertinggi dalam indikator lelaki ideal mitos lelaki ideal lebih banyak mendatangkan cela dan sengasara. /p

Item Type: Thesis (Diploma)
Divisions: Fakultas Sastra (FS) > Departemen Sastra Indonesia (IND) > S1 Bahasa dan Sastra Indonesia
Depositing User: library UM
Date Deposited: 05 Jun 2025 04:29
Last Modified: 09 Sep 2025 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/420326

Actions (login required)

View Item View Item