Pengembangan bahan ajar IPA SD kelas VI pada materi pokok energi listrik dengan menggunakan media grafis / Fitri Miftahul Jannah - Repositori Universitas Negeri Malang

Pengembangan bahan ajar IPA SD kelas VI pada materi pokok energi listrik dengan menggunakan media grafis / Fitri Miftahul Jannah

Miftahul, Fitri (2009) Pengembangan bahan ajar IPA SD kelas VI pada materi pokok energi listrik dengan menggunakan media grafis / Fitri Miftahul Jannah. Diploma thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

Pendidikan merupakan faktor utama dalam membentuk kepribadian seseorang. Pendidikan sangat berperan membentuk baik dan buruknya sifat atau kepribadian seseorang. Pada UU RI SISDIKNAS Nomor 20 Tahun 2003 juga telah dijelaskan bahwa manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat . Pendidikan juga merupakan sesuatu yang fundamental dalam mencetak sumber daya manusia yang berintelektual tinggi dan mampu menjawab tantangan di masa yang akan datang. Hasil belajar seseorang ditentukan oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang ada di luar individu adalah tersedianya bahan ajar yang memberi kemudahan bagi individu untuk mempelajarinya sehingga menghasilkan belajar yang lebih baik. Berdasarkan alasan tersebut maka pemerintah sangat fokus dalam menangani masalah dunia pendidikan dengan maksud agar tercipta generasi yang unggul dan berkualitas. Berbagai cara telah dilakukan untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan nasional salah satu cara yang dilakukan pemerintah yaitu dengan melakukan pembaharuan kurikulum. Perubahan kurikulum yang dilakukan adalah dengan memperbaharui Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun di masing-masing satuan pendidikan (Darmawan dan Nursalim 2006 2). Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) guru harus mempunyai kemampuan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif pada pembelajaran. Namun pada prakteknya di lapangan pembelajaran yang terjadi di Indonesia banyak yang masih bersifat tradisional apalagi pada sekolah-sekolah yang berada di daerah pinggiran. Sarana dan prasarana yang tersedia sangat minim. Selain itu mereka sama sekali belum terjamah oleh teknologi. Siswa yang bersekolah rata-rata berasal dari keluarga menengah ke bawah. Sehingga guru hanya memanfaatkan buku sebagai media dalam pembelajaran. Selain itu guru juga masih banyak yang menggunakan metode belajar tradisional yaitu metode ceramah. Pada pembelajaran tradisional siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru di kelas. Mayoritas siswa menilai bahwa belajar di kelas adalah kegiatan yang membosankan. Pada pembelajaran dengan metode ceramah guru memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar. Akibatnya di kelas hanya terdapat interaksi satu arah yaitu guru kepada murid (teacher centered). Kondisi seperti itu membuat siswa menjadi kurang kreatif dan siswa memilki daya penalaran yang rendah. Nurhadi dkk (2004 3) menyatakan bahwa siswa memiliki kesulitan untuk memahami konsep akademik seperti yang dialami oleh siswa selama ini yaitu menggunakan konsep yang abstrak dengan metode ceramah. Menurut Grinder dalam Silberman dari tiap 30 siswa 22 diantaranya rata- rata dapat belajar efektif selama gurunya menghadirkan kegiatan belajar yang berkombinasi antara visual auditori dan kinestetik. sedangkan menurut Tony Stockwell dalam Gunawan menyebutkan bahwa To learn anything fast and effectively you have to see it hear it and feel it. Yang artinya untuk dapat belajar dengan cepat dan efektif kamu harus melihat menengar dan merasakannya. IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia. Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan Teknologi karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan minat manusia serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemahaman tentang alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan masih bersifat rahasia sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap materi pelajaran mempunyai sifat masing masing. Materi IPA akan berbeda dengan konsep pembelajaran matematika maupun bahasa. Matematika dengan sifat materinya yang abstrak memerlukan bahan ajar yang mampu membuat lebih kongkrit. Sedangkan untuk materi IPA yang umumnya gejalanya dapat dikenali oleh panca indera memerlukan bahan ajar yang membuat siswa mampu mengungkap gejala alam yang ada di sekitar mereka dan menganalisisnya menjadi suatu pengertian atau konsep yang utuh. Kenyataan yang terjadi di Indonesia mata pelajaran IPA tidak begitu diminati dan kurang diperhatikan. Apalagi melihat kurangnya pendidik yang menerapkan konsep IPA. Permasalahan ini terlihat pada cara pembelajaran IPA serta kurikulum yang diberlakukan sesuai atau malah mempersulit pihak sekolah dan siswa didik masalah yang dihadapi oleh pendidikan IPA sendiri berupa materi atau kurikulum guru fasilitas peralatan siswa dan komunikasi antara siswa dan guru. Berdasarkan survey di lapangan kegiatan pembelajaran belum sepenuhnya berpusat pada siswa kemampuan siswa berdiskusi dalam kelompok masih rendah keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah oleh siswa masih rendah daya cipta dan kreativitas siswa belum menunjukkan hasil karya yang memadai belum tampak dengan jelas kemandirian siswa dalam belajar kemampuan dan keterampilan siswa melakukan percobaan IPA masih rendah. Menurut penelitian International Education Achievement (IEA) kemampuan membaca siswa SD di Indonesia menempati urutan 30 dari 38 negara. UNDP Human Development Index tahun 2002 dan 2003 berurutan menempati urutan 110 dari 173 dan 112 dari 175 negara. Bagaimana menemukan cara terbaik untuk menyampaikan berbagai konsep yang diajarkan di dalam mata pelajaran tertentu sehingga semua siswa dapat menggunakan dan mengingatnya konsep tersebut lebih lama Oleh sebab itu perlu segera dikembangkan bahan ajar yang sistematis untuk menunjang kegiatan belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan bahan ajar pada mata pelajaran IPA Kelas V I Semester II. Peneliti hanya mengembangkan bahan ajar pada materi pokok energi listrik. Adapun pertimbangan yang mendasari peneliti meneliti di SDN Ketandan II adalah dari hasil observasi diperoleh informasi bahwa sekolah tersebut berada di desa pembelajaran belum didukung dengan media-media yang canggih. Untuk pembelajaran IPA pada sekolah tersebut hanya menggunakan 1 buah literatur dan LKS sebagai sumber belajar siswa. Para siswanya pun kurang berminat dalam hal membaca. Karena literatur yang dipergunakan dirasa kurang menarik. Dan hasil interview menyatakan bahwa guru hanya menggunakan metode ceramah dalam mengajarkan materi IPA sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan uraian yang telah disampaikan di atas maka diperlukan penelitian untuk mengembangkan bahan ajar yang diharapkan dapat membantu siswa agar lebih cepat memahami konsep belajar IPA dan untuk dapat meringankan tugas guru dalam melaksanakan pembelajaran. Diantara beberapa materi pokok IPA SD maka dipilih materi Energi Listrik sebagai fokusnya. Untuk itu dalam penelitian ini peneliti mengambil judul Pengembangan Bahan Ajar IPA SD Kelas VI pada Materi Pokok Energi Listrik dengan Menggunakan Media Grafis .

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: ?? ??
Divisions: Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) > Departemen Teknologi Pendidikan (TEP) > S1 Teknologi Pendidikan
Depositing User: library UM
Date Deposited: 23 Oct 2009 04:29
Last Modified: 09 Sep 2009 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/944

Actions (login required)

View Item View Item