Zahro', Azizatuz (2025) Membaca ideologi penulis dalam karya sastra. In: Studi Interdisipliner Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran: Teoretik, Metodologik, dan Analitik. Shandira Edutama, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pp. 161-174. ISBN 978-634-04-1768-5
|
Text
fullteks.pdf Download (1MB) |
Abstract
ahuluan Konsep ideologi semakin mendapat perhatian dalam ilmu sosial, termasuk dalam kajian sastra (Fagerholm, 2016). Istilah ideologi dalam sastra telah lama menjadi elemen sentral dalam kritik Marxis, terutama dalam pendekatan Althusserian. Gagasan mengenai ideologi, sebagaimana dikemukakan dalam teori pertama dan kedua Althusser, memiliki dampak yang besar terhadap perkembangan kritik serta teori sastra (Moriarty, 2006). Setiap karya sastra mengandung ideologi yang merefleksikan pandangan penulis terhadap berbagai aspek kehidupan, seperti budaya, sosial, ekonomi, dan agama. Ideologi dalam sastra tidak hanya menggambarkan perspektif pengarang, tetapi juga berperan dalam membentuk cara berpikir pembaca agar selaras dengan gagasan atau kecenderungan ideologis yang ingin disampaikan pengarang (Suhandra, 2019). Ada berbagai macam cara untuk menjabarkan hubungan sastra dengan ideologi. Karya sastra sering dilihat sebagai suatu bentuk filsafat atau sebagai pemikiran yang terbungkus dalam bentuk khusus. Dengan demikian, karya sastra sering dianalisis untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran hebat yang ada di dalamnya. Kehadiran ideologi dalam sastra berfungsi sebagai sarana untuk menawarkan perubahan, memperbaiki tatanan yang telah ada, atau bahkan merevolusi kebiasaan yang telah mengakar dalam Masyarakat (Rohim, 2010). Karya sastra memang dapat dianggap sebagai dokumen sejarah pemikiran dan filsafat penulis, bahkan masyarakat. Banyak pihak menilai sejarah sastra sejajar dan mencerminkan sejarah pemikiran. Wellek dan Warren (1995:135) menyebutkan secara langsung atau melalui alusi-alusi dalam karyanya, kadang-kadang pengarang menyatakan bahwa ia menganut aliran filsafat tertentu, mempunyai hubungan dengan paham-paham yang dominan pada zamannya atau paling tidak mengetahui garis besar ajaran paham-paham tersebut. Oleh karena itulah, sastra bukan hanya semata karya imajinatif. Sastra tidak berangkat dari sebuah ruang kosong. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hamparan kisah, tetapi juga menyelipkan pertarungan ideologi dalam konflik dan alur yang disajikan. Walau hanya bersifat fiksi, namun seringkali kisah fiksi lebih membekas daripada nonfiksi. Sebagai wacana, karya sastra tidak berbeda dengan teks-teks yang lain yang selalu hadir dalam dialektika teks dan kontekstualitas, yaitu karya sastra merupakan representasi ideologi pengaranganya dalam mempersepsi kelompok sosial masyarakat.
| Item Type: | Book Section |
|---|---|
| Subjects: | P Language and Literature > PIN Indonesian Literature |
| Divisions: | Fakultas Sastra (FS) > Karya Dosen FS |
| Depositing User: | Library UM |
| Date Deposited: | 01 Oct 2025 00:28 |
| Last Modified: | 01 Oct 2025 00:28 |
| URI: | http://repository.um.ac.id/id/eprint/5674 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
