Yudistira (2025) Dari pendudukan hingga perampasan lahan: konflik agraria di wilayah perkebunan lereng selatan kelud, Blitar 1945-1965 / Yudistira</p>. Diploma thesis, Universitas Negeri Malang.
Full text not available from this repository.Abstract
p Tulisan ini dilatarbelakangi banyaknya konflik agraria kontemporer yang telah menjadi isu berkepanjangan di perkebunan yang berada di wilayah lereng selatan Kelud Blitar. Penelitian ini berupaya mengungkap akar konflik tersebut dengan menelusuri fenomena pendudukan dan perampasan lahan yang telah muncul sejak awal kemerdekaan. Penulis menggunakan metode sejarah yang terbagi dalam lima tahapan meliputi pemilihan topik heuristik verifikasi interpretasi dan historiografi dengan melakukan pembacaan mendalam dan interpretasi terhadap beberapa sumber seperti arsip koran dan majalah. Dengan menggunakan pendekatan ekonomi-politik Karl Marx penelitian ini menganalisis konflik sebagai bentuk akumulasi primitif yakni proses historis yang memisahkan petani dari alat produksinya demi memperluas kapitalisme di sektor agraria. Penelitian ini berusaha menjawab beberapa persoalan yaitu pertama bagaimana dan transisi penguasaan lahan perkebunan di wilayah lereng selatan Gunung Kelud yang berlangsung dari masa perang hingga awal kemerdekaan. Kedua apa saja faktor-faktor yang mendorong terjadinya pendudukan lahan oleh masyarakat serta adanya perlawanan terhadap perusahaan perkebunan. Yang ketiga riset ini juga menyoroti dampak kebijakan nasionalisasi dan perubahan politik pasca-1965 terhadap penguasaan lahan di wilayah ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik agraria ini terjadi sebagai akibat dikembalikannya hak erfpacht perkebunan kepada perusahaan kolonial. Masyarakat yang diorganisir gerakan kiri kemudian melakukan pendudukan lahan dan menuntut legalisasi atas lahan perkebunan tersebut. Namun kebijakan nasionalisasi yang bertujuan untuk menghapus dominasi kolonial mdash justru membuka peluang bagi militer dan pengusaha lokal untuk merampas lahan yang telah diduduki oleh masyarakat. Reclaiming lahan perkebunan di wilayah ini terus berlanjut dan semakin masif setelah 1965 dimana isu politik digunakan untuk menghilangkan hak kepemilikan petani dengan tuduhan bahwa mereka terlibat dalam gerakan kiri. Pada saat yang bersamaan berkembang komunikasi imajiner yang menyatakan bahwa perkebunan-perkebunan diawasi oleh militer karena diduga terdapat hantu-hantu komunis yang berkeliaran di sekitarnya. Akibatnya banyak masyarakat yang ketakutan dan pada akhirnya kehilangan akses terhadap tanah mereka sementara lahan-lahan perkebunan tersebut beralih ke perusahaan-perusahaan perkebunan yang memperoleh Hak Guna Usaha (HGU). Hal ini juga sejalan dengan kebijakan agraria pemerintah Orde Baru yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi melalui ekspansi perkebunan besar berbasis kapitalisme negara dan secara sistematis mengabaikan hak-hak petani. /p
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial (FIS) > Departemen Sejarah (SEJ) > S1 Ilmu Sejarah |
| Depositing User: | library UM |
| Date Deposited: | 02 Jul 2025 04:29 |
| Last Modified: | 09 Sep 2025 03:00 |
| URI: | http://repository.um.ac.id/id/eprint/401566 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
