Mengungkap makna laporan keuangan bagi pelaku UMK(studi etnografi pada UMK street food khas Madura di Kota Malang) / Yuliati</p> - Repositori Universitas Negeri Malang

Mengungkap makna laporan keuangan bagi pelaku UMK(studi etnografi pada UMK street food khas Madura di Kota Malang) / Yuliati</p>

Yuliati (2025) Mengungkap makna laporan keuangan bagi pelaku UMK(studi etnografi pada UMK street food khas Madura di Kota Malang) / Yuliati</p>. Doctoral thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

RINGKASAN Yuliati 2025. Mengungkap Makna Laporan Keuangan bagi Pelaku UMK (Studi Etnografi pada UMK Street Food Khas Madura di Kota Malang). Disertasi. Program Studi Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Heri Pratitkto SE. M. Si (II) Prof. Dr. Puji Handayati SE. MM. Akun. SMA. CSRA (III) Prof. Dr. Agung Winarno M.M Kata Kunci Laporan Keuangan UMKM Makanan Kaki Lima Masyarakat Madura Bisnis Ekonomi Keluarga Penelitian ini membahas peran UMK Street food Khas Madura di Kota Malang dalam menginterpretasikan laporan keuangan untuk pengembangan usahanya. Laporan Keuangan merupakan hal penting untuk menunjukkan perkembangan usaha secara detail dan valid apakah usaha mengalami laba atau kerugian. Pengungkapan makna laporan keuangan yang didalamnya ada laporan laba usaha antara UMK Street Food Khas Madura di Kota Malang beragam. Makna laba bisa diartikan sebagai keberhasilan usaha baik secara finansial maupun non finansial. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi yang mengangkat budaya warga Madura yang merantau ke Kota Malang dalam menginterpretasIkan laba. Mereka membawa ldquo kampung halaman rdquo ke dalam kota satu bungkus nasi dalam daun pisang sebagai simbol migrasi dan adaptasi. Bagi para penjual Nasi Jejen memasak bukan hanya aktivitas ekonomi tetapi juga ritual sosial. Setiap pelanggan adalah ldquo tetangga rdquo dan setiap transaksi memiliki unsur silaturahmi. Ini menciptakan bentuk modal sosial yang kuat dan memperkuat loyalitas pelanggan meski harga terus naik Nasi Bhug menyimpan lapisan identitas yang dalam. Para penjual bukan hanya menjajakan makanan tapi juga merawat budaya. Soto Pagi Duro Markeso meski dari aroma soto yang harum mengugah selera makan akan tetapi sesuangguhnya dalam semangkok soto itu tercermin kemampuan para penjualnya mengatur uang dari membeli bahan memperkirakan laba hingga menyisihkan untuk kebutuhan rumah. Demikian juga dengan penjual bubur campur Madura penjual bubur campur tidak memiliki laporan keuangan dalam bentuk formal. Tidak ada neraca jurnal atau laporan laba rugi. Tapi setiap kali mereka menuang bubur ke mangkuk pelanggan mereka juga sedang menakar keuangan mereka sendiri. Triangulasi data melalui wawancara secara mendalam dengan pelaku usaha makanan khas Madura di Kota Malang dengan kerabat yang membantu usaha serta pelanggan setia diperoleh informasi bahwa kerja keras yang menjadi ciri khas masyarakat Madura ini membuahkan hasil berupa keberhasilan dalam berbisnis yang diwujudkan baik berupa laba finansial maupun non finansial. Laba usaha secara finansial digunakan juga untuk investasi membeli tanah membeli rumah layak huni membeli kendaraan perhiasan membuat pesta pernIkahan mewah untuk anak-anaknya. Sedangkan laba non finansial diartikan sebagai bentuk kepuasan hati yaitu pengaplikasian laba yang diwujudkan dengan pengelolaan usaha bersama keluarga sehingga laba usaha bisa dinikmati oleh seluruh keluarga sehingga ada peningkatan ekonomi rumah tangga. Hasil usaha juga digunakan untuk melaksanakan ibadah ke tanah suci. Inilah bentuk pengaplikasian UMK Street food yang dikelola oleh warga Madura yang urban ke Malang Dimana budaya Madura yang menjunjung tinggi nilai religiusitas dan persaudaraan yang kuat karena tingkat kepercayaan yang tinggi kepada anggota keluarga hal ini sejalan dengan teori modal sosial. Praktik keuangan tradisional dari ingatan ke laba kasar yang diterapkan penjual nasi Jejen. Berdasarkan hasil wawancara dengan penjual Nasi Jejen dari Sumenep ditemukan bahwa meski tidak menyusun laporan keuangan formal mereka memiliki praktik keuangan khas. Kemajuan usaha dari berjualan makanan khas Madura ini semua dilatar belakangi oleh bisnis keluarga sebagai kuliner turun temurun yang mengembangkan usaha Nasi Bhug berawal dari ajakan Ibu Kandungnya untuk membantu usaha. Di balik aroma gurih dan kepulan uapnya tersimpan cerita panjang tentang kerja keras strategi bertahan hidup dan pengelolaan ekonomi rumah tangga. Penjual soto Madura yang tersebar dari warung kaki lima hingga gerobak dorong adalah pelaku ekonomi yang jarang tersentuh data statistik. Bubur Campur Madura penjualnya adalah pelaku UMK yang bekerja sendiri dengan dibantu anaknya serta kerabatnya. Mereka memulai usaha ini bukan dari perhitungan bisnis tapi dari keterampilan yang diwariskan dan kebutuhan ekonomi keluarga. Hal ini sejalan dengan teori bisnis keluarga yang mengajak kerabat untuk membantu usaha dalam berjualan dan hasilnya juga dinikmati oleh seluruh keluarga. Guna mengetahui perkembangan usaha yang sebenarnya diperlukan ketekunan dalam mencatat pemasukan dan pengeluaran secara teratur dari usaha yang dijalankan. Cara sederhana bentuk laporan keuangan yang dibuat oleh UMK memudahkan dalam memperoleh kredit dari Lembaga keuangan sebagai tambahan modal untuk pengembangan usaha baik untuk membuka cabang baru maupun membeli rumah toko atau ruko. Bentuk pengambilan Keputusan Bersama keluarga untuk memperbesar usaha dengan menambah modal melalui peminjaman dana ke Lembaga keuangan.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Divisions: Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) > Departemen Manajemen (MNJ) > S3 Ilmu Manajemen
Depositing User: library UM
Date Deposited: 05 Aug 2025 04:29
Last Modified: 09 Sep 2025 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/391887

Actions (login required)

View Item View Item