Pengembangan model cognitive behavior cyber counseling (cbcc) bermuatan karakter pandawa lima untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa / Richma Hidayati - Repositori Universitas Negeri Malang

Pengembangan model cognitive behavior cyber counseling (cbcc) bermuatan karakter pandawa lima untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa / Richma Hidayati

Hidayati, Richma (2021) Pengembangan model cognitive behavior cyber counseling (cbcc) bermuatan karakter pandawa lima untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa / Richma Hidayati. Doctoral thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

Cognitive behavior counseling (CBC) adalah salah satu pendektan konseling paradigma kogntive dan merupakan sebuah proses treatment yang memungkinkan konseli memperbaiki keyakinan-keyakinan diri (self-beliefs) yang salah (menyimpang) atau irasional yang mengakibatkan perasaan dan perilaku negatif dengan keyakinan baru yang lebih positif. Konseling ini akan diarahkan kepada modifikasi fungsi berpikir merasa dan bertindak dengan menekankan pikiran sebagai penganalisa pengambil keputusan bertanya bertindak dan memutuskan kembali. CBC bisa dikembangkan dengan memasukkan unsur budaya untuk menyeimbangkan pola pikir dan membentuk perilaku yang sesuai. Penelitian Disertasi ini mengembangkan CBC dengan muatan budaya local yaitu nilai karakter Pandawa lima yang di kemas dengan media cyber counseling. Tujuan dari penelitian disertasi ini adalah untuk mengembangkan model cognitive behavior cyber counseling bermuatan nilai Pandawa lima untuk meningkatan Kepercayaan diri siswa SMA yang berterima dari segi ketepatan kegunaan kepraktisan dan keefektifan. Model ini dikembangkan dengan menggunakan Tahapan penelitian dan pengembangan oleh Borg dan Gall (2003) terdiri dari 10 (sepuluh) langkah namun demikian dalam pengembangan model cognitive behaviour cyber counseling (CbcC) bermuatan karakter Pandawa lima untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa ini dikelompokkan menjadi tiga tahapan yaitu Tahap I preliminary research dan need assessment meliputi 1) Research and information collecting Tahap 2 pengembangan model meliputi enam kegiatan yaitu 2) planning 3) develop preliminary form of product 4) preliminary field testing 5) Product revision 6) main field testing 7) operational product revision. Tahap 3 validasi model meliputi tiga tahapan 8) operational field testing 9) final product revision 10) dissemination and implementation. Subjek uji ahli adalah 2 orang ahli bimbingan dan konseling 2 orang ahli cyber/tekonologi informasi 2 orang ahli budaya 1 orang ahli seni. Sedangkan subjek uji pengguna adalah dua orang guru Bk dan dua orang siswa serta subjek uji ekeftivitas dua orang siswa. Instrumen yang digunakan untuk subjek uji ahli adalah komponen dari model yang divalidasi oleh ahli diadaptasi terdiri dari kriteria evaluasi program oleh organization economic corporation and development (OECD) adalah kejelasan (relevance) kegunaan (efficiency) kelayakan (effectiveness) dan ketepatan model (impact) berdasarkan rancangan desain model dan instrument yang telah disusun dan dianalisis menggunakan interater agreement model. Sedangkan untuk uji efektivitas menggunakan penghitungan presentase perubahan dari pretest dan posttest. Data yang didapetkan dianalisis untuk mengetahuitinkat perubahan skor pretest dan posttest siswa dalam presentase. Selanjutnya pengukukuran tingkat kefektifan model cognitive behavior cyber counseling bermuatan karakter Pandawa lima untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa dilakukan uji statistik non-parametrik dengan metode analisa The Wilcoxon Signed-rank test melalui aplikasi SPSS versi 23 untuk windows. Penelitian ini telah menghasilkan untuk menghasilkan model cognitive behavior cyber counseling bermuatan nilai Pandawa lima untuk meningkatan Kepercayaan diri siswa SMA yang berterima dari segi ketepatan kegunaan kepraktisan dan keefektifan. Cognitive behavior bermuatan karakter Pandawa lima menjadi pengembangan model konseling yang dibutuhkan di sekolah dan di kemas dalam cyber counseling kedepan sangat dibutuhkan karena efektifitas dan efisiensi waktu dan tempat serta lebih fleksibel dan menjadi pelestarian kearifan lokal di era globalisasi digital. Saran bagi konselor hendaknya konselor memaksimalkan penggunaan media teknologi dan informasi dalam pemberian layanan hendaknya konselor tidak hanya melihat bahwa masalah akan selesai jika dilaksanakan konseling individu dengan face to face system dan counselor oriented konselor/Guru BK lebih mendalami pendekatan konseling dan menyesuaikan penyelesaian permasalahan siswa berdasrkan pendekatan konseling hendaknya Guru BK juga memasukkan unsur budaya dalam proses konseling karena ada unsur budaya yang bisa dijadikan pedoman dalam penyelesaian masalah dan konselor/Guru BK hendaknya tidak ragu untuk mengkolaborasikan pendekatan konseling dengan budaya untuk membantu siswanya dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Bagi peneliti selanjutnya memperdalam kajian teoretis dan analisis mendalam mengenai self confidence dan indikatornya mengamati perubahan perilaku siswa tidak hanya berdasarkan hasil pretest dan post test karena perubahan perilaku siswa dilakukan dalam kehidupan sehari-harinya mengembangkan web cyber counseling menjadi aplikasi android yang lebih mudah diakses dan disesaikan dengan kebutuhan siswa mengembangkan pendekatan konseling dengan budaya lain yang sesuai dengan permalsahan yang dihadapi siswa sehingga memunculkan perkembangan pendekatan dan model konseling

Item Type: Thesis (Doctoral)
Subjects: ?? ??
Divisions: Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) > Departemen Bimbingan dan Konseling (BK) > S3 Bimbingan dan Konseling
Depositing User: library UM
Date Deposited: 28 Mar 2021 04:29
Last Modified: 09 Sep 2021 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/263239

Actions (login required)

View Item View Item