Afrianto, Muhammad Aziz (2009) Pengaruh konsentrasi IBA dan KH2PO4 terhadap pertumbuhan akar tunas in vitro jatropha curcas L. pada medium 1/2 MS + Arang Aktif dan ketahanannya pada fase aklimatisasi / Muhammad Aziz Afrianto. Diploma thesis, Universitas Negeri Malang.
Full text not available from this repository.Abstract
Cadangan energi fosil semakin lama semakin berkurang sementara kebutuhannya cenderung meningkat. Kondisi kekurangan cadangan energi fosil membuat para pakar energi memperkirakan bahwa energi fosil pada waktu tertentu akan habis terkonsumsi. Perkiraan yang ekstrem menyebutkan minyak bumi akan habis jika dikonsumsi terus-menerus selama 200 tahun sedangkan batu bara akan habis terpakai dalam 400 tahun (Hidayat 2007). Jatropha curcas L. sudah lama dikenal oleh masyarakat kita sebagai tanaman obat dan penghasil minyak lampu bahkan sewaktu zaman penjajahan Jepang minyaknya diolah untuk bahan baker pesawat terbang. Tanaman ini berasal dari daerah tropis di Amerika Tengah dan saat ini telah menyebar di berbagai tempat di Afrika dan Asia (Mahmud dkk 2005). Penyediaan bibit yang berkualitas baik merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam pengembangan pertanian di masa mendatang termasuk pada budi daya tanaman Jarak Pagar. Pengadaan bibit suatu tanaman yang akan dieksploitasi secara besar-besaran dalam waktu yang cepat akan sulit dicapai dengan perbanyakan melalui teknik konvensional. Salah satu teknologi harapan yang banyak dibicarakan dan telah terbukti memberikan keberhasilan adalah melalui teknik kultur jaringan. Teknologi tersebut telah banyak digunakan untuk pengadaan bibit terutama pada berbagai tanaman hortikultura dan tanaman perkebunan (Anonim 2002). Keberhasilan teknik kultur jaringan tidak terlepas dari proses atau tahapan yang ada pada kultur jaringan itu sendiri yaitu inisiasi sterilisasi multiplikasi pengakaran dan aklimatisasi dan tahapan yang paling penting dalam teknik kultur jaringan adalah pengakaran dan aklimatisasi. Pengakaran merupakan tahapan penumbuhan akar pada eksplan yang telah dikultur untuk menghasilkan planlet sedangkan aklimatisasi merupakan tahapan untuk penyesuaian planlet dengan lingkungan yang sebenarnya (Anonim 2000). Medium yang dibutuhkan untuk menumbuhkan akar pada eksplan adalah medium yang mengandung sedikit mineral ditambah dengan pemberian arang aktif. Medium dengan sedikit mineral digunakan hanya untuk pertumbuhan eksplan yang dikonsentrasikan untuk pertumbuhan akar dan tidak untuk pertumbuhan bagian-bagian organ yang lain sedangkan arang aktif bertujuan untuk melawan efek cahaya yang dapat menghambat pertumbuhan akar (Anonim 2005 dan Anonim 2007). Woreing dan Phillips (1981 324) mengemukakan bahwa pertumbuhan akar dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain ketersediaan garam-garam mineral cadangan makanan vitamin dan hormon-hormon pertumbuhan. Krisnamoorthy (1981 74) menambahkan bahwa hormon atau ZPT yang sangat berperan dalam merangsang pertumbuhan akar adalah dari golongan auksin. Hopkins (1995 69) menyatakan bahwa penambahan fosfor dalam jumlah yang berlebih mampu menghasilkan sistem perakaran yang kuat dan menghasilkan rasio jumlah akar yang cukup besar. Penambahan auksin terutama IBA yang dikombinasikan dengan KH2PO4 dalam teknik konvensional seperti setek dan cangkok mampu mempercepat pertumbuhan akar dan menghasilkan akar yang cukup kuat (Wudianto 2002 55).
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | ?? ?? |
| Divisions: | Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) > Departemen Biologi (BIO) > S1 Biologi |
| Depositing User: | library UM |
| Date Deposited: | 14 Jan 2009 04:29 |
| Last Modified: | 09 Sep 2009 03:00 |
| URI: | http://repository.um.ac.id/id/eprint/26105 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
