Pengungkapan diri (Self disclosure) siswa dalam pelaksanaan konseling di SMAN 4 Malang / Ratna Andila Putri Dewi - Repositori Universitas Negeri Malang

Pengungkapan diri (Self disclosure) siswa dalam pelaksanaan konseling di SMAN 4 Malang / Ratna Andila Putri Dewi

Dewi, Ratna Andila Putri (2009) Pengungkapan diri (Self disclosure) siswa dalam pelaksanaan konseling di SMAN 4 Malang / Ratna Andila Putri Dewi. Diploma thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

Pengungkapan diri (self disclosure) seseorang pada orang lain dipengaruhi oleh jenis kelamin sasaran orang topik pembicaraan dan budaya. Begitu juga pengungkapan diri siswa pada saat konseling dengan konselor. Dengan adanya pengungkapan diri konseli yang tinggi pada konselor maka akan terjalin komunikasi yang lancar pencarian informasi yang lebih mendalam dan hambatan dalam pelaksanaan konseling pun dapat dikurangi. Dari beberapa alasan diatas maka penelitian ini mengambil judul Pengungkapan diri (Self Disclosure) Siswa dalam Pelaksanaan Konseling di SMAN 4 Malang. Pengungkapan diri adalah pola komunikasi yang dilakukan oleh seseorang dengan memberikan informasi yang akurat tentang diri sendiri pada orang lain baik itu mengenai perasaan pemikiran ataupun pendapat atas dasar kepercayaan dan ketertarikan pada lawan bicara. Pengungkapan diri yang diteliti pada penelitian ini hanya pada saat siswa melakukan konseling. Konseling adalah suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh ahli professional (konselor) pada seseorang yang sedang mengalami masalah (konseli) yang saling berinteraksi dengan jalan mengadakan komunikasi langsung mengemukakan dan memperhatikan dengan seksama isi pembicaraan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis kelamin konselor terhadap pengungkapan diri siswa dalam proses konseling siswa SMAN 4 Malang. Selain itu untuk mengetahui hal hal baru yang berhubungan dengan pengungkapan diri siswa dalam konseling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memecahkan fenomenal-fenomenal sosial. Penelitian ini dilakukan pada siswa yang melakukan konseling pada konselor yang sesama jenis atau yang berbeda jenis kelamin mulai tanggal 6 Mei sampai tanggal 31 Juli 2008 di SMAN 4 Malang. Cara menentukan subyek dengan menggunakan teknik bola salju (snowball sampling) yaitu memilih unit-unit yang mempunyai karakterisitik langka dan unit-unit tambahan yang ditunjukkan oleh responden sebelumnya. Sedangkan teknik yang digunakan untuk memperoleh data adalah wawancara dan observasi. Analisis dalam penelitian ini mendeskripsikan dan mengolah data dari lapangan tentang pengungkapan diri siswa dalam pelaksanaan konseling di SMAN 4 Malang mulai dari tahap pralapangan kegiatan lapangan dan analisis intensif (pengumpulan data reduksi data menyusun data dalam satuan satuan dikatagorikan sesuai dengan karakteristik data dan mengadakan pemeriksaan keabsahan data). Usaha untuk mencapai keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi yaitu menyilangkan informasi yang diperoleh dari subjek peneliti sehingga pada akhirnya hanya data yang absah saja yang digunakan untuk mencapai hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pengungkapan diri dapat tinggi rendah tergantung cara klien datang atas kemauan sendiri maka pengungkapan diri lebih tinggi dibandingkan dengan cara di undang/dipanggil. (2) Antara laki-laki/perempuan atau yang sesama jenis atau yang berbeda jenis kelamin memiliki tingkat pengungkapan diri yang sama dalam hal pengungkapan diri tentang keadaan diri pengungkapan yang dianggap umum sedangkan perempuan memiliki pengungkpan diri yang lebih luas dengan pembicaraan yang lebih pribadi. (3) pengungkapan diri dilihat dari segi sasaran orang perempuan lebih tertarik melakukan pengungkapan diri pada sesama jenis kelamin sedangkan laki laki lebih tertarik mengungkapakan diri pada lawan jenis kelamin. (4)l aki-laki memiliki kedalaman pengungkapan diri yang lebih rendah dibandingkan dengan perempuan karena laki-laki lebih cenderung menyimpan masalah yang pribadi tetapi lebih terbuka pada yang bersifat umum. (5) pengungkapan diri negatif pengungkapan diri antara laki-laki dan perempuan memiliki pengungkapan diri yang hampir sama dengan alasan seseorang kurang menyukai hal-hal yang berdampak menyakiti orang lain. (6) Pengungkapan diri yang positif cenderung lebih mudah untuk mengungkapkanya karena orang akan lebih suka mendapatkan pujian atau sanjungan dari orang lain baik laki-laki maupun perempuan. (7) Waktu Dari frekuensi pengungkapan diri perempuan cenderung lebih luas dibandingkan dengan laki laki baik pada saat melakukan pengungkapan diri dengan sesama jenis ataupun dengan berlainan jenis kelamin. Durasi pengungkapan diri antara laiki laki dan perempuan memiliki tingkat yang seimbang. Jarak yang diperlukan dalam satu pengukapan diri ke pengungkapan diri yang berikutnya kira kira 5-10 menit hal ini hampir sama baik laki-laki maupun perempuan. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada konselor hendaknya konselor (a) Konselor perlu mengembangkan cara-cara khusus untuk meningkatkan pengungkapan diri pada siswa dengan jenis kelamin laki-laki (b) Konselor perlu mengembangkan metode khusus untuk meningkatkan pengungkapan diri negatif (c) mengungkapkan pikiran dan saran yang tepat agar dapat memancing mengungkapkan diri konseli yang lebih luas dan mendalam (d) membina hubungan yang erat dan hangat pada semua siswa baik didalam kelas ataupun diluar kelas agar dalam konseling yang akan dilakukan siswa dapat melakukan pengungkapan diri yang tinggi Pihak sekolah hendaknya (a) Jika pihak sekolah ingin memanggil siswa untuk melakukan pengungkapan diri maka hendaknya memperhatikan karakteristik jenis kelamin agar siswa dapat mengungkapkan diri dengan luas. (b) Pihak sekolah memberikan keleluasaan pada semua siswa untuk melalukan pengungkapan diri dengan siapa pun yang diinginkan oleh siswa. (c) Mempertimbangkan waktu yang tepat jika ingin memanggil siswa. Peneliti yang akan melakukan penelitian berikutnya hendaknya mempertimbangkan (a) Ketepantan dan kesiapan subjek yang akan dijadikan subjek penelitian (b) Melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengungkapan diri khususnya dalam konseling seperti pengungkapan diri dari konselor maupun dari konseli karena dalam konseling terdapat pengungkapan diri konselor dan konseli.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: ?? ??
Divisions: Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) > Departemen Bimbingan dan Konseling (BK) > S1 Bimbingan dan Konseling
Depositing User: library UM
Date Deposited: 04 Aug 2009 04:29
Last Modified: 09 Sep 2009 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/1635

Actions (login required)

View Item View Item