Mahardini, Kurnianing (2009) Revealing the effects generated by the translation strategies used in translating Taboo expressions in the novel Eleven Minutes from English into Indonesian / Kurnianing Mahardini. Diploma thesis, Universitas Negeri Malang.
Full text not available from this repository.Abstract
ABSTRACT Mahardini Kurnianing. 2009. Revealing the Effects Generated by the Translation Strategies used in Translating Taboo Expressions in the Novel Eleven Minutes from English into Indonesian. Skripsi Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Setyadi S M.Pd. Permasalahan mengenai penerjemahan antar budayaan sangatlah menarik untuk dibicarakan disaat film-film dan buku-buku untuk dewasa banyak diterjemahkan. Masalah muncul ketika seorang penerjemah dihadapkan pada ungkapan-ungkapan yang berbau tabu pada teks sumber dan menuntut pememilihan strategi yang akan ia gunakan untuk menerjemahkan kata-kata tersebut. Eleven Minutes adalah sebuah novel populer yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa. Versi indonesia dari novel ini Sebelas Menit diterjemahkan oleh dua penerjemah professional Tanti Lesmana dan Arif Subiyanto. Ketika penulis membaca novel ini ia menemukan banyak kata yang dianggapnya tabu berdasarkan nilai-nilai ketimuran khususnya nilai-nilai dalam kebudayaan Indonesia. Permasalahan tersebut sangat menggelitik penulis untuk menemukan strategi-srategi yang digunakan oleh penerjemah dalam menerjemahkan ungkapan-ungkapan tabu khususnya ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan aktivitas seksual. Hal ini dilakukan untuk mengetahui lebih dalam tentang pertimbangan-pertimbangan apa saja yang harus diambil oleh para penerjemah dalam mengatasi perbedaan-perbedaan yang ada diantara budaya bahasa asal dan sasaran. Sebelas Menit adalah buku best seller internasional oleh penulis The Alchemist. Penelitian ini menggunakan ungkapan-ungkapan tabu yang di temukan dalam novel Eleven Minutes sebagai subjeknya karena dalam studi literatur kata-kata tabu tergolong dalam bahasa yang dilarang atau bahasa yang kasar (Drozde dan Vogule 2008 24). Yang dimaksud dengan ungkapan tabu dalam penelitian ini adalah ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan seksualitas khususnya bagian yang memaparkan tentang aktivitas seksual. Data yang digunakan untuk penelitian ini adalah kalimat-kalimat yang menggandung ungkapan-ungkapan tabu dari novel Bahasa Inggris Eleven Minutes dan versi Indonesianya Sebelas Menit pada bagian yang memaparkan tentang aktivitas seksual. Dari kalimat-kalimat ini ungkapan tabu akan diidentifikasi dan dikatagorikan berdasarkan efek-efek yang ditimbulkan dari penggunaan strategi-strategi yang digunakan oleh penerjemah. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa ada tiga efek yang dihasilkan dari penggunaan strategi-strategi penerjemahan yaitu efek memperhalus melebih-lebihkan dan sepadan. Efek memperhalus muncul ketika penerjemah menerjemahkan ungkapan-ungkapan dari bahasa sumber dengan bahasa tidak langsung dan mengurangi elemen semantik yang terkandung dalam ungkapan yang terdapat pada bahasa sasaran. Untuk menghasilkan efek memperhalus ada tiga strategi yang digunakan oleh penerjemah yaitu strategy paraphrase synonymy dan kombinasi. Efek kedua melebihkan didapatkan dari adanya elelmen semantik tambahan yang muncul pada ungkapan terjemahan. Efek ini dihasilkan dari penggunaan strategi synonymy penambahan dan kombinasi. Efek yang terakhir sepadan didapat ketika ungkapan bahasa sumber memiliki arti dan efek yang sama dengan ungkapan bahasa sasaran. Efek sepadan diperoleh dari penggunaan strategi naturalisasi dan literal. Efek yang sering kali muncul adalah efek melebihkan (58.54%). Efek ini mengajak pembaca untuk melihat lebih dekat gambaran sensual yang tersembunyi dibalik pemilihan kata-kata tertentu oleh penulis ketika menceritakan bagian dari novel tersebut yang didalamnya terdapat ungkapan-ungkapan tabu. Hal ini bisa terjadi karena penerjemah memilih untuk berdiri pada sisi pembaca. Dalam menerjemahkan ungkapan-ungkapan tabu yang terdapat dalam novel tersebut penerjemah menunjukkan ketidakkonsistenannya. Terkadang ia memperhalus ungkapan namun disisi lain ia menerjemahkannya apa adanya bahkan malah melebihkannya. Namun dengan melakukan hal ini produk terjemahannya menjadi terdengar sangat natural dan halus. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan hasil terjemahan yang tidak terbaca seperti sebuah terjemahan sama sekali tetapi lebih pada pemberian baju baru dengan motif yang sama seperti aslinya.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | ?? ?? |
| Divisions: | Fakultas Sastra (FS) > Departemen Sastra Inggris (ING) > S1 Bahasa dan Sastra Inggris |
| Depositing User: | library UM |
| Date Deposited: | 15 Dec 2009 04:29 |
| Last Modified: | 09 Sep 2009 03:00 |
| URI: | http://repository.um.ac.id/id/eprint/10923 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
