Upaya meningkatkan hasil belajar melalui metode diskusi dalam pembelajaran IPS bagai siswa kelas V SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk / Dany Murjianto - Repositori Universitas Negeri Malang

Upaya meningkatkan hasil belajar melalui metode diskusi dalam pembelajaran IPS bagai siswa kelas V SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk / Dany Murjianto

Murjianto, Dany (2010) Upaya meningkatkan hasil belajar melalui metode diskusi dalam pembelajaran IPS bagai siswa kelas V SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk / Dany Murjianto. Diploma thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MELALUI METODE DISKUSI DALAM PEMBELAJARAN IPS BAGI SISWA KELAS V SDN KEDUNGDOWO I KABUPATEN NGANJUK Dany Murjianto Abstract Base on the observation output and experience so far students are less active in the IPS teaching learning activity they tend not to be so interested with the IPS lesson because up to know IPS lesson is supposed as a lesson that only need memorize and the using of discourse method in teaching this lesson make the student boring so that the student output study become low. This can also be seen at the output UASBN got by the student during the last two years year study 2007 2008 and 2008 2009 show the average mark only 6 00 and 6 50. This shows that IPS Mark is lower than the other lessons such as Indonesia language which UASBN average mark in 2008 2009 reach 7 25 and Math 7 00. The aim of this research at SDN Kedungdowo I Kab. Nganjuk is to describe the applying of the discussion method for teaching IPS at the fifth year students in SDN KedungdowoI Kab. Nganjukwhich can increase output study. The design of this research uses the qualitative descriptive approach the kind of research is Class Action Research (PTK). The subject is the fifth year student at SDN Kedungdowo I Kab. Nganjuk with total student is 32. The technique of collecting data is using test documentation and observation during the lesson. Data analysis is carried out after giving the action for each cycle which has been done. From this output research shows that discussion method can increase the student output study the fifth year students at SDN Kedungdowo I Kab Nganjuk. It proves that there is an increasing output study and student activity for each its cycle. The increasing student activity on pre cycle is 0% increase to 46 8% at cycle I and 87 5% at cycle II. The average increase of student output study at pre cycle is 57 75 increase to be 71 at cycle I and 77 6 at cycle II. The increasing of class mastering ketuntasan kelas at pre cycle is 25% increase to be 65 5% at cycle I and 90 6 at cycle II It can be said that IPS teaching uses discussion method can increase the student output study and student activity during the lesson. This can be seen at the average class mark and the classical mastering ketutasan klasikal as shown above. The existence of teacher variation in conveying their teaching material is much needed so it can increase the student output study. Kata Kunci pembelajaran IPS metode diskus hasil belajar siswa Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa melalui kegiatan bimbingan pengajaran dan latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pendidikan mempunyai posisi strategis dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia (Sujana 2000). Posisi yang strategis tersebut dapat tercapai apabila pendidikan yang dilaksanakan mempunyai kualitas . Kualitas pendidikan dapat diketahui dari dua hal yaitu kualitas proses dan produk (Sudjana 2000 5). Suatu pendidikan dikatakan berkualitas proses apabila proses belajar mengajar (PBM) dapat berlangsung secara efektif dan siswa akan mengalami proses pembelajaran yang bermakna. Pendidikan disebut berkualitas produk apabila siswa dapat menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar sesuai dengan sasaran dan tujuan pendidikan. Dua kualitas tersebut dapat dilihat pada hasil belajar yang dinyatakan dalam proses akademik. Pembelajaran yang selama ini dilakukan lebih banyak menggunakan metode ceramah (klasikal) karena dianggap mudah dan murah. Dengan menggunakan metode ceramah banyak kelemahan yang diperoleh di antaranya siswa menjadi jenuh jika guru tidak pandai menjelaskan. Pada saat menggunakan metode ceramah materi yang disampaikan terbatas pada yang diingat guru dan tidak dapat mengembangkan kreatifitas siswa. Selain itu dengan metode ceramah hanya terjadi interaksi satu arah yaitu dari guru kepada siswa. Keadaan yang seperti ini sangat merugikan bagi siswa yang memiliki ketrampilan mendengarkan terbatas sehingga hasil UASBN (Ujian Akhir Sekolah Bersetandar Nasional) nilai IPS lebih rendah dari mata pelajaran yang lain. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini khususnya di SDN Kedungdowo I siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar IPS. Siswa cenderung tidak begitu tertarik dengan mata pelajaran IPS karena selama ini pelajaran IPS dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata kurang menekankan aspek penalaran sehingga hasil belajar siswa pada mata pelajaran masih kurang. Hal ini juga terjadi pada siswa yang ada di SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk. Pada tanggal 24 April 2010 peneliti melakukan pengamatan pada saat guru menggunakan metode ceramah. Peneliti menemukan permasalahan antara lain Pada saat guru menjelaskan materi dengan menggunakan metode ceramah siswa tidak bersemangat mengikuti pembelajaran serta pembelajaran menjadi kurang bermakna. Selain itu dilihat dari hasil UASBN yang diperoleh siswa selama 2 tahun terakhir yaitu pada tahun pelajaran 2007-2008 dan tahun pelajaran 2008-2009 menunjukkan bahwa nilai rata-rata hanya mencapai nilai 6 00 dan 6 50. Hal tersebut menunjukkan bahwa IPS nilainya masih rendah dan dari mata pelajaran yang lain seperti Bahasa Indononesia yang rata-rata nilai UASBN tahun pelajaran 2008-2009 mencapai 7 25 dan Matematika dengan rata-rata nilai 7 00. Kondisi ini menggambarkan hasil belajar yang diperoleh siswa SDN Kedungdowo I dan keadaan ini juga menjadi gambaran kondisi pembelajaran di kelas lain pada sekolah ini. Misalnya seperti kondisi yang peneliti amati yaitu hasil belajar yang diperoleh siswa pada saat ulangan harian dan Ulangan Tengah Semester (UTS) rata-rata nilainya hanya 6 0 dan siswa yang memperoleh nilai baik tidak lebih dari separuh jumlah siswa kelas V yaitu hanya 12 siswa yang mendapatkan nilai baik. Kenyataan tersebut perlu adanya perubahan dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Guru hendaknya mampu menentukan dan mengembangkan salah satu metode pembelajaran yang dapat menarik kretifitas dan motivasi siswa untuk belajar serta baik dalam pembelajaran IPS. Dari alasan tersebut dan sesuai dengan KTSP untuk melatih agar anak memiliki kecakapan-kecakapan terhadap materi yang dipelajari perlu diadakan latihan-latihan melalui penerapan metode diskusi. Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama. Digunakannya metode ini dengan tujuan agar siswa tidak merasa bosan jemu dan jenuh. Dalam pembelajarannya juga harus menggunakan metode yang dapat menumbuhkan minat dan motivasi anak untuk mengikuti pelajaran dengan baik dengan harapan hasil belajar siswa dapat meningkat. Berdasarkan permasalahan tersebut maka peneliti mengambil judul Upaya meningkatkan hasil belajar melalui metode diskusi dalam pembelajaran IPS siswa kelas V di SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk . Hasil pengamatan ini diharapkan nantinya guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menarik menyenangkan dan siswa menjadi lebih aktif dengan digunakannya metode diskusi sebagai salah satu metode pembelajaran. Identifikasi masalah 1)Dalam penyampaian materi mata pelajaran IPS guru masih bersifat konvensional 2)Guru hanya menggunakan metode ceramah tanya jawab dan penugasan 3)Pada saat pembelajaran IPS siswa cenderung menjadi bosan dan tidak menyukai mata pelajaran IPS 4)Hasil belajar mata pelajaran IPS kurang optimal nilai rata-rata di bawah nilai KKM Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut 1)Siswa Menciptakan rasa senang dan lebih bersemangat serta termotivasi untuk mengikuti pembelajaran IPS. 2)Guru Sebagai sumber informasi dan acuan dalam pelaksanaan pembelajaran IPS di sekolah khususnya dalam penerapan metode diskusi. 3) Sekolah Sebagai salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran di sekolah sehingga sekolah dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik serta dapat meningkatan kualitas pembelajaran di sekolah. Agar didapatkan keterangan yang lebih jelas maka diperlukan pengertian terhadap beberapa istilah yang ada pada judul adalah sebagai berikut 1) Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama (Djamarah 1998 99). 2)Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan potensi minat bakat dan kebutuhan peserta didik (siswa) yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. 3) IPS adalah mata pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa fakta konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial dan kewarganegaran (Suradisastra 1992 3). 4)Peningkatan hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang dapat diamati dari penampilan orang yang belajar ( Ibsik 1998 2) Rencana penelitian diperlukan untuk memudahkan kegiatan penelitian. Dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui informasi secara lengkap tentang pemahaman siswa kelas V SDN Kedungdowo I terhadap mata pelajaran IPS Kompetensi dasar perjuangan dari tokoh-tokoh perjuangan di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun rancangan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan model Kemmis Taggart dan Hopkins (Wiriaatmadja 2006 66). Menurut ketiga ahli tersebut pelaksanaan penelitian meliputi perencanaan pelaksanaan tindakan pengamatan dan refleksi. Alur pelaksanaan tindakan ini dapat di lihat pada gambar di bawah ini. Berikut ini adalah model PTK Kemmis dan Taggart (Wiriaatmadja 2006 66) Berikut uraian dari bagan di atas. 1)Perencanaan (plan) mencakup rancangan apa yang akan dibuat dalam pelaksanaan pemecahan masalah yaitu merancang rencana pembelajaran yang di-dalam skenario terdapat metode ceramah dan diskusi.2)Tindakan (act) yang dimaksud adalah pelaksanaan yang dilakukan berdasarkan rancangan yang dibuat yaitu mempraktekkan sesuai rencana pembelajaran yang dibuat.3)Pengamatan (observe) dilakukan ketika tindakan itu terjadi dengan mencatat permasalahan apa lagi yang perlu diperbaiki. yaitu mengamati kekurangan yang harus diperbaiki dalam proses pembelajaran. Kekurangan yang timbul di antaranya kurang tepatnya metode yang diterapkan pada proses pembelajaran tersebut. Refleksi (reflect) tindakan mengevaluasi uji coba yang telah dilakukan yaitu tinjauan kembali dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dalam proses pembelajaran. Memperbaikinya dengan menerapkan metode yang sesuai pada siklus ke 2. Instrumen penelitian ini berfungsi sebagai panduan pelaksanaan pengumpulan data yang dipilih. Untuk mendapatkan data data yang dimaksud dalam penelitian ini maka digunakan instrument berupa 1) pedoman observasi untuk guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran berlangsung serta 2) soal tes yang dibuat oleh guru yang disesuaikan dengan materi dan kurikulum yang berlaku. Untuk keperluan tes peneliti menggunakan instrument panduan tes yang memuat sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk mendapatkan informasi dari responden yaitu siswa. Prosedur tes yang dipakai adalah peneliti memberikan tes kepada siswa sesudah pembelajaran selesai. Tes ini digunakan untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran dengan menggunakan Metode Diskusi pada siswa kelas V di SDN Kedungdowo I Kab Nganjuk. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif yaitu analisis yang disajikan dalam bentuk kata-kata atau kualitatif (Arikunto 2003). Pertama kali yang dilakukan oleh peneliti yaitu kegiatan memilah dan memilih data yang pantas untuk dipaparkan kedua melakukan pemaparan data dan ketiga pengambilan kesimpulan. Analisis data dilakukan sebelum dan sesudah penelitian tindakan kelas dilakukan. Dari penjelasan di atas maka dapat dilakukan beberapa tindakan penelitian sebagai berikut a)Data hasil belajar diambil dengan memberikan tes kepada siswa.b)Data tentang pelaksanaan pembelajaran pada saat dilaksanakannya tindakan kelas ini diambil dari lembar pengamatan.c)Data tentang refleksi diri serta perubahan-perubahan yang terjadi di kelas diambil dari catatan pengamat dan peneliti.d)Tes akhir siklus dianalisa dengan menggunakan teknik analisa deskriptif persentase. Kriteria yang digunakan adalah apabila siswa memperoleh nilai 70 berarti siswa telah tuntas belajar dan apabila siswa memperoleh nilai kurang dari 70 berarti siswa belum tuntas belajar. Dari hasil tes tersebut dapat diketahui tentang ketuntasan belajar siswa. Ketuntasan belajar siswa dilihat dari skor pencapaian hasil belajar. Hasil belajar dari observasi pra siklus siklus I dan siklus II dianalisis untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dan daya serap klasikal. Caranya dengan menganalisis nilai tes menggunakan kriteria ketuntasan belajar. Tujuannya untuk mengetahui daya serap siswa dimana seorang siswa disebut tuntas belajar jika mencapai rerata skor 8805 70 dan daya serap klasikal 8805 70 % artinya jika 70 % siswa mencapai nilai 8805 70. Berdasarkan standar ketuntasan minimal yang dimiliki oleh SDN Kedungdowo I Nganjuk (Tim Penyusun KTSP 2006 32) rumus pencapaian rata-rata skor dan daya serap klasikal dapat diperoleh sebagai berikut Nilai ketuntasan individu B adalah skor siswa (2 x butir soal yang dijawab benar) N adalah total skor Nilai ketuntasan klasikal I adalah jumlah siswa yang tuntas K adalah jumlah siswa dalam kelas Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan rumus P adalah angka persentase f adalah frekuensi yang sedang dicari persentasenya n adalah jumlah frekuensi/banyak individu (Sudijono 2005 43) Setelah dianalisis kemudian dikonsultasikan dengan kriteria sebagai berikut No Nilai Kriteria 1 8804 60 Sangat Kurang 2 60 1 70 Kurang Baik 3 70 1 80 Cukup Baik 4 80 1 90 Baik 5 90 1 100 Sangat Baik Observasi dilakukan oleh guru kelas dan teman sejawat. Observasi ini dilakukan untuk mengamati kegiatan guru maupun siswa selama proses pembelajaran. Untuk mengobservasi kegiatan guru digunakan APKG yang dapat dilihat pada tabel 3.2 untuk menilai kegiatan prasiklus siklus I dan siklus II. Sedangkan untuk mengamati kegiatan siswa selama pembelajaran digunakan lembar observasi aktivitas siswa untuk observasi pra siklus siklus I dan siklus II. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pada penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS di Kelas V bertujuan untuk melatih siswa dalam menemukakan ide keaktifan kerja sama serta tanggung jawab siswa terhadap tugas yang di berikan. Metode diskusi dilaksanakan dengan membagi siswa dalam beberapa kelompok yang heterogen yaitu dengan memperhatikan tingkat intelektual siswa. Hal ini dilakukan agar dalam setiap kelompok terdapat keheterogenan kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Dalam melaksanakan pembelajaran guru harus mampu menerapkan metode yang sesuai dalam pembelajaran. Penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS merupakan salah satu cara yang tepat dalam pelaksanaan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh (Sudjana 2000 91) yang mengungkapkan bahwa metode diskusi adalah suatu cara penyampaian informasi atau materi pelajaran yang selain dilakukan secara lisan juga divariasikan (dikombinasikan) penggunaanya dengan cara penyampaian lain seperti tanya jawab pemberian tugas dan sebagainya. Adanya kombinasi dari beberapa metode ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran telah dikuasai oleh siswa untuk merangsang siswa aktif dan untuk lebih memantapkan penguasaan siswa terhadap bahan/materi yang telah disampaikan sehingga dapat berpengaruh baik terhadap hasil belajar yang dicapai siswa . Pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan metode diskusi di awali dengan menemukan permasalahan yaitu dalam hal ini akan meningkatkan hasil belajar siswa. Setelah merumuskan permasalahan peneliti menyusun perencanaan tindakan untuk siklus I. Dari perencanaan tersebut kemudian dilaksanakan. Pada saat pelaksanaan guru didampingi guru kelas melakukan pengamatan terhadap jalannya pembelajaran. Pengamatan yang telah diperoleh di refleksi untuk perbaikan pelaksanaan pembelajaran disiklus berikutnya. Begitu seterusnya sampai tercapainya tujuan pembelajaran berhasil. Temuan penelitian tentang peningkatan aktifitas pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi disajikan dalam tabel berikut memberikan informasi bahwa pengelolaan pembelajaran dari setiap siklus menunjukkan peningkatan ke arah yang lebih baik. Jika pada siklus I guru tidak menggunakan metode diskusi dalam pelaksanaan pembelajaran skor pembelajaran medapatkan nilai 13 hal ini tidak terjadi pada siklus I maupun siklus II. Hal ini disebabkan karena pada siklus I dan II guru melakukan persiapan pembelajaran secara matang selain itu dalam pelaksanaan siklus I dan siklus II ini guru menjadi mengerti apa-apa saja yang harus dilakukannya dalam pembelajaran sesuai dengan prosedur menerapkan metode diskusi. Pelaksanaan proses diskusi dapat meningkatkan ketrampilan siswa dalam menggungkapkan gagasan menjalin kerja sama serta melatih siswa untuk bertanggung jawab. Hal in dibuktikan adanya persentase peningkatan dari 46 8% menjadi 87 5%. Pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi khususnya pada mata pelajaran IPS yang di laksanakan di Kelas V SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat terlihat dari pencapaian hasil belajar yang diperoleh siswa yaitu meningkat pada tiap siklusnya. peningkatan rata-rata hasil belajar siswa sebesar pada 57 75 prasiklus pada 71 siklus I menjadi 77 6 pada siklus II peningkatan ketuntasan kelas dari 25% pada prasiklus 65 6% pada siklus I menjadi 90 6% pada siklus II. Maka penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS dapat membawa dampak yang baik bagi peningkatan hasil prestasi belajar siswa. Walaupun keadaan ini belum mencapai 100% paling tidak dari jumlah siswa di kelas V sudah bisa di kategorikan tuntas belajar. Paparan di atas memberikan informasi bahwa apabila metode diskusi diterapkan sesuai dengan prosedur yang berlaku maka akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik secara kelompok maupun individu. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Metode diskusi adalah suatu cara penyampaian informasi atau materi pelajaran yang selain dilakukan secara lisan juga divariasikan (dikombinasikan) penggunaanya dengan cara penyampaian lain seperti tanya jawab pemberian tugas dan sebagainya. Adanya kombinasi dari beberapa metode ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran telah dikuasai oleh siswa untuk merangsang siswa aktif dan untuk lebih memantapkan penguasaan siswa terhadap bahan/materi yang telah disampaikan sehingga dapat berpengaruh baik terhadap hasil belajar yang dicapai siswa. Dalam pembelajaran IPS sangat mendukung sekali dalam pencapaian tujuan pembelajaran dikarenakan dalam pembelajaran IPS siswa tidak memiliki motivasi untuk belajar karena dipandang pembelajaran IPS merupakan pelajaran yang tidak penting. Dengan menggunakan metode diskusi pembelajaran IPS siswa lebih termotivasi untuk mengikuti pembelajaran IPS. Karena dalam pembelajaran melibatkan siswa dalam kegiatan belajar yang aktif melakukan diskusi dalam pembelajaran Peneliti membuktikan bahwa dengan menerapkan metode diskusi pada pembelajaran IPS denagn materi pokok Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Terbukti dari hasil kegiatan penelitian mulai dari pra tindakan ke siklus I sampai siklus II hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat terlihat dari pencapaian hasil belajar yang diperoleh siswa yaitu meningkat pada tiap siklusnya. peningkatan rata-rata hasil belajar siswa sebesar pada 57 75 prasiklus pada71 siklus I menjadi 77 6 pada siklus II peningkatan ketuntasan kelas dari 25% pada prasiklus 65 6% pada siklus I menjadi 90 6% pada siklus II. Maka penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS dapat membawa dampak yang baik bagi peningkatan hasil prestasi belajar siswa. Tentunya disertai dengan metode yang tepat untuk memperlihatkan keaktifan siswa mengikuti pelajaran sebagai bentuk meningkatnya motivasi siswa. Saran Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian pembahasan dan penarikan kesimpulan adalah dengan menerapkan Metode dikusi dalam pembelajaran IPS di kelas V SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk dapat meningkatkan hasil dan proses pembelajaran pada siswa sehingga metode pembelajaran ini hendaknya dapat diterapkan oleh guru untuk meningkatkan hasil dan proses pembelajaran pada siswa baik pada mata pembelajaran IPS maupun pada pembelajaran lainnya sehingga akan menambah referensi guru dalam memfasilitasi siswa mencapai tujuan pembelajaran. UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MELALUI METODE DISKUSI DALAM PEMBELAJARAN IPS BAGI SISWA KELAS V SDN KEDUNGDOWO I KABUPATEN NGANJUK Dany Murjianto Abstract Base on the observation output and experience so far students are less active in the IPS teaching learning activity they tend not to be so interested with the IPS lesson because up to know IPS lesson is supposed as a lesson that only need memorize and the using of discourse method in teaching this lesson make the student boring so that the student output study become low. This can also be seen at the output UASBN got by the student during the last two years year study 2007 2008 and 2008 2009 show the average mark only 6 00 and 6 50. This shows that IPS Mark is lower than the other lessons such as Indonesia language which UASBN average mark in 2008 2009 reach 7 25 and Math 7 00. The aim of this research at SDN Kedungdowo I Kab. Nganjuk is to describe the applying of the discussion method for teaching IPS at the fifth year students in SDN KedungdowoI Kab. Nganjukwhich can increase output study. The design of this research uses the qualitative descriptive approach the kind of research is Class Action Research (PTK). The subject is the fifth year student at SDN Kedungdowo I Kab. Nganjuk with total student is 32. The technique of collecting data is using test documentation and observation during the lesson. Data analysis is carried out after giving the action for each cycle which has been done. From this output research shows that discussion method can increase the student output study the fifth year students at SDN Kedungdowo I Kab Nganjuk. It proves that there is an increasing output study and student activity for each its cycle. The increasing student activity on pre cycle is 0% increase to 46 8% at cycle I and 87 5% at cycle II. The average increase of student output study at pre cycle is 57 75 increase to be 71 at cycle I and 77 6 at cycle II. The increasing of class mastering ketuntasan kelas at pre cycle is 25% increase to be 65 5% at cycle I and 90 6 at cycle II It can be said that IPS teaching uses discussion method can increase the student output study and student activity during the lesson. This can be seen at the average class mark and the classical mastering ketutasan klasikal as shown above. The existence of teacher variation in conveying their teaching material is much needed so it can increase the student output study. Kata Kunci pembelajaran IPS metode diskus hasil belajar siswa Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa melalui kegiatan bimbingan pengajaran dan latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pendidikan mempunyai posisi strategis dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia (Sujana 2000). Posisi yang strategis tersebut dapat tercapai apabila pendidikan yang dilaksanakan mempunyai kualitas . Kualitas pendidikan dapat diketahui dari dua hal yaitu kualitas proses dan produk (Sudjana 2000 5). Suatu pendidikan dikatakan berkualitas proses apabila proses belajar mengajar (PBM) dapat berlangsung secara efektif dan siswa akan mengalami proses pembelajaran yang bermakna. Pendidikan disebut berkualitas produk apabila siswa dapat menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar sesuai dengan sasaran dan tujuan pendidikan. Dua kualitas tersebut dapat dilihat pada hasil belajar yang dinyatakan dalam proses akademik. Pembelajaran yang selama ini dilakukan lebih banyak menggunakan metode ceramah (klasikal) karena dianggap mudah dan murah. Dengan menggunakan metode ceramah banyak kelemahan yang diperoleh di antaranya siswa menjadi jenuh jika guru tidak pandai menjelaskan. Pada saat menggunakan metode ceramah materi yang disampaikan terbatas pada yang diingat guru dan tidak dapat mengembangkan kreatifitas siswa. Selain itu dengan metode ceramah hanya terjadi interaksi satu arah yaitu dari guru kepada siswa. Keadaan yang seperti ini sangat merugikan bagi siswa yang memiliki ketrampilan mendengarkan terbatas sehingga hasil UASBN (Ujian Akhir Sekolah Bersetandar Nasional) nilai IPS lebih rendah dari mata pelajaran yang lain. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini khususnya di SDN Kedungdowo I siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar IPS. Siswa cenderung tidak begitu tertarik dengan mata pelajaran IPS karena selama ini pelajaran IPS dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata kurang menekankan aspek penalaran sehingga hasil belajar siswa pada mata pelajaran masih kurang. Hal ini juga terjadi pada siswa yang ada di SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk. Pada tanggal 24 April 2010 peneliti melakukan pengamatan pada saat guru menggunakan metode ceramah. Peneliti menemukan permasalahan antara lain Pada saat guru menjelaskan materi dengan menggunakan metode ceramah siswa tidak bersemangat mengikuti pembelajaran serta pembelajaran menjadi kurang bermakna. Selain itu dilihat dari hasil UASBN yang diperoleh siswa selama 2 tahun terakhir yaitu pada tahun pelajaran 2007-2008 dan tahun pelajaran 2008-2009 menunjukkan bahwa nilai rata-rata hanya mencapai nilai 6 00 dan 6 50. Hal tersebut menunjukkan bahwa IPS nilainya masih rendah dan dari mata pelajaran yang lain seperti Bahasa Indononesia yang rata-rata nilai UASBN tahun pelajaran 2008-2009 mencapai 7 25 dan Matematika dengan rata-rata nilai 7 00. Kondisi ini menggambarkan hasil belajar yang diperoleh siswa SDN Kedungdowo I dan keadaan ini juga menjadi gambaran kondisi pembelajaran di kelas lain pada sekolah ini. Misalnya seperti kondisi yang peneliti amati yaitu hasil belajar yang diperoleh siswa pada saat ulangan harian dan Ulangan Tengah Semester (UTS) rata-rata nilainya hanya 6 0 dan siswa yang memperoleh nilai baik tidak lebih dari separuh jumlah siswa kelas V yaitu hanya 12 siswa yang mendapatkan nilai baik. Kenyataan tersebut perlu adanya perubahan dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Guru hendaknya mampu menentukan dan mengembangkan salah satu metode pembelajaran yang dapat menarik kretifitas dan motivasi siswa untuk belajar serta baik dalam pembelajaran IPS. Dari alasan tersebut dan sesuai dengan KTSP untuk melatih agar anak memiliki kecakapan-kecakapan terhadap materi yang dipelajari perlu diadakan latihan-latihan melalui penerapan metode diskusi. Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama. Digunakannya metode ini dengan tujuan agar siswa tidak merasa bosan jemu dan jenuh. Dalam pembelajarannya juga harus menggunakan metode yang dapat menumbuhkan minat dan motivasi anak untuk mengikuti pelajaran dengan baik dengan harapan hasil belajar siswa dapat meningkat. Berdasarkan permasalahan tersebut maka peneliti mengambil judul Upaya meningkatkan hasil belajar melalui metode diskusi dalam pembelajaran IPS siswa kelas V di SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk . Hasil pengamatan ini diharapkan nantinya guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menarik menyenangkan dan siswa menjadi lebih aktif dengan digunakannya metode diskusi sebagai salah satu metode pembelajaran. Identifikasi masalah 1)Dalam penyampaian materi mata pelajaran IPS guru masih bersifat konvensional 2)Guru hanya menggunakan metode ceramah tanya jawab dan penugasan 3)Pada saat pembelajaran IPS siswa cenderung menjadi bosan dan tidak menyukai mata pelajaran IPS 4)Hasil belajar mata pelajaran IPS kurang optimal nilai rata-rata di bawah nilai KKM Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut 1)Siswa Menciptakan rasa senang dan lebih bersemangat serta termotivasi untuk mengikuti pembelajaran IPS. 2)Guru Sebagai sumber informasi dan acuan dalam pelaksanaan pembelajaran IPS di sekolah khususnya dalam penerapan metode diskusi. 3) Sekolah Sebagai salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran di sekolah sehingga sekolah dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik serta dapat meningkatan kualitas pembelajaran di sekolah. Agar didapatkan keterangan yang lebih jelas maka diperlukan pengertian terhadap beberapa istilah yang ada pada judul adalah sebagai berikut 1) Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama (Djamarah 1998 99). 2)Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan potensi minat bakat dan kebutuhan peserta didik (siswa) yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. 3) IPS adalah mata pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa fakta konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial dan kewarganegaran (Suradisastra 1992 3). 4)Peningkatan hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang dapat diamati dari penampilan orang yang belajar ( Ibsik 1998 2) Rencana penelitian diperlukan untuk memudahkan kegiatan penelitian. Dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui informasi secara lengkap tentang pemahaman siswa kelas V SDN Kedungdowo I terhadap mata pelajaran IPS Kompetensi dasar perjuangan dari tokoh-tokoh perjuangan di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun rancangan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan model Kemmis Taggart dan Hopkins (Wiriaatmadja 2006 66). Menurut ketiga ahli tersebut pelaksanaan penelitian meliputi perencanaan pelaksanaan tindakan pengamatan dan refleksi. Alur pelaksanaan tindakan ini dapat di lihat pada gambar di bawah ini. Berikut ini adalah model PTK Kemmis dan Taggart (Wiriaatmadja 2006 66) Berikut uraian dari bagan di atas. 1)Perencanaan (plan) mencakup rancangan apa yang akan dibuat dalam pelaksanaan pemecahan masalah yaitu merancang rencana pembelajaran yang di-dalam skenario terdapat metode ceramah dan diskusi.2)Tindakan (act) yang dimaksud adalah pelaksanaan yang dilakukan berdasarkan rancangan yang dibuat yaitu mempraktekkan sesuai rencana pembelajaran yang dibuat.3)Pengamatan (observe) dilakukan ketika tindakan itu terjadi dengan mencatat permasalahan apa lagi yang perlu diperbaiki. yaitu mengamati kekurangan yang harus diperbaiki dalam proses pembelajaran. Kekurangan yang timbul di antaranya kurang tepatnya metode yang diterapkan pada proses pembelajaran tersebut. Refleksi (reflect) tindakan mengevaluasi uji coba yang telah dilakukan yaitu tinjauan kembali dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dalam proses pembelajaran. Memperbaikinya dengan menerapkan metode yang sesuai pada siklus ke 2. Instrumen penelitian ini berfungsi sebagai panduan pelaksanaan pengumpulan data yang dipilih. Untuk mendapatkan data data yang dimaksud dalam penelitian ini maka digunakan instrument berupa 1) pedoman observasi untuk guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran berlangsung serta 2) soal tes yang dibuat oleh guru yang disesuaikan dengan materi dan kurikulum yang berlaku. Untuk keperluan tes peneliti menggunakan instrument panduan tes yang memuat sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk mendapatkan informasi dari responden yaitu siswa. Prosedur tes yang dipakai adalah peneliti memberikan tes kepada siswa sesudah pembelajaran selesai. Tes ini digunakan untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran dengan menggunakan Metode Diskusi pada siswa kelas V di SDN Kedungdowo I Kab Nganjuk. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif yaitu analisis yang disajikan dalam bentuk kata-kata atau kualitatif (Arikunto 2003). Pertama kali yang dilakukan oleh peneliti yaitu kegiatan memilah dan memilih data yang pantas untuk dipaparkan kedua melakukan pemaparan data dan ketiga pengambilan kesimpulan. Analisis data dilakukan sebelum dan sesudah penelitian tindakan kelas dilakukan. Dari penjelasan di atas maka dapat dilakukan beberapa tindakan penelitian sebagai berikut a)Data hasil belajar diambil dengan memberikan tes kepada siswa.b)Data tentang pelaksanaan pembelajaran pada saat dilaksanakannya tindakan kelas ini diambil dari lembar pengamatan.c)Data tentang refleksi diri serta perubahan-perubahan yang terjadi di kelas diambil dari catatan pengamat dan peneliti.d)Tes akhir siklus dianalisa dengan menggunakan teknik analisa deskriptif persentase. Kriteria yang digunakan adalah apabila siswa memperoleh nilai 70 berarti siswa telah tuntas belajar dan apabila siswa memperoleh nilai kurang dari 70 berarti siswa belum tuntas belajar. Dari hasil tes tersebut dapat diketahui tentang ketuntasan belajar siswa. Ketuntasan belajar siswa dilihat dari skor pencapaian hasil belajar. Hasil belajar dari observasi pra siklus siklus I dan siklus II dianalisis untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dan daya serap klasikal. Caranya dengan menganalisis nilai tes menggunakan kriteria ketuntasan belajar. Tujuannya untuk mengetahui daya serap siswa dimana seorang siswa disebut tuntas belajar jika mencapai rerata skor 8805 70 dan daya serap klasikal 8805 70 % artinya jika 70 % siswa mencapai nilai 8805 70. Berdasarkan standar ketuntasan minimal yang dimiliki oleh SDN Kedungdowo I Nganjuk (Tim Penyusun KTSP 2006 32) rumus pencapaian rata-rata skor dan daya serap klasikal dapat diperoleh sebagai berikut Nilai ketuntasan individu B adalah skor siswa (2 x butir soal yang dijawab benar) N adalah total skor Nilai ketuntasan klasikal I adalah jumlah siswa yang tuntas K adalah jumlah siswa dalam kelas Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan rumus P adalah angka persentase f adalah frekuensi yang sedang dicari persentasenya n adalah jumlah frekuensi/banyak individu (Sudijono 2005 43) Setelah dianalisis kemudian dikonsultasikan dengan kriteria sebagai berikut No Nilai Kriteria 1 8804 60 Sangat Kurang 2 60 1 70 Kurang Baik 3 70 1 80 Cukup Baik 4 80 1 90 Baik 5 90 1 100 Sangat Baik Observasi dilakukan oleh guru kelas dan teman sejawat. Observasi ini dilakukan untuk mengamati kegiatan guru maupun siswa selama proses pembelajaran. Untuk mengobservasi kegiatan guru digunakan APKG yang dapat dilihat pada tabel 3.2 untuk menilai kegiatan prasiklus siklus I dan siklus II. Sedangkan untuk mengamati kegiatan siswa selama pembelajaran digunakan lembar observasi aktivitas siswa untuk observasi pra siklus siklus I dan siklus II. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pada penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS di Kelas V bertujuan untuk melatih siswa dalam menemukakan ide keaktifan kerja sama serta tanggung jawab siswa terhadap tugas yang di berikan. Metode diskusi dilaksanakan dengan membagi siswa dalam beberapa kelompok yang heterogen yaitu dengan memperhatikan tingkat intelektual siswa. Hal ini dilakukan agar dalam setiap kelompok terdapat keheterogenan kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Dalam melaksanakan pembelajaran guru harus mampu menerapkan metode yang sesuai dalam pembelajaran. Penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS merupakan salah satu cara yang tepat dalam pelaksanaan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh (Sudjana 2000 91) yang mengungkapkan bahwa metode diskusi adalah suatu cara penyampaian informasi atau materi pelajaran yang selain dilakukan secara lisan juga divariasikan (dikombinasikan) penggunaanya dengan cara penyampaian lain seperti tanya jawab pemberian tugas dan sebagainya. Adanya kombinasi dari beberapa metode ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran telah dikuasai oleh siswa untuk merangsang siswa aktif dan untuk lebih memantapkan penguasaan siswa terhadap bahan/materi yang telah disampaikan sehingga dapat berpengaruh baik terhadap hasil belajar yang dicapai siswa . Pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan metode diskusi di awali dengan menemukan permasalahan yaitu dalam hal ini akan meningkatkan hasil belajar siswa. Setelah merumuskan permasalahan peneliti menyusun perencanaan tindakan untuk siklus I. Dari perencanaan tersebut kemudian dilaksanakan. Pada saat pelaksanaan guru didampingi guru kelas melakukan pengamatan terhadap jalannya pembelajaran. Pengamatan yang telah diperoleh di refleksi untuk perbaikan pelaksanaan pembelajaran disiklus berikutnya. Begitu seterusnya sampai tercapainya tujuan pembelajaran berhasil. Temuan penelitian tentang peningkatan aktifitas pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi disajikan dalam tabel berikut memberikan informasi bahwa pengelolaan pembelajaran dari setiap siklus menunjukkan peningkatan ke arah yang lebih baik. Jika pada siklus I guru tidak menggunakan metode diskusi dalam pelaksanaan pembelajaran skor pembelajaran medapatkan nilai 13 hal ini tidak terjadi pada siklus I maupun siklus II. Hal ini disebabkan karena pada siklus I dan II guru melakukan persiapan pembelajaran secara matang selain itu dalam pelaksanaan siklus I dan siklus II ini guru menjadi mengerti apa-apa saja yang harus dilakukannya dalam pembelajaran sesuai dengan prosedur menerapkan metode diskusi. Pelaksanaan proses diskusi dapat meningkatkan ketrampilan siswa dalam menggungkapkan gagasan menjalin kerja sama serta melatih siswa untuk bertanggung jawab. Hal in dibuktikan adanya persentase peningkatan dari 46 8% menjadi 87 5%. Pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi khususnya pada mata pelajaran IPS yang di laksanakan di Kelas V SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat terlihat dari pencapaian hasil belajar yang diperoleh siswa yaitu meningkat pada tiap siklusnya. peningkatan rata-rata hasil belajar siswa sebesar pada 57 75 prasiklus pada 71 siklus I menjadi 77 6 pada siklus II peningkatan ketuntasan kelas dari 25% pada prasiklus 65 6% pada siklus I menjadi 90 6% pada siklus II. Maka penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS dapat membawa dampak yang baik bagi peningkatan hasil prestasi belajar siswa. Walaupun keadaan ini belum mencapai 100% paling tidak dari jumlah siswa di kelas V sudah bisa di kategorikan tuntas belajar. Paparan di atas memberikan informasi bahwa apabila metode diskusi diterapkan sesuai dengan prosedur yang berlaku maka akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik secara kelompok maupun individu. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Metode diskusi adalah suatu cara penyampaian informasi atau materi pelajaran yang selain dilakukan secara lisan juga divariasikan (dikombinasikan) penggunaanya dengan cara penyampaian lain seperti tanya jawab pemberian tugas dan sebagainya. Adanya kombinasi dari beberapa metode ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran telah dikuasai oleh siswa untuk merangsang siswa aktif dan untuk lebih memantapkan penguasaan siswa terhadap bahan/materi yang telah disampaikan sehingga dapat berpengaruh baik terhadap hasil belajar yang dicapai siswa. Dalam pembelajaran IPS sangat mendukung sekali dalam pencapaian tujuan pembelajaran dikarenakan dalam pembelajaran IPS siswa tidak memiliki motivasi untuk belajar karena dipandang pembelajaran IPS merupakan pelajaran yang tidak penting. Dengan menggunakan metode diskusi pembelajaran IPS siswa lebih termotivasi untuk mengikuti pembelajaran IPS. Karena dalam pembelajaran melibatkan siswa dalam kegiatan belajar yang aktif melakukan diskusi dalam pembelajaran Peneliti membuktikan bahwa dengan menerapkan metode diskusi pada pembelajaran IPS denagn materi pokok Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Terbukti dari hasil kegiatan penelitian mulai dari pra tindakan ke siklus I sampai siklus II hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat terlihat dari pencapaian hasil belajar yang diperoleh siswa yaitu meningkat pada tiap siklusnya. peningkatan rata-rata hasil belajar siswa sebesar pada 57 75 prasiklus pada71 siklus I menjadi 77 6 pada siklus II peningkatan ketuntasan kelas dari 25% pada prasiklus 65 6% pada siklus I menjadi 90 6% pada siklus II. Maka penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS dapat membawa dampak yang baik bagi peningkatan hasil prestasi belajar siswa. Tentunya disertai dengan metode yang tepat untuk memperlihatkan keaktifan siswa mengikuti pelajaran sebagai bentuk meningkatnya motivasi siswa. Saran Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian pembahasan dan penarikan kesimpulan adalah dengan menerapkan Metode dikusi dalam pembelajaran IPS di kelas V SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk dapat meningkatkan hasil dan proses pembelajaran pada siswa sehingga metode pembelajaran ini hendaknya dapat diterapkan oleh guru untuk meningkatkan hasil dan proses pembelajaran pada siswa baik pada mata pembelajaran IPS maupun pada pembelajaran lainnya sehingga akan menambah referensi guru dalam memfasilitasi siswa mencapai tujuan pembelajaran.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: ?? ??
Divisions: Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) > Departemen Kependidikan Sekolah Dasar & Prasekolah (KSDP) > S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Depositing User: library UM
Date Deposited: 07 Jun 2010 04:29
Last Modified: 09 Sep 2010 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/103192

Actions (login required)

View Item View Item