Realisme Magis Teks Babad Nusantara (Studi Realisme Magis Wendy B. Faris dalam Serat Babad Songennep Karangan Raden Werdisastra) / Ahmad Junaidi

Junaidi, Ahmad (2018) Realisme Magis Teks Babad Nusantara (Studi Realisme Magis Wendy B. Faris dalam Serat Babad Songennep Karangan Raden Werdisastra) / Ahmad Junaidi. Diploma thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

RINGKASAN Junaidi, Ahmad. 2018. Realisme Magis Teks Babad Nusantara (Studi Realisme Magis Wendy B. Faris dalam Serat Babad Songennep Karangan Raden Werdisastra). Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Sunoto, M.Pd. Penelitian ini dilakukan dengan mengangkat isu realisme magis di Indonesia sebagai kajian yang digunakan untuk mengapresiasi teks sastra lama. Fokus penelitian ini adalah mengklasifikasi lima karakteristik realisme magis dalam Serat Babad Songennep karangan Raden Werdisastra dan membuktikan bahwa Serat Babad Songennep dapat dikategorikan sebagai karya sastra realisme magis berdasarkan karakteristik yang dikonsep oleh Wendy B. Faris dalam bukunya yang berjudul Ordinary Enchantment and The Remistification of Narrative (2004). Karakteristik itu diantaranya adalah irreducible element (elemen yang tidak tereduksi), phenomenal world (dunia fenomenal atau realistis), unsettling doubt (keraguan yang magis dan real), merging realms (penggabungan yang magis dan real), dan disruption of time, space, and identity (kekacauan ruang, waktu, dan identitas). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa Serat Babad Songennep karya Raden Werdisastra merupakan karya realisme magis, karena memiliki kelima karakter realisme magis. Pada karakteristik pertama terdapat peristiwa ekstraordinari, yaitu kehamilan Potre Koneng, peristiwa pembakaran Jokotole, menghilangnya Adi Poday dan Megaremmeng, kesaktian Ke' Lesap mengubah wujud binatang, dan peristiwa lainnya yang tidak dapat dilogikakan atau dijelaskan secara rasio dan berlawanan dengan hukum alam. Dengan kata lain, peristiwa irreducible melukiskan persitiwa supranatural dan ekstraordinari. Peristiwa ekstraordinari dimunculkan oleh tokoh Jokotole atau Arya Kodapanole, Adirasa, dan KeÔÇÖ Lesap sebagai orang-orang dengan kekuatan supranatural dan banyak menciptakan peristiwa irrasional. Karakteristik irreducible Babad Songennep berprinsip bahwa spiritualitas hidup untuk mencapai kedigdayaan, sedangkan kebangkitan untuk mencapai keabadian. Kedua, Serat Babad Songennep terbukti sebagai karya sastra babad dengan karakteristik phenomenal world yang kuat. Dunia realis dalam Serat Babad Songennep adalah Madura, khususnya Sumenep beserta keraton-keraton di tiap wilayah, dunia zaman kerajaan Majapahit sampai penjajahan Belanda, peperangan, tempat-tempat bersejarah, pagelaran sennen (sodoran) dan kesenian daerah seperti tandak, dan dunia sehari-hari pada umumnya, yaitu dunia yang kita tempati. Ketiga, narasi unsettling doubt dapat dilihat pada narasi Jokotole dan kemampuannya menempa besi tanpa alat bantu, Gunung Geger yang konon katanya angker, perahu Ki Juragan yang tidak mau berjalan, entah karena memang Jokotole dan Agus Wedi yang keramat atau ada hal lain tersembunyi, lalu kuda liar yang hanya jinak pada Jokotole, dan peristiwa lain yang memiliki keraguan dari segi perspektif, properti objek, ataupun teks Babad Songennep itu sendiri vi Keempat, Serat Babad Songennep memiliki karakteristik merging realms, antara lain adalah pertemuan Potre Koneng dan Adi Poday dalam alam mimpi atau alam ghaib dan bertemunya almarhum Pangeran Batopote dengan sang permaisuri yang merupakan pertemuan antara orang yang sudah hidup dengan yang sudah mati, dan juga pasukan jin yang membantu KeÔÇÖ Lesap dalam peperangan. Dalam proses penggabungan antar dunia tersebut, realisme magis mengaburkan batas antara yang fakta dan fiksi dengan cara menghilangkan mediasi antara kenyataan yang berbeda. Kelima, Serat Babad Songennep melukiskan kekacauan akan waktu, ruang, dan identitas yang dapat dilihat pada tokoh Potre Koneng dan Adi Poday. Diceritakan bahwa keduanya melakukan persenggamaan lewat mimpi dan menyebabkan Potre Koneng hamil kemudian. Identitas pelaku menjadi kacau di sini akibat ruang dan waktu yang tidak sejalan dengan realitas. Kekacauan terhadap ruang dan waktu juga terjadi pada peristiwa kedatangan Adirasa secara tiba-tiba saat Jokotole berdoa sebelum mengangkat pintu gerbang Majapahit, menghilangnya Adi Poday beserta kuda Megaremmeng, dan kekacauan lainnya yang semakin rumit dan mengacaukan banyak hal. Teks Babad Songennep sebagai sebuah karya sastra fiksi dan sejarah mempertegas sebuah wacana mengenai model narasi yang menggabungkan peristiwa magis dan peristiwa real, bahkan narasi yang mengacauakan kedua dimensi tersebut. Lebih jauh lagi, Serat Babad Songennep karangan Raden Werdisastra mempertegas wacana model naratif yang mematahkan pandangan bahwa hidup dan kehidupan tidak selamanya mampu diakumulasi hal-hal yang bersifat science dan rasional Kata Kunci: babad songennep, mitos, raden werdisastra, realisme magis, sastra, sejarah

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: P Language and Literature > PIN Indonesian Literature
Divisions: Fakultas Sastra (FS) > Jurusan Sastra Indonesia (IND) > S1 Bahasa dan Sastra Indonesia
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 26 Jul 2018 04:29
Last Modified: 09 Sep 2018 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/9950

Actions (login required)

View Item View Item