Peningkatan kemampuan berhitung 1 sampai 10 melalui penggunaan media hanger angka flanel bagi siswa tunagrahita ringan Kelas II di SDLBN Bendo Kota Blitar / Wahyu Pradana

Pradana, Wahyu (2019) Peningkatan kemampuan berhitung 1 sampai 10 melalui penggunaan media hanger angka flanel bagi siswa tunagrahita ringan Kelas II di SDLBN Bendo Kota Blitar / Wahyu Pradana. Diploma thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

INCREASED NUMERACY SKILLS 1 TO 10 THROUGH TFHE USE OF FLANNEL NUMBER MEDIA HANGER FOR MILD MENTAL DISABILITY STUDENTS IN CLASS II AT SDLB NEGERI BENDO, BLITAR TOWN PENINGKATAN KEMAMPUAN BERHITUNG 1 SAMPAI 10 MELALUI PENGGUNAAN MEDIA HANGER ANGKA FLANNEL BAGI SISWA TUNAGRAHITA RINGAN KELAS II DI SDLB NEGERI BENDO KOTA BLITAR Wahyu Pradana, M. Shodiq, Agung Kurniawan, Email: pradanawahyu 979@gmail.com. Abstract: The purpose of this study is to describe the us of flannel number media hanger for mild mental disability students in class II in improving numeracy skill 1 to 10 at SDLB Negeri Bendo, Blitar town and to describe capacity building counting by using media hanger numeral flannel. This study uses a classroom research action. This research was conducted in accordance with planning, implementation, observation and reflection. The results of this study is the use of flannel number media hanger can increase the ability to count 1 to 10 for mild mental disability in class II at SDLB Negeri Bendo, Blitar town. Keyword: Media hanger number flannel ability to count 1 to 10, mild mental disability Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan penggunaan media hanger angka flannel bagi siswa tunagrahita ringan kelas II dalam meningkatkan kemampuan berhitung 1 sampai 10 di SDLBN Bendo Kota Blitar dan mendiskripsikan peningkatan kemampuan berhitung dengan menggunakan media hanger angka flannel. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini dilakukan sesuai dengan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penggunaan media hanger angka flanel dapat meningkatkan kemampuan berhitung 1 sampai 10 bagi siswa tunagrahita ringan kelas II di SDLBN Bendo Kota Blitar. Kata kunci: Media Hanger Angka Flanel, Kemampuan berhitung 1 sampai 10, Tunagrahita ringan Pendidikan bagi anak yang mengalami hambatan, penyandang kelainan atau ketunaan ditetapkan oleh pemerintah dalam Amanat Undang ÔÇô Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikaan Nasional Pasal 32 disebutkan bahwa: ÔÇ£pendidikan khusus (pendidikan luar biasa) merupakan pendidikan yang diselenggarakan bagi anak yang memiliki kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosialÔÇØ. Ketetapan dalam Undang ÔÇô undang No.20 Tahun 2003 tersebut bagi anak penyandang kelainan sangat berarti karena memberikan landasan yang kuat bahwa anak berkelainan perlu memperoleh kesempatan yang sama sebagaimana yang diberikan kepada anak normal lainnya dalam hal pendidikan dan pengajaran tanpa terkecuali anak yang mengalami hambatan kecerdasan. Dalam proses pembelajaran pada siswa yang mengalami keterbatasan pada fungsi kognitifnya tidak mampu untuk meraih prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan anak normal karena siswa cenderung memiliki daya ingat yang sangat lemah. Bagi anak tunagrahita pelajaran matematika merupakan pelajaran yang sulit dan rumit karena membutuhkan ketelitian dan tingkat pemahaman yang lebih tinggi daripada pelajaran yang lain yang ada di sekolah luar biasa. Hasil observasi menunjukan bahwa pembelajaran matematika di kelas II siswa tunagrahita ringan SDLBN Bendo Kota Blitar masih belum optimal. Dalam pembelajaran matematika kegiatan yang dilakukan oleh guru antara lain: (1) Pada kegiatan pembelajaran guru masih menekankan pengajaran yang berpusat pada guru sehingga siswa belum diberikan kesempatan untuk mencoba sendiri dalam kegiatan belajar, (2) Dalam kegiatan mengajar guru hanya menyampaikan materi secara langsung tidak diimbangi dengan penggunaan media sehingga siswa merasa jenuh dan bosan, (3) Dalam menjelaskan materi kepada siswa guru hanya menggunakan media seadanya berupa papan tulis yang ada di dalam kelas sehingga terlihat siswa kurang tertarik dalam mengikuti pembelajaran, (4) Kurangnya media peraga pembelajaran. Dalam kurikulum K13 siswa tunagrahita kelas II SDLB seharusnya sudah mampu mengenal angka 1 sampai 10 namun permasalahan yang peneliti temukan di lapangan bahwa siswa tunagrahita kelas II di SDLBN Bendo Kota Blitar belum mampu mengenal angka dengan baik dan benar. Dari permasalahan tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran perlu digunakan oleh guru karena untuk mengurangi kesulitan dalam materi mengenal angka 1 sampai 10 sehingga menumbuhkan pembelajaran yang kreatif.. Berdasarkan kesulitan diatas, diperlukan adanya solusi yang kreatif dan inovatif dalam pembelajaran mengenal angka 1 sampai 10 melalui media pembelajaran berupa hanger angka flannel. Menurut penelitian terdahulu Dewi (2013) menyimpulkan bahwa Bermain hanger angka dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dimana aktivitas anak lebih meningkat, pada siklus I prosentase kemampuan kognitif mencapai 46,25% dan pada siklus II menjadi 81,25% dan penerapan bermain hanger angka dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A TK Pertiwi Kamulan Kabupaten Blitar. Melihat dari hasil observasi kemampuan kognitif anak juga menunjukkan peningkatan. Dengan penggunaan media ini peneliti berharap siswa tunagrahita ringan dapat tertarik dan termotivasi mengikuti proses pembelajaran dalam pelajaran mengenal angka 1 sampai 10. Penggunaan media hanger angka flannel ini dengan cara menggantungkan hanger yang sudah dibentuk didalamnya terdapat item-item berupa angka dan bentuk yang lain sehingga siswa tunagrahita ringan dapat benar- benar memahami dan mengerti konsep dasar mengenal angka. Karena kesulitan itulah maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang Peningkatan Kemampuan Berhitung 1 sampai 10 Melalui Penggunaan Media Hanger Angka Flannel Bagi Siswa Tunagrahita Ringan Kelas II DI SDLBN Bendo Kota Blitar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan media hanger angka flannel bagi siswa tunagerahita ringan kelas II di SDLBN Bendo Kota Blitar terhadap peningkatan kemampuan berhitung 1 sampai 10 dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan berhitung dengan menggunakan media hanger angka flannel. METODE Dalam rancangan penelitian, peneliti menggunakan metode PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Menurut Wiriaatmadja (2006) Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru terhadap siswa melalui refleksi diri dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar meningkat. Dalam penelitian tindakan kelas ini, bentuk siklus yang digunakan adalah bentuk yang dikemukakan oleh Kemmis & MC. Taggart (dalam Wiriaatmadja, 2008) yang terdiri dari 4 komponen yaitu: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Meskipun penelitian tindakan kelas dirancang secara bersiklus, tetapi peneliti tidak dapat menentukan berapa siklus yang akan dilakukan. Penelitian akan diakhiri jika masalah sudah teratasi dan terdapat peningkatan pada kualitas dan hasil pembelajaran. Peneliti akan merencanakan aktifitas pada siklus satu yang terdiri dari beberapa tahapan antara lain: perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Jika kemampuan anak dalam mengenal angka belum maksimal, maka peneliti akan merencanakan aktivitas pada siklus kedua dengan pelaksanaannya mengacu pada hasil refleksi siklus pertama. Dalam penelitian ini kriteria subyek adalah anak tunagrahita ringan, tidak mengalami ketunaan ganda, aktif masuk sekolah, anak tunagrahita ringan yang sama dari kelas I. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas II SDLBN Bendo Kota Blitar yang berjumlah 5 siswa, dengan rincian 3 siswa laki-laki dan 2 siswa perempuan. Kehadiran peneliti di lapangan mutlak diperlukan karena peneliti bertindak sebagai instrumen, maksudnya adalah peneliti sebagai perencana kegiatan, pelaksana pembelajaran, pengumpul data, penganalisa dan pelapor hasil penelitian. Dan yang bertindak sebagai observer pada saat penelitian adalah mitra peneliti ( guru kelas II ). Observer bertugas mengamati pada saat peneliti melaksanakan tindakan pembelajaran.sesuai dengan lembar observasi dari peneliti. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, tes, dan dokumentasi. Observasi yang dimaksudkan adalah untuk mengamati aktivitas guru dan siswa. Peneliti sebagai guru mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung secara menyeluruh. Pengamat selaku mitra peneliti mengamati aktivitas guru dengan bantuan lembar observasi yang telah dirancang berdasarkan aspekaspek yang mengacu pada rencana pembelajaran. Sedangkan tes dalam penelitian ini adalah mengukur kemampuan siswa dalam mengenal bilangan setelah mengikuti pembelajaran. Data hasil belajar siswa diperoleh dari hasil tes yang diberikan kepada siswa pada akhir pembelajaran. Dokumentasi yang dibutuhkan berupa foto kegiatan pembelajaran dan nilai tugas siswa terkait kegiatan pembelajaran matematika. Prosedur penelitian ini meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Analisis data merupakan proses menyeleksi, menyederhanakan, memfokuskan, mengabstarksikan, mengorganisasi data secara sistematis dan rasional untuk menyusun jawaban terhadap tujuan penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data deskriptif kuantitatif. Analisis secara deskriptif untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran. Analisis kuantitatif dalam penelitian ini dilakukan terhadap hasil belajar siswa tentang mengenal angka 1 sampai 10. Hasil belajar siswa diukur untuk mengetahi taraf keberhasilan tindakan yang telah dilakukan. Tes hasil belajar dilakukan setiap akhir pada setiap pertemuan per- siklus. Skor yang diperoleh dicari rata-ratanya untuk mengetahui ratarata hasil belajar kelas setelah diadakan tindakan. Perbandingan yang diperoleh dari hasil belajar rata-rata setiap siklus dapat menunjukkan bahwa tindakan yang diberikan mengalami peningkatan hasil belajar siswa atau tidak. Berikut ini rumus nilai rata-rata hasil belajar siswa menurut Arikunto, (2008) Keterangan : : Nilai rata-rata Σ : Jumlah skor keseluruhan N : Jumlah siswa Siswa tunagrahita ringan dapat dikatakan berhasil apabila memenuhi hasil yang sesuai dengan standar ketuntasan minimal yang telah ditentukan oleh sekolah atau dengan hasil belajar yang berada diatas standar ketuntasan minimal yang telah ditentukan. Dalam hasil belajar, siswa dikatakan berhasil apabila sudah mencapai nilai ≥70. Sedangkan ketuntasan klasikal yang akan diperoleh dari banyaknya siswa dikelas yaitu minimal 70%. Berikut ini rumus presentasi yang akan peneliti gunakan dalam mengetahui ketuntasan belajar siswa: kb = Ni/N ?ù100% Keterangan : Kb : Ketuntasan belajar Ni : Banyak siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 N : Banyak siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran Indikator keberhasilan belajar siswa dalam mengenal angka pada penelitian ini yaitu apabila rata-rata kelasnya mencapai 70% dengan ketuntasan klasikal 70% dari jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan minimal. Siswa dikatakan tuntas belajar apabila memperoleh hasil belajar minimal 70. HASIL Dari hasil yang diperoleh setelah melakukan penelitian dengan menggunakan media hanger hangka flannel diperoleh bahwa hasil belajar siswa pada siklus I menunjukan peningkatan dibandingkan dengan hasil belajar pada saat pratindakan Daftar Nilai Siswa Pratindakan No Nama Hasil Pre Test Tuntas Tidak Tuntas 1 RD 60 V 2 MRD 70 V 3 MHK 55 V 4 MSE 60 V 5 DAF 65 V JUMLAH 310 RATA-RATA 62,00 PRESENTASE KETUNTASAN 20% 80% Hasil Belajar Siswa Siklus I NO. NAM A EVALUASI PERTEMU AN KEJUMLAH SKOR AKHIR KKM KETUNTASA N 1 2 (T) (TT) 1 RD 70 70 140 70 70 V 2 MRD 80 70 150 75 70 V 3 MHK 60 60 120 60 70 V 4 MSE 60 60 120 60 70 V 5 DAF 70 80 150 75 70 v JUMLAH 340 3 2 RATA-RATA 68,00 Keterangan: T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Berdasarkan pembelajaran di kelas II pada siklus I tentang materi mengenal angka 1 sampai 10, siswa yang belum mencapai standar ketuntasan minimal yaitu 70 mengalami penurunan dibandingkan pada saat pratindakan. Pada pra tindakan ada 4 siswa yang tidak tuntas dari 5 siswa atau 80 % sedangkan pada siklus I ada 2 siswa dari 5 siswa atau 40 %. Selain itu siswa yang telah mencapai standar ketuntasan pada siklus I mengalami peningkatan yaitu 3 siswa dari 5 siswa atau 60 % (kurang) sedangkan pada pra tindakan siswa yang mencapai standar ketuntasan ada 1 siswa atau 20 %. Nilai rata-rata kelas pada siklus I adalah 68 atau 68 % (kurang). Sedangkan SKM yang telah ditetapkan adalah 70 dengan rata-rata kelas 70 % dan ketuntasan klasikal minimal yang harus dicapai adalah 70% agar pembelajaran dikatakan berhasil. Hasil Belajar Siswa Siklus II Keterangan: T = Tuntas TT = Tidak Tuntas Dari pembelajaran siklus II siswa yang belum mencapai standar ketuntasan mengalami penurunan dibandingkan pada saat siklus I. Pada siklus I ada 2 siswa dari 5 siswa yang tidak tuntas atau 40 %. Sedangkan pada siklus II ada 1 siswa dari 5 siswa yang tidak tuntas atau 20 %. Siswa yang telah mencapai standar ketuntasan pada siklus II mengalami peningkatan yaitu 4 siswa dari 5 siswa atau 80 % (baik). Sedangkan pada siklus I siswa yang mencapai standar ketuntasan ada 3 siswa atau 60 % (kurang). Nilai rata-rata kelas pada siklus II adalah 80,00 atau 80,00 % (baik). maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas II Tunagrahita ringan pada siklus II sudah berhasil karena kelas sudah memenuhi kriteria keberhasilan yaitu KKM 70 dan ketuntasan klasikal minimal 70 %. Adapun siswa yang belum tuntas pada siklus II dikarenakan siswa mengalami kesulitan belajar dalam memahami pelajaran matematika. Melalui pengamatan observer didapatkan hasil pada siklus I pertemuan pertama, hasil observasi aktivitas guru adalah 76,66 kemudian pada pertemuan kedua meningkat menjadi 80,00. Nilai rata-rata aktivitas guru pada siklus I adalah 78,33. Adapun hasil pada siklus II pertemuan pertama, hasil observasi pada aktivitas guru adalah 86,66 kemudian pada pertemuan kedua hasilnya meningkat yaitu 90,00. Nilai rata-rata aktivitas guru pada siklus II adalah 88,33. Dari rata-rata tersebut aktivitas guru pada siklus II sudah dalam kategori sangat baik. Selain itu, hasil dari pengamatan aktifitas siswa pada saat pembelajaran menggunakan media hanger angka flannel pada siklus I pertemuan pertama aktivitas siswa mencapai jumlah 374,99 dengan nilai rata- NO. NAM A EVALUASI PERTEMU AN KEJUMLAH SKOR AKHIR KKM KETUNTASA N 1 2 (T) (TT) 1 RD 80 80 160 80 70 v 2 MRD 90 100 190 95 70 v 3 MHK 70 60 130 65 70 v 4 MSE 60 90 150 75 70 v 5 DAF 90 80 170 85 70 v JUMLAH 400 4 1 RATA-RATA 80,00 rata 74,99. Pada siklus I pertemuan 2 mencapai jumlah 399,98 dengan nilai rata-rata 79,99. Dari pertemuan pertama dan kedua diperoleh rata-rata aktivitas siklus I sebesar 77,49. Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran matematika mengenal angka 1 sampai 10 dengan menggunakan media hanger angka flanel pada siklus I sudah mengalami peningkatan dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua. Sedangkat hasil dari aktifitas siswa pada siklus II pertemuan I aktivitas siswa mencapai jumlah 408,31 dengan nilai rata-rata 81,66. Pada pertemuan pertama siswa sudah aktif dalam pembelajaran mengenal angka 1 sampai 10 menggunakan media hanger angka flanel. Pada siklus II pertemuan 2 nilai aktifitas siswa meningkat yaitu mencapai jumlah 416,32 dengan nilai rata-rata 83,26. Dari pertemuan pertama dan kedua diperoleh rata-rata aktivitas siklus II sebesar 82,49. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan media hanger angka flanel pada siklus II sudah mengalami peningkatan. PEMBAHASAN Dalam kegiatan pembelajaran dikelas sebelum diterapkanya penggunaan media pembelajaran berupa hanger angka flanel terdapat permasalahan dikelas yang tampak, antara lain siswa cenderung kurang terlibat dalam mengikuti pembelajaran, hal ini membuat siswa terlihat jenuh, bosan sehingga menciptakan suasana yang ramai sehingga tidak memperhatikan materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Hal itu terlihat dari observasi awal yang dilakukan oleh peneliti pada saat proses kegiatan pembelajaran berlangsung. Dalam pelaksanaan penggunaan media hanger angka flannel dilaksanakan sesuai dengan RPP yang telah dirancang terdiri dari 2 pertemuan setiap siklusnya terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Peneliti bertindak sebagai guru dan dibantu oleh guru mitra (guru kelas II) SDLBN Bendo Kota Blitar yang akan mengamati kegiatan-kegiatan penelitian pada pelaksanaan tindakan berlangsung. Dalam pertemuan I siswa diajarkan untuk membilang angka 1 sampai 5, mengurutkan angka 1 sampai 5, menghitung benda 1 sampai 5 dan menuliskan angka 1 sampai 5. Pada kegiatan inti guru menunjukan media yang akan digunakan berupa media hanger angka flannel. Dalam pembelajaran membilang angka dilakukan dengan cara guru mengajak semua siswa untuk membilang angka secara berututan berdasarkan angka yang sudah tertempel pada media hanger angka flanel. Kemudian pembelajaran menghitung benda dilakukan dengan cara guru mengambil item berupa baju warna-warni yang didalamnya terdapat angka nantinya digantungan satu persatu di tempat gantungan. Untuk pembelajaran menulis angka guru memberikan soal berupa menghitung benda yang berbentuk hati. Sedangkan dalam pembelajaran mengurutkan angka guru meminta siswa untuk mengurutkan angka dari angka 1 sampai 5. Pada pelaksanaan pertemuan II, siswa akan diajarkan untuk mengenal angka 1 sampai 10, untuk kegiatan awalnya dimulai dengan guru mempersiapkan media hanger angka flanel, sebelum menggunakan media hanger angka flanel anak diajak terlebih dahulu untuk membilang 1 sampai 5 yang sudah diajarkan dengan menggunakan bentuk hati. Kemudian pada kegiatan inti guru memperkenalkan media hanger angka flanel terhadap siswa dan menggunakan media hanger angka flanel dalam pembelajaran membilang angka 1 sampai 10, menghitung benda 1 sampai 10, mengurutkan angka 1 sampai 10, menulis angka 1 sampai 10. Pada pembelajaran membilang angka dilakukan dengan cara mengajak semua siswa untuk membilang angka secara berurutan berdasarkan angka yang sudah tertempel pada media hanger angka flanel. Kemudian pembelajaran menghitung benda dilakukan dengan cara mengambil item temple berupa bentuk hati kemudian ditempelkan pada hanger angka flanel yang sudah tersedia dan meminta siswa untuk menghitung bentuk hati. Pembelajaran mengurutkan angka guru meminta siswa untuk mengurutkan angka dari angka 1 sampai 10. Sedangkan untuk pembelajaran menulis angka guru memberikan soal berupa menghitung benda dengan cara menempelkan bentuk hati kemudian siswa diminta untuk menghitung jumlah bentuk hati kemudian menuliskan simbol bilangan yang sesuai dengan banyaknya benda yang ditempelkan oleh guru. Media hanger angka flanel merupakan salah satu media pembelajaran yang digunakan untuk mengenalkan konsep angka 1 sampai 10 dengan cara menempelkan item-item berupa bentuk benda seperti bentuk hati serta simbol bilangan. Kegiatan pembelajaran pengenalan angka 1 sampai 10 yang diawali dengan menghitung benda 1 sampai 10 dilanjutkan dengan pengenal simbol angka. Hal ini sesuai dengan pendapat Setyono (2005) tentang pembelajaran matematika yang diawali dengan pembelajaran dari benda konkrit, kemudian bayangan, dan dilanjutkan dengan simbol. Berdasarkan pengamatan, hasil belajar siswa mengalami peningkatan setelah menggunakan media hanger angka flannel. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer, diperoleh hasil pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru pada siklus I pertemuan I adalah 74,99 dan pada pertemuan II meningkat menjadi 79,99 sehingga rata-rata dari aktivitas pembelajaran guru pada siklus I adalah 78,33. Pada siklus II dilaksanakan dua kali pembelajaran, hasil pengamatan aktivitas guru dalam pembelajaran pada pertemuan I adalah 86,66 sedangkan pada siklus II pertemuan II diperoleh hasil yaitu 90,00 rata-rata pada siklus II adalah 88,33 dengan kategori sangat baik. Peningkatan dari siklus I ke siklus II dikarenakan guru sudah mampu mengkondisikan kelas , menyampaikan materi dengan jelas. Dengan pembelajaran secara berulang-ulang pada setiap pertemuan di setiap siklus maka kemampuan guru dalam mengajar akan semakin meningkat. Keberhasilan pembelajaran tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas guru dalam pembelajaran melainkan aktivitas siswa juga mempengaruhi. Pembelajaran akan berhasil jika siswa mampu aktif dan mengikuti pembelajaran dengan tertib. Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran menggunakan media hanger angka flanel pada siklus I pertemuan I adalah 74,99 sedangkan pada pertemuan II meningkat menjadi 79,99 sehingga diperoleh ratarata 77,49 dan dalam kategori baik. Pada siklus II hasil pengamatan yang diperoleh dalam aktivitas siswa pada pertemuan I adalah 81,66 dan pada pertemuan II meningkat menjadi 83,26 sehingga diperoleh nilai aktivitas siswa siklus II adalah 82,49 dengan kategori keberhasilan adalah baik. Selain aktivitas siswa dan guru keberhasilan juga dilihat dari hasil belajar siswa.Pada pembelajaran pra tindakan rata-rata yang diperoleh siswa 62,00 % meningkat pada siklus I menjadi 68,00 %. Berdasarkan hasil pada siklus I masih dibawah 70 % sehingga dikatakan belum berhasil. Kemudian dilanjutkan dengan siklus II rata-rata yang diperoleh adalah 80,00 % sehingga pada siklus II pembelajaran dikatakan berhasil karena sudah memenuhi kriteria rata-rata kelas lebih dari atau sama dengan 70%. Penentu keberhasilan hasil belajar dikelas juga di tentukan dengan tingkat ketuntasan klasikal kelas. Pada pra kondisi siswa yang tuntas pada pembelajaran mengenal angka 1 sampai 10 adalah 20 %, kemudian pada siklus I meningkat menjadi 60 % dan meningkat kembali pada siklus II yaitu 80 % sehingga pembelajaran dapat dikatakan berhasil karena sudah memenuhi kriteria ketuntasan klasikal yang telah ditentukan yaitu 70%. Dengan hasil pengamatan tersebut mulai dari pratindakan. sampai dengan siklus II maka pembelajaran dikatakan telah berhasil karena sudah memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Dalam kegiatan pembelajaran pada setiap siklus aktivitas siswa dan hasil belajar siswa dikatakan meningkat karena siswa sangat tertarik menggunakan media hanger angka flannel. Hal ini karena media hanger angka flanel merupakan media yang digunakan untuk menempelkan item berupa angka-angka dan item-item lainnya yang memiliki berbagai bentuk dan warna-warna yang menarik. Sehingga ketertarikan siswa dalam penggunaan media hanger angka flannel pada setiap pembelajaran menjadikan siswa lebih fokus dan aktif dalam pembelajaran mengenal angka 1 sampai 10. Dari analisis data diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan media hanger angka flanel dalam proses pembelajaran matematika tentang materi berhitung 1 sampai 10 meningkatkan hasil belajar siswa kelas II tunagrahita ringan SDLBN Bendo Kota Blitar. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Dewi (2013) yang menyimpulkan bahwa bermain hanger angka dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak kelompok A TK Pertiwi Kamulan Kabupaten Blitar. KESIMPULAN Penggunaan media hanger angka flanel dalam penelitian ini dapat digunakan untuk pembelajaran berhitung 1 sampai 10, meliputi kegiatan mengenal angka 1 sampai 10, menyebutkan angka 1 sampai 10, mengurutkan angka 1 sampai 10, menyebutkan banyaknya benda, menuliskan angka 1 sampai 10. Berdasarkan penelitan diketahui bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan setelah menggunakan media hanger angka flanel. Peningkatan yang terjadi dilihat dari nilai rata-rata kelas dan ketuntasan belajar pada siklus I dan siklus II. Pada siklus I nilai rata-rata mencapai 68,00 % dengan ketuntasan belajar sebesar 60 %. Mengalami peningkatan pada siklus II dengan nilai rata-rata dengan ketuntasan belajar klasikal sebesar 80,00 % dengan kreteria baik. Secara klasikal sudah dapat dikatakan tuntas karena ketuntasan belajar siswa secara klasikal sudah mencapai 80 % dari nilai minimal yang ditentukan. SARAN Berdasarkan hasil penelitian, maka ada beberapa hal yang perlu direkomendasikan sebagai berikut: Sekolah diharapkan agar menggunakan media pembelajaran sesuai kebutuhan dan kemampuan karakteristik siswa berkebutuhan khusus. Guru dapat menggunakan media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berhitung 1 sampai 10 bagi siswa.Rekomendasi untuk peneliti selanjutnya memberikan pengetahuan tentang penggunaan media hanger angka flannel untuk meningkatkan kemampuan siswa. DAFTAR RUJUKAN Arikunto, 2008. Dasar Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Dewi, 2013. Peningkatan Kemampuan Kognitif Melalui Bermain Hanger Angka Pada Anak Kelompok A TK Pertiwi Kamulan Talun Kabupaten Blitar. Skripsi tidak diterbitkan. Universitas Negeri Malang Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor:10/D/KR/2017 tentang Struktur Kurikulum, Kompetensi Inti-Kompetensi Dasar, dan Pedoman Implementasi Kurikulum 2013 Pendidikan Khusus. Setyono, 2005. Mathemagics. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Undang-undang RI NO 20 Tahun 2003. Tentang System Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) Beserta Penjelasannya. 2003. Bandung: Focus Media. Wiriaatmadja. 2006. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: ?? ??
Divisions: Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) > Jurusan Pendidikan Luar Biasa(PLB) > S1 Pendidikan Luar Biasa
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 08 Jan 2019 04:29
Last Modified: 09 Sep 2019 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/9095

Actions (login required)

View Item View Item