Adaptasi naskah babad Arya Penangsang ke dalam pertunjukan kentrung kreasi lakon Tumetesing Ludira Kasultanan Demak: kajian alih wahana sastra / Agista Indriawati

Indriawati, Agista (2019) Adaptasi naskah babad Arya Penangsang ke dalam pertunjukan kentrung kreasi lakon Tumetesing Ludira Kasultanan Demak: kajian alih wahana sastra / Agista Indriawati. Diploma thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

RINGKASAN Indriawati, Agista. 2019. Adaptasi Naskah BabadArya Penangsang ke dalam Pertunjukan Kentrung Kreasi Lakon “Tumetesing Ludira Kasultanan Demak”: Kajian Alih Wahana Sastra. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Taufik Dermawan, M.Hum. Kata kunci: babad, kentrung kreasi, adaptasi Babad merupakan salah satu naskah kuno yang hingga saat ini menjadi sumber bacaan sejarah. Naskah ini diyakini telah ada sejak zaman Kerajaan Mataram tahun 1612 dan ditulis sendiri oleh raja-raja yang pernah memimpin di tanah Jawa. Babad telah mengalami penulisan ulang dan translasi selama kurang lebih 200 tahun. Namun, naskah babad dan tulisan-tulisan di dalamnya tetap asli dan autentik. Tulisan-tulisan yang ada dalam naskah babad itu sendiri berisi tentang kehidupan sosial, budaya, dan politik masyarakat serta fenomena-fenomena yang terjadi pada waktu penulisan. Fenomena-fenomena tersebut saat ini disebut sebagai fenomena sejarah. Babad Tanah Jawi merupakan naskah yang berpengaruh dalam tulisan sejarah tanah Jawa. Olehsebabitu, sampai saat ini, Babad Tanah Jawi masih diakui eksistensinya bahkan dijadikan bahan rujukan bagi penggiat-penggiat pertunjukan panggung modern maupun tradisional. Kentrung merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional yang masih ikut serta dalam pelestarian cerita babad. Kentrung merupakan seni pertunjukan yang bernafaskan Islam yang berkembang di wilayah Jawa Timur. Cerita yang dibawakan oleh kentrung biasanya berkisar pada cerita nabi-nabi, cerita kepahlawanan, legenda, dan cerita babad. Naskah babad ada sejak zaman kerajaan Islam di Jawa sehingga sering kali digunakan sebagai bahan rujukan penggiat-penggiat kentrung. Berbeda dengan kentrung tradisional, kentrung kreasi sudah mengalami sedikit perubahan pada beberapa aspek. Unsur yang ada dalam kentrung kreasi sudah bukan lagi hanya dalang dan panjak, tetapi dalang, panjak, pemain peran, danpemainmusik. Tokoh-tokoh yang ada dalam cerita sudah divisualisasikan oleh pemain peran sehingga bukan dalang dan panjak lagi yang berperan ganda sebagai pencerita dan sebagai pemain peran. Alat musik yang digunakan juga bervariasi. Terdapat berpaduan antara alat musik tradisional dengan alat musik modern yaitu saron, templing, kecrek, kendang, gitar listrik, bas, keyboard, dan drum. Aspek yang masih tetap dipertahankan adalah sumbercerita. Kentrung kreasi masih menggunakan babad, cerita legenda, kepahlawanan, dan cerita nabi-nabi sebagai rujukan dalam perancangan pertunjukan kentrung. Kentrung kreasi lakon Tumetesing Ludira Kasultanan Demak merupakan kentrung kreasi garapan UKM Blero Universitas Negeri Malang. UKM tersebut satu-satunya UKM yang bergerak di bidang kesenian kentrung di Malang. Kentrung kreasi tersebut dipertunjukan pada tahun 2016 di Gedung Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang. Pertunjukan ini dibuka untuk umum dan berbayar. Kentrung menjadi program kerja tahunan bagi UKM Blero. Setiap tahunnya kurang lebih UKM Blero mengadakan 4 kali pertunjukan kentrung kreasi. Tumetesing Ludira Kasultanan Demak mengambil cerita dari Babad Tanah Jawi yaitu kisahAryaPenangsang. Teori adaptasi Linda Hutcheon merupakan teori yang relevan untuk meneliti adaptasi dari babad ke kentrung kreasi. Teori yang digagas Hutcheon cakupannya lebih luas. Artinya semua karya dapat diadaptasi, tidak hanya novel dan film melainkan puisi, lukisan, opera, bahkan taman bermain dapat diadaptasi. Teori Linda Hutcheon memberi perhatian terhadap media dan konteks. Hutcheon memberi kebebasan terhadap media apapun untuk digunakan sebagai objek yang diadaptasi. Selain itu, Hutcheon juga menguraikan bahwa sebuah karya pasti dibingkai oleh ruang dan waktu. Secara langsung atau tidak langsung, dalam sebuah karya tercermin fenomena-fenomena sosial, budaya, dan politik yang terjadi pada kurun waktu tertentu. Ketika karya itu digunakan sebagai objek adaptasi di waktu dan tempat yang berbeda, karya itu akan digarap dengan sudut pandang yang berbeda sehingga menciptakan interpretasi yang berbeda pula. Selain itu, Hutcheon juga menggagas tiga modes of engagement atau mode keterlibatan, yaitu to tell, to show, dan to interact. Kemudian Hutcheon juga menguraikan pergantian mode yaitu telling ↔ showing, showing ↔ showing, dan interacting ↔ telling or showing. Pergantian mode yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah telling ↔ showing sebab sumber data yang digunakan adalah buku Babad Tanah Jawi (telling)dan pertunjukan kentrung kreasi Tumetesing Ludira Kasultanan Demak (showing). Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif dengan data berupa data teks dan data pertunjukan yang kemudian ditranskrip menjadi data teks. Data teks dan data pertunjukan yaitu berupa teks kutipan frasa, kalimat, dan juga paragraf yang didapatkan dari narasi, monolog, dan juga dialog tokoh. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara membaca buku Babad Tanah Jawi dan menonton video rekaman pertunjukan kentrung kreasi, mengidentifikasikan data tema, tokoh, karakter, alur, konteks sosial, budaya, dan artistik. Kemudian mendeskripsikan perubahan teks dan konteks yang ditemukan. Analisis data dilakukan dengan cara mengidentifikasikan, mendeskripsikan, mengklasifikasikan, menginterpretasikan, dan menyimpulkan. Validasi data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik tringulasi, yaitu peneliti mencari informasi dari berbagai sumber yang relevan untuk memperkaya data serta mendukung justifikasi. Hal yang menjadi fokus kajian atau hal yang berusaha peneliti temukan adalah perubahan tema, perubahan tokoh, perubahan karakter tokoh, perubahan alur, perubahan sosial, perubahan budaya, dan perubahan artistik. Temuan peneliti antara lain (1) kebaruantema, (2) pengurangan dan penambahan tokoh, (3) perubahan karakter dan citra tokoh, (4) pemangkasan alur, (5) perubahan konteks sosial, (6) perubahankonteks budaya, (7) dan perubahanunsur artistik. Itu semua berkaitan dengan durasi pertunjukan, penghematan jumlah SDM (pemain peran), dan untuk menjaga nama baik tokohsejarah yang ada di dalamcerita. Berdasarkan penjabaran di atas, peneliti memberi saran supaya (1) peneliti selanjutnyameneliti cerita babad yang diangkat ke dalam pertunjukan ketoprak, teater, ataupun opera. Selain itu, juga bisa meneliti cerita babad yang dijadikan komik anak atau buku cerita anak, (2) peneliti selanjutkan juga disarankan untuk meneliti pertunjukan kentrung lainnya yang mengambil cerita dari babad selain kisah Arya Penangsang. Misalnya kisah hidup Raden Ngabehi, (3) peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti kentrung yang berkembang di lingkungan pedesaan, bukan di lingkungan perkotaan seperti kentrung UKM Blero, (4) peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti dariperspektifkonteks politik, cara bertahan hidup, kepercayaan atau religi, danmitos-mitos.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: ?? ??
Divisions: Fakultas Sastra (FS) > Jurusan Sastra Indonesia (IND) > S1 Bahasa dan Sastra Indonesia
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 12 Nov 2019 04:29
Last Modified: 09 Sep 2019 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/66435

Actions (login required)

View Item View Item