Kegagalan siswa dalam mengonstruksi konsep pecahan dari perspektif teori APOS / Henry Kurniawan

Kurniawan, Henry (2018) Kegagalan siswa dalam mengonstruksi konsep pecahan dari perspektif teori APOS / Henry Kurniawan. Doctoral thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

vi RINGKASAN Kurniawan, Henry. 2018. Kegagalan siswa dalam Mengonstruksi Konsep Pecahan dari Perspektif Teori APOS, Disertasi, Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Akbar Sutawidjaja, M.Ed., Ph.D., (II) Dr. Abdur Rahman AsÔÇÖari, M.Pd., M.A., (III) Dr. Makbul Muksar, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: Kegagalan siswa, konstruksi konsep pecahan, dan APOS. Konstruksi pengetahuan siswa akan terbentuk apabila siswa melakukan proses konstruksi secara aktif. Dalam mengonstruksi konsep pecahan yang dilakukan siswa berarti memahami semua konsep-konsep yang mungkin dapat mewakili pecahan. Memahami konsep pecahan membantu siswa membangun landasan yang kuat terhadap pecahan itu sendiri. Pembangunan Konsep ini terjadi melalui situasi konkret, prosedur dan proses yang bergerak menuju abstraksi dari konsep-konsep matematika, untuk memahami simbol dan konsep mental. Perkembangan ini telah digambarkan sebagai: aksi-proses-objek-skema (APOS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses terjadinya kegagalan siswa dalam mengonstruksi konsep pecahan dilihat dari perspektif teori APOS. Subjek penelitian diambil dengan menggunakan purposive sampling yaitu sampling yang bertujuan. 40 siswa yang diambil sebagai calon subjek, dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu kelompok analog, semi analog dan non analog. Analog adalah aktivitas mental subjek yang membuat potongan gambar dengan benar, persis sama dengan gambar pada masalah. Semi analog adalah aktivitas mental subjek yang membuat potongan gambar yang sama dengan gambar masalah, sebanyak satu gambar yang tidak benar, dan non analog adalah aktivitas mental subjek yang membuat potongan gambar yang sama dengan masalah, sebanyak dua gambar yang tidak benar. Dari masingmasing kelompok diambil, satu siswa untuk kelompok analog, dua siswa untuk semi analog dan satu siswa non analog yang dijadikan sebagai subjek penelitian. Data penelitian diperoleh dari lembar tugas siswa yang dikerjakan dengan think aloud dan lembar wawancara. Hasil penelitian tentang kegagalan siswa dalam mengonstruksi konsep pecahan dari perspektif teori APOS adalah sebagai berikut: Pertama, proses kegagalan siswa dalam mengonstruksi konsep pecahan pada tahap aksi. Proses kegagalan siswa pada tahap aksi ini terjadi, saat membuat garis potong tanpa mengukur menjadi bagian-bagian yang sama pada gambar persegi panjang, lingkaran dan segitiga sama sisi (terlihat di ketiga subjek, yaitu subjek analog, subjek semi analog, dan subjek non analog). Kegagalan pada tahap aksi, juga terjadi pada saat menuliskan pecahan yang tidak sesuai antara simbol pecahan dengan gambar (terlihat di subjek semi analog), kesalahan pada saat melakukan arsiran dan menuliskan penjelasan untuk bagian yang tidak sama pada bagian yang berwarna merah, biru dan gabungan warna merah dan biru (terlihat di ketiga subjek). Kedua, proses kegagalan siswa dalam mengonstruksi konsep pecahan pada tahap proses. Proses kegagalan siswa pada tahap proses ini terjadi, saat membayangkan bentuk potongan yang tidak sama di semua daerah hasil pemotongannya sama dengan vii gambar semula, tidak memikirkan potongan yang sama dengan gambar yang dihadapi, sehingga ukuran pada pemotongan tersebut diabaikan. Siswa hanya membayangkan bentuk dan banyaknya potongan yang akan dilakukan saja (terlihat di subjek analog). Kegagalan pada tahap proses, juga terjadi pada saat membayangkan bentuk potongan yang tidak sama di semua daerah hasil pemotongannya, sama dengan satu gambar semula, sehingga mengakibatkan kesalahan dalam membayangkan banyaknya jumlah potongan. Siswa hanya membayangkan bentuk dan ukuran pemotongannya, tidak sama dengan hasil potongan yang dilakukan pada gambar (terlihat di subjek semi analog). Selanjutnya kegagalan pada tahap proses terjadi juga, pada saat siswa tidak membayangkan ukuran dan bentuk yang sama pada pemotongan di kedua gambar yang dihadapi (terlihat di subjek non analog). Ketiga, proses kegagalan siswa dalam mengonstruksi konsep pecahan pada tahap objek. Proses kegagalan pada tahap objek ini terjadi pada saat menetapkan pecahan, dan menetapkan bagian daerah yang diarsir pada gambar persegi panjang, lingkaran dan segitiga sama sisi untuk bagian yang berwarna merah, biru, dan gabungan warna merah dan biru yang tidak sesuai dengan konsep matematis (terlihat di ketiga subjek). Keempat, proses kegagalan siswa dalam mengonstruksi konsep pecahan pada tahap skema. Proses kegagalan siswa pada tahap skema ini terjadi pada saat siswa sudah menyakini apa yang dilakukannya sudah benar, mulai dari tahap aksi, proses dan objek, tidak sesuai dengan konsep ilmiahnya (terlihat di ketiga subjek).

Item Type: Thesis (Doctoral)
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisions: Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) > Jurusan Matematika (MAT) > S3 Pendidikan Matematika
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 11 Dec 2018 04:29
Last Modified: 09 Sep 2018 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/64553

Actions (login required)

View Item View Item