Proses berpikir guru dalam penyediaan scaffolding pada pembelajaran matematika / Anwar

Anwar (2017) Proses berpikir guru dalam penyediaan scaffolding pada pembelajaran matematika / Anwar. Doctoral thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Anwar, 2017. Proses Berpikir Guru dalam Penyediaan Scaffolding pada Pembelajaran Matematika. Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Purwanto, Ph.D., (II) Dr. Edy Bambang Irawan, M.Pd., (III) Dr. Abdur Rahman AsÔÇÖari, M.Pd., M.A. Kata Kunci: Dominan Kontingen Analitis, Dominan Kontingen Intuitif, Pembelajaran Matematika, Proses Berpikir Guru, Scaffolding Proses berpikir guru dan tindakan guru merupakan dua hal yang penting dan saling mempengaruhi untuk mencapai profesionalisme guru. Salah satu tindakan guru dalam pembelajaran yang memerlukan proses berpikir guru adalah menyediakan scaffolding kepada siswa yang bertanya. Penyediaan scaffolding tersebut seharusnya terjadi secara kontingen, yaitu bantuan pembelajaran oleh guru yang seimbang dengan tingkat pemahaman siswa. Oleh karena itu, guru perlu memikirkan hal-hal yang dapat mendorong pengambilan putusan secara tepat terkait dengan penyediaan scaffolding dalam pembelajaran. Beberapa penelitian yang ada baru mengungkap tindakan guru selama menyediakan scaffolding tetapi belum mengungkap proses berpikir guru. Padahal, mengungkap proses berpikir guru selama menyediakan scaffolding sangat membantu guru untuk memperkaya khasanah pengetahuan dalam rangka menghasilkan pembelajaran yang lebih baik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan teori proses berpikir guru yang dominan kontingen dalam menyediakan scaffolding pada pembelajaran matematika. Selanjutnya, karena penyediaan scaffolding guru dalam pembelajaran matematika sangat terkait erat dengan assignment yang digunakan guru, maka untuk mengungkap proses berpikir guru dalam penelitian ini dimulai sejak guru menyusun dan menggunakan assignment. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif (grounded theory design) yang dilakukan dalam konteks pembelajaran matematika, khususnya pada materi trigonometri. Subjek penelitian adalah dua guru matematika sekolah menengah atas, masing-masing memiliki karakteristik dominan kontingen analitis (GA) dan dominan kontingen intuitif (GI) ketika menyediakan scaffolding. Pemilihan materi dan kedua subjek tersebut berdasarkan hasil observasi jangka panjang yang dilakukan oleh peneliti terhadap pembelajaran yang dilaksanakan oleh 32 guru matematika sekolah menengah baik di Banda Aceh maupun di Malang dari bulan Februari hingga Oktober 2016. Pengumpulan data penelitian dilakukan sendiri oleh peneliti sebagai instrumen utama. Peneliti merekam pembelajaran yang dilakukan subjek menggunakan videotape. Perekaman difokuskan pada saat guru menyediakan scaffolding kepada siswa yang bertanya. Selanjutnya, peneliti memilih masing-masing satu fragmen scaffolding yang setara dari kedua subjek untuk kegiatan wawancara yaitu masalah sudut berelasi. Wawancara dilakukan dengan menggunakan metode stimulated recall, yaitu memutar kembali video tentang fragmen penyediaan scaffolding yang dilakukan subjek. Wawancara tersebut dimaksudkan untuk mengungkap proses berpikir subjek dalam membangkitkan ide, mengklarifikasi ide, dan mengases kewajaran ide berdasarkan tahapan berpikir Swartz. Wawancara dilakukan minimal dua kali yang berguna untuk mengecek keabsahan data, mengetahui kekonsistenan proses berpikir subjek, dan melengkapi kekurangan data. Selanjutnya, semua rekaman wawancara ditranskripsikan untuk kepentingan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses berpikir guru yang dominan kontingen analitis dan guru yang dominan kontingen intuitif dalam penyediaan scaffolding pada pembelajaran matematika adalah berbeda. Proses berpikir guru yang dominan kontingen analitis dalam penyediaan scaffolding, pada tahap membangkitkan ide, mempertimbangkan kondisi siswa (lupa atau ceroboh), kemampuan siswa (menengah ke bawah atau menengah ke atas), dan karak-teristik soal (sukar atau mudah). Pada tahap ini, guru lebih dominan mempertimbangkan kemampuan siswa (menengah ke atas dan menengah ke bawah) yaitu dengan menegaskan masalah menggunakan strategi diagnostik dan dilanjutkan dengan menggunakan strategi pemeriksaan atau strategi intervensi. Pada tahap mengklarifikasi ide, karena guru dominan mempertimbangkan kemampuan siswa, maka menurut guru: (1) untuk siswa yang berkemampuan menengah ke atas perlu disediakan scaffolding dengan langsung menggunakan strategi pemeriksaan atau strategi intervensi positif terhadap konsep yang diketahui siswa dan bersifat guiding atau probing. (2) untuk siswa yang berkemampuan rendah dapat disediakan scaffolding dengan langsung menggunakan strategi pemeriksaan atau strategi intervensi positif dan bersifat guiding. Pada tahap mengases ide, putusan guru cenderung dilakukan berdasarkan keyakinan yang diperoleh dari pengalaman. Untuk siswa yang berkemampuan menengah ke atas, guru cenderung memulai penyediaan scaffolding dengan menggunakan strategi pemeriksaan dan strategi intervensi yang diikuti oleh strategi diagnostik dan dominan bersifat guiding. Untuk siswa berkemampuan menengah ke bawah, guru cenderung memulai penyediaan scaffolding dengan menggunakan strategi diagnostik diikuti oleh strategi intervensi atau strategi pemeriksaan dan dominan bersifat recalling. Oleh sebab itu, kata tanya lebih banyak digunakan oleh guru selama penyediaan scaffolding. Proses berpikir guru yang dominan kontingen intuitif dalam penyediaan scaffolding, pada tahap membangkitkan ide, mempertimbangkan kondisi siswa (bingung, siswa sudah punya konsep sendiri) dan kemampuan siswa (menengah ke atas atau menengah ke bawah), serta proses dan hasil yang dicapai siswa. Pada tahap ini, guru cenderung mempertimbangkan kondisi siswa (bingung, ceroboh, atau salah bicara) yaitu dengan menegaskan masalah menggunakan strategi diagnostik dan strategi intervensi. Pada tahap mengklarifikasi ide, karena guru cenderung mempertimbangkan kondisi siswa, maka menurut guru mengimitasi proses yang pernah diberikan oleh guru pada pertemuan sebelumnya perlu dilakukan siswa agar tujuan, hasil dan proses yang diperoleh cepat ditemukan. Pada tahap mengases ide, putusan guru dilakukan berdasarkan keyakinan yang diperoleh dari pengalaman. Guru cenderung memulai penyediaan scaffolding dengan menerapkan strategi diagnostik yang diikuti oleh strategi intervensi untuk mengungkap fakta. Oleh sebab itu, kata perintah lebih banyak digunakan oleh guru selama penyediaan scaffolding. ABSTRACT Anwar, 2016. Teachers' Thought Processes of The Provision of Scaffolding in Teaching and Learning Mathematics. Postgraduate Program of Universitas Negeri Malang. Supervisors: (I) Prof. Purwanto, Ph.D., (II) Dr. Edy Bambang Irawan, M.Pd., (III) Dr. Abdur Rahman AsÔÇÖari, M.Pd., M.A. Keywords: Analitical Contingent Dominant, Intuive Contingent Dominant, Teachers' Thought Processes, Teaching and Learning Mathematics, Scaffolding The teachers' thought processes and actions are two essential things that influence each other to achieve the professionalism of teachers. One of the activities of the teachersÔÇÖ thought process is to provide scaffolding to students who pose a question. The provision of good scaffolding should occur in a contingent manner, i.e. the aids provided by teachers are equal with the level of student understanding. Therefore, teachers need to think through all the considerations that can lead to appropriate decision-making related to the provision of scaffolding in teaching and learning. The existing studies have explored the teachersÔÇÖ scaffolding activities but they have not revealed yet the thought processes of teachers. Indeed, revealing the thought processes of teachers during scaffolding is very helpful for teachers to enrich the knowledge for their best teaching and learning practice. Therefore, this study was aimed at producing the theory of the teachersÔÇÖ thought processes of contingent dominant during scaffolding. Furthermore, as the scaffolding provided by teachers was closely related to the assignment designed and implemented by the teacher, the processes of revealing the teachersÔÇÖ thought processes in this study have been started since teachers designed and implemented the learning assignment. This study, which was conducted in the context of teaching and learning mathematics, especially on trigonometry employed a qualitative approach (grounded theory design). The research subjects were two high school math teachers, each of whom has a characteristic of analytical contingent dominant (GA) and the intuitive contingent dominant (GI) during scaffolding. The selection of the two subjects and learning material (trigonometry) based on the long-term observation of the study conducted by 32 teachers of mathematics in secondary schools both in Malang and Banda Aceh (February ÔÇô October 2016). The data collection was conducted by the researcher as the main instrument whose teaching and learning implementation was recorded by the researcher using videotape recorder, especially when scaffolding was provided to students who posed a question. Having chosen each of the fragments of scaffolding that resembles the two subjects, interviews using stimulated recall method were conducted to reveal the subjectsÔÇÖ thought processes. The interview was intended to reveal the thought processes in the stages of generating ideas, clarifying ideas, and assessing ideas based on the stages of thinking proposed by Swartz. To check the validity of the data, determine the consistency of the thought processes of the subject, and complete the lack of data, both subjects were interviewed at least twice. Furthermore, all recorded interviews were transcribed verbatimly for the purpose of data analysis. The research has shown that the thought processes of analitical contingent dominant subject and intuitive contingent dominant subject in the provision of scaffolding in teaching and learning mathematics is different. At the stage of generating ideas, the thought processes of analitical contingent dominant subject in the provision of scaffolding consider several things: the conditions of the student (forgetfulness and careless), the ability of the student (lower middle and upper middle), and the characteristics of items (hard and easy). At the stage, the subject considered dominantly the abilities of student (middle to upper or lower middle), in terms of emphasizing the problems using the diagnostic strategy and continued with the examination or intervention strategies. At the stage of clarifying of the ideas, because the analitical contingent dominant subject considered the student's ability, he suggested: (1) for student whose ability was upper middle required to held scaffolding in the form of guiding or probing using checking strategies or interventions positively to the concept that students have already learned. (2) for the lower middle student, the checking or intervension strategy in the form of guiding could be directly performed. At the stage of assessing ideas, subject tends to draw a conclusion based on the belief gained from the experience. For middle-up student, subject tends to start scaffolding by implementing checking and intervention strategies followed by diagnostic strategies and dominantly in the form of guiding. For the case of lower-middle students, subjects tend to provide the scaffolding using diagnostic strategy followed by the intervention or checking strategies in the form of recalling. Therefore, the use of questions was expressed more by the subject during the scaffolding. At the stage of generating ideas, the thought processes of intuitive contingent dominant subject in the provision of scaffolding considered several things: the condition of students (getting confused, student already has her own concept), the ability of student (middle to upper or lower middle), and the process or the result. At the stage, the subject tends to consider the condition of student (getting confused, being careless, and misspeak) by emphasizing the problems using diagnostic and interventional strategies. At the stage of clarifying the ideas, because the subject tend to consider the conditions of the students, she suggested that imitating the process that was taught previously required the student to find the purpose or results quickly. At the stage of assessing the ideas, the subject decision was made based on the belief gained from the experience. They tended to get started scaffolding by applying diagnostic strategy followed by intervention strategy to uncover the facts. Therefore, the use of imperative was expressed more by the subject during the provision of scaffolding.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisions: Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) > Jurusan Matematika (MAT) > S3 Pendidikan Matematika
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 10 Jul 2017 04:29
Last Modified: 09 Sep 2017 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/64532

Actions (login required)

View Item View Item