Tipe manusia biofilia dan nekrofilia dalam ekofiksi Indonesia: perspektif ekopsikologi / Anas Ahmadi

Ahmadi, Anas (2018) Tipe manusia biofilia dan nekrofilia dalam ekofiksi Indonesia: perspektif ekopsikologi / Anas Ahmadi. Doctoral thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Ahmadi, A. 2017. Tipe Manusia Biofilia dan Nekrofilia dalam Ekofiksi Indonesia: Perspektif Ekopsikologi. Disertasi. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Abd. Syukur Ghazali, M.Pd. Pembimbing: (II) Dr. Taufik Dermawan, M.Hum.; (III) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd. Kata kunci: biofilia, nekrofilia, ekopsikologi, ekofiksi, sikap pengarang Penelitian Tipe Manusia Biofilia dan Nekrofilia dalam Ekofiksi Indonesia: Perspektif Ekopsikologi ini didasarkan pada fakta bahwa sastra merepresentasikan hubungan manusia dan lingkungan. Penelitian ini berfokus pada empat aspek, yakni (1) tipe manusia biofilia dalam ekofiksi Indonesia; (2) tipe manusia nekrofilia dalam ekofiksi Indonesia; (3) sikap pengarang terhadap manusia biofilia dalam ekofiksi Indonesia; dan (4) sikap pengarang terhadap manusia nekrofilia dalam ekofiksi Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif-interpretatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini, yakni ekopsikologi yang merupakan bagian dari studi psikologi, sedangkan teori yang digunakan, yakni biofilia dan nekrofilia yang ditopang dengan konsep etika lingkungan dan alienasi lingkungan. Instrumen penelitian adalah peneliti yang sekaligus menjadi instrumen kunci. Data yang digunakan berupa kata, frasa, kalimat, dan alinea yang relevan dengan fokus penelitian. Sumber data yang digunakan, yakni 17 ekofiksi Indonesia yang relevan dengan fokus penelitian. Penganalisisan data menggunakan teknik heuristik yang merujuk pada Key & Kerr, swapencarian (selfsearch), swadialog (selfdialogue), dan swatemuan (selfdicovery), sedangkan untuk pengodean data merujuk pada Neuman, yakni (1) pengodean terbuka, (2) pengodean aksial, (3) pengodean selektif, dan (4) tahap pengodean final. Berdasarkan analisis, diperoleh temuan penelitian yang terpapar sebagai berikut. Pertama, tipe manusia biofilia yang terdapat dalam 17 ekofiksi indonesia muncul dalam bentuk (1) tipe manusia biofilia humanistik. Dalam interaksinya dengan lingkungan, manusia biofilia humanistik menunjukkan pikiran/tindakan mencintai laut, memprotes lingkungan tambang, peduli pada lingkungan domestik, peduli pada lingkungan sawah/ladang, dan mencintai binatang; (3) tipe manusia biofilia estetik. Dalam interaksinya dengan lingkungan, manusia biofilia estetik menunjukkan pikiran/tindakan yang berkait dengan keindahan air terjun, keindahan lingkungan sekitar, keindahan laut, kesenian tema lingkungan; (3) tipe manusia biofilia ekospiritualistik. Dalam interaksinya dengan lingkungan, manusia tipe manusia biofilia ekospiritualistik menunjukkan pikiran/tindakannya dalam upacara yang berkait dengan lingkungan dan pencarian jati diri melalui lingkungan; (4) tipe manusia biofilia ekosaintik. Dalam interaksinya dengan lingkungan, manusia biofilia ekosaintik menunjukkan pikiran/tindakan pengetahuan lokal tentang pengobatan, pengetahuan lokal tentang persilatan, pengetahuan lokal tentang pola hidup, cara mengendalikan lingkungan, dan cara membuat perahu. Kedua, tipe manusia nekrofilia yang terdapat dalam 17 ekofiksi indonesia muncul dalam bentuk (1) tipe manusia nekrofilia eksploitatif. Dalam interaksinya dengan lingkungan, manusia nekrofilia eksploitatif menunjukkan pikiran/tindakan yang berkait dengan eksploitasi lingkungan tambang, eksploitasi lingkungan hutan, eksploitasi binatang; (2) tipe manusia nekrofilia destruktif. Dalam interaksinya dengan lingkungan, manusia nekrofilia eksploitatif menunjukkan pikiran/tindakan yang berkait dengan pembakaran hutan, penyiksaan/pembunuhan binatang; dan (3) tipe manusia nekrofilia simbolis. Dalam interaksinya dengan lingkungan, manusia nekrofilia simbolis mengalami trans-spesies menjadi binatang (babi) yang suka mencuri harta orang lain. Ketiga, sikap pengarang Indonesia terhadap tipe manusia biofilia adalah mendukung sepenuhnya. Para pengarang Indonesia menunjukkan keberpihakan pada tipe manusia biofilia. Sikap keberpihakan pengarang tersebut muncul dalam bentuk (1) sikap menumbuhkembangkan spiritualisme lingkungan. Sikap ini direpresentasikan oleh pengarang Herliany dalam Is; (2) sikap mencintai binatang direpresentasikan oleh pengarang Kuntowijoyo dalam MPU, Cipta dalam Ca, Thayf dalam TT, dan Lestari dalam Pt; (3) sikap apresiatif terhadap estetika lingkungan direpresentasikan oleh pengarang Dewi Lestari dalam Ak, Seno Gumira dalam NB2, dan Mangunwijaya dalam IHIH; dan (4) sikap menunjukkan pengetahuan tradisi pengobatan tradisional direpresentasikan oleh pengarang Mangunwijaya dalam IHIH, Senogumira dalam NB2, dan Thayf dalam TT. Dengan demikian, sikap pengarang Indonesia terhadap manusia biofilia terkategorikan orientasi ÔÇÖlunakÔÇÖ belum mengarah pada orientasi ÔÇÖradikalÔÇÖ sebab dalam novel Indonesia manusia biofilia tidak digambarkan melakukan peperangan/pemberontakan terhadap manusia nekrofilia. Keempat, sikap pengarang Indonesia terhadap manusia nekrofilia adalah tidak mendukung. Mereka memprotes dan mengkritisi tipe manusia nekrofilia. Hal tersebut ditunjukkan pengarang Indonesia dalam bentuk (1) sikap menunjukkan ketidakadilan ras dalam lingkungan; (2) sikap mengkritisi eksploitasi lingkungan. Sikap menunjukkan ketidakadilan ras dalam lingkungan direpesentasikan oleh Andrea Hirata dan Thayf. Adapun sikap mengkritisi eksploitasi lingkungan direpresentasikan oleh Andrea Hirata, Thayf, dan Tereliye dan; (3) sikap mengkritisi penyiksaan dan pelecehan terhadap binatang direpresentasikan oleh pengarang Eka Kurniawan dalam O. Berkait dengan keempat simpulan tersebut tampak bahwa sastra Indonesia, khususnya novel masih belum banyak yang memunculkan representasi interaksi manusia dengan lingkungan, baik segi manusia biofilia dan manusia nekrofilia. Dengan demikian, pengarang Indonesia, khususnya novelis, perhatian terhadap masalah interaksi manusia dengan lingkungan belum begitu besar. Lingkungan belum menjadi tema arus utama dalam novel-novel Indonesia. Meskipun demikian, sastrawan Indonesia, misalnya Mangunwijaya, Navis, Kuntowijoyo, Rampan, Lestari, Kurniawan, Thayf, Senogumira, Tereliye, Cipta, dan Herliany, merupakan pengarang yang menaruh konsentrasi terhadap hubungan interaksional antara manusia dan lingkungan. Karena itu, pengarang yang menggambarkan interaksi manusia dan lingkungan adalah pengarang yang menarasikan sastra lingkungan atau yang dikenal dengan sebutan ecoliterature, ecofiction, atau econarratology.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisions: Fakultas Sastra (FS) > Jurusan Sastra Indonesia (IND) > S3 Pendidikan Bahasa Indonesia
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 12 Dec 2018 04:29
Last Modified: 09 Sep 2018 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/64349

Actions (login required)

View Item View Item