Nyanyian rakyat Bugis: kajian bentuk, fungsi, nilai, dan strategi pelestariannya / Amaluddin

Amaluddin (2010) Nyanyian rakyat Bugis: kajian bentuk, fungsi, nilai, dan strategi pelestariannya / Amaluddin. Doctoral thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Amaluddin. 2009. Nyanyian Rakyat Bugis (Kajian Bentuk, Fungsi, Nilai, dan Strategi Pelestariannya). Disertasi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H. Abdul Syukur Ibrahim, (2) Dr. Djoko Saryono, M.Pd., dan (3) Prof. Dr. H. Imam SyafiÔÇÖie. Kata-kata Kunci: nyanyian rakyat, bentuk, fungsi, nilai, strategi pelestarian, dan hermeneutika. Nyanyian Rakyat Bugis (NRB) merupakan produk budaya etnik Bugis. Nyanyian rakyat tersebut, diwariskan secara lisan (verbal) dari generasi ke generasi Bugis. Sebagai produk budaya, NRB digunakan sebagai media ekspresi seni untuk menyampaikan berbagai hal tentang kehidupan manusia Bugis, di samping sebagai media hiburan rakyat. Penelitian ini berusaha memerikan hal-hal yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini memerikan empat aspek, yakni (1) bentuk, (2) fungsi, (3) nilai, dan (4) strategi pelestarian. Pada aspek bentuk, meliputi: (a) pemaknaan terhadap kategori diksi yang digunakan dalam NRB yang berhubungan dengan ruang persepsi kehidupan masyarakat Bugis yang sangat substansial dan fundamental, (b) pemaknaan terhadap bentuk kalimat yang digunakan NRB dalam kaitannya dengan eksistensi siriÔÇÖ dan p?¬sse sebagai inti budaya Bugis, (c) dan pemaknaan gaya bahasa dalam NRB yang mendeskripsikan tentang sifat-sifat manusia Bugis. Kemudian aspek fungsi, meliputi: (a) fungsinya sebagai sarana kritik sosial dalam masyarakat Bugis, (b) fungsinya sebagai pengawas norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Bugis, dan (c) fungsinya sebagai alat pendidikan bagi generasi muda manusia Bugis. Aspek nilai, meliputi: (a) nilai filosofis, (b) nilai religius, dan (c) nilai sosiologis. Aspek strategi pelestarian NRB, meliputi: (a) strategi langsung yang dilaku?¼kan oleh pemerintah dan (b) strategi tidak langsung yang dilakukan oleh masyarakat. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif yang menggunakan ancangan hermeneutika. Data penelitian berupa teks lisan NRB Makkacaping dan Elong asli dalam bahasa Bugis, serta data primer lainnya yang terkait dengan NRB. Pengumpulan data dilakukan melalui perekaman, observasi, wawancara, dan studi/kaji dokumen NRB. Dalam pengumpulan data, peneliti bertindak sebagai instrumen kunci dilengkapi dengan format catatan lapangan, pedoman/panduan wawancara, instrumen penjaring data, dan dilengkapi dengan alat perekam elektronik (handycam, tape recorder, dan kamera digital). Analisis data sudah dilakukan sejak awal pengumpulan data, oleh sebab itu ketika pengumpulan data, peneliti melakukan identifikasi data, klasifikasi data terpilih, penyajian data, interpretasi, dan penarikan simpulan atau verifikasi data. Semua proses itu didasari oleh pandangan etik dan emik dalam studi budaya. Analisis data penelitian dilakukan secara hermeneutis dengan model interaktif-dialektis. Maksudnya, pengumpulan data dan analisis data dilakukan secara serentak, bolak-balik, dan berkali-kali atau sesuai dengan prinsip lingkaran hermenutika (hermeuti circle) dengan mengikuti model hermeneutika Recouer, yakni pemahaman secara cermat melalui level semantik, level refleksif, dan level eksistensial. Untuk memverifikasi semua temuan penelitian, dilakukan trianggulasi temuan kepada pakar bahasa Bugis, ahli lontaraÔÇÖ Bugis, dan Budayawan Bugis. Berdasarkan analisis data ditemukan beberapa hal berikut. Dari aspek pemaknaan bentuk diksi untuk mengekspresikan beragam muatan budaya yang sarat dengan makna kehidupan manusia, ditemukan penggunaan diksi kategori (1) being, meliputi: (a) assim?¬ll?¬r?¬ng dan siakkamas?¬ang, (b) atong?¬ng?¬ng), (c) asipaka?¼tau?¼ng?¬ng, (d) apaccing?¬ng, (e) al?¬bbir?¬ng, (f) adeleÔÇÖ (g) assicocok?¬ng/ asal?¬wang?¬ng, (h) alempur?¬ng, (i) acenning?¬ngati, dan (j) apator?¬ng. (2) terresterial, meliputi: kosakata (a) galung,(b) sepeÔÇÖ,(c) saloÔÇÖ, (d) dareÔÇÖ, dan (e) aleÔÇÖ, (3 living, meliputi kosa kata: (a) batakkaju, (b) taneng-taneng, dan (c) buaÔÇÖ, (4) annimate, meliputi kosa kata: (a) dongiÔÇÖ,(b) manuÔÇÖ, (c) meong, dan sebagainya. Kemudian jenis kalimat yang digunakan dalam tradisi lisan NRB untuk mendeskripsikan pat?¬ttong penegakan budaya siriÔÇÖ dan p?¬sse dalam masyarakat Bugis, yakni (1) kalimat deklaratif, (2) kalimat imperatif, dan (3) kalimat interogatif. Gaya bahasa dalam NRB, meliputi (1) hiperbola, (2) simile, (3) personifikasi, (4) metafora, dan (5) repetisi. Dari aspek fungsi, NRB mengandung fungsi sebagai (1) sarana kritik atau protes sosial yang bertujuan untuk: (a) memberikan kritikan terhadap ketimpangan, penyelewengan, dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyat yang dipimpinnya, (b) memberikan kritikan atau sindiran terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat Bugis, dan (c) memberikan masukan atau nasihat kepada pemimpin dalam menjalankan amanah yang diberikan oleh rakyat, (2) pengawas norma-norma yang berlaku dalam masyarakat (sebagai fungsi adat), yang bertujuan untuk: (a) menegakkan norma adat ad?¬ untuk memberikan hukuman kepada orang yang melakukan kesalahan dalam masyarakat Bugis, (b) menegakkan norma adat ad?¬ dalam memutuskan suatu perkara (ketetapan hukum), dan (c) larangan melakukan pelanggaran norma adat ad?¬ dalam masyarakat Bugis, (3) sebagai sarana pendidikan bagi generasi muda Bugis yang bertujuan untuk (a) memberikan nasihat kepada seorang anak dalam keluarga (paseng ri wjiae), (b) mendorong agar setiap orang senantiasa berbuat baik dalam hidupnya (ampe-ampe deceng), (c) memberikan nasihat agar setiap orang berusaha memperbanyak bekal (bokong temmawari) akhirat berupa amal yang baik, (d) menjaga dan memelihara perkataan yang baik dan benar (ada tong?¬ng), (e) menumbuhkan sifat sabar dalam menjalani kehidupan dunia (sabbaraÔÇÖ), (f) menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai antar sesama manusia (sipakatau), (g) menumbuhkan sifat pemurah/kedermawanan (malaboÔÇÖ), (h) menumbuhkan semangat etos kerja keras (r?¬so), dan (i) menanamkan kesadaran tenang pentingnya memiliki kepandaian/pengetahuan (amaccang?¬ng). Dari aspek nilai, NRB mengandung nilai yang sangat hakiki dalam kehidupan manusia Bugis, yaitu: (1) nilai filosofis, adalah nilai yang merepresentasi?¼kan pandangan hidup atau kebijaksanaan hidup manusia Bugis untuk mengendali?¼kan dan mengarahkan manusia dalam bersikap, berperilaku atau perbuatan ke arah yang lebih baik, meliputi : (a) sikap teguh dalam pendirian atau memegang teguh prinsip hidup, (b) sikap menentukan pegangan hidup yang kokoh (sikap kepastian), dan (c) sikap kebijaksanaan, (2) nilai religius, adalah nilai-nilai kudus (suci) yang berhubungan dimensi ke-Tuhan-an dalam aktivitas kehidupan manusia sebagai hamba Allah di muka bumi, meliputi: (a) meyakini bahwa Allah SWT Maha Kuasa dan Pelindung bagi hambanya, (b) menerima takdir (totoÔÇÖ) Allah SWT dengan sikap pasrah, (c) perintah memperbanyak bekal (bongkong temmawari) akhirat, berupa amal yang baik, (d) perintah memantapkan/ memperkokoh iman (teppeÔÇÖ) dalam hati, dan (e) perintah menegakkan (pat?¬ttongÔÇÖ) ibadah salat lima waktu, dan (f) perintah menjauhkan diri dari perbuatan dosa (ampesala atau adosang), (3) nilai sosiologis, adalah nilai-nilai yang merepresentasikan hubungan atau interaksi manusia dengan manusia dalam masyarakat Bugis yang direfleksikan dalam bentuk perilaku, sifat, kebiasaan untuk membangun hubungan timbal balik yang lebih harmonis, meliputi (a) pentingnya tolong-menolong (assiturus?¬ng), (b) pentingnya bermusyawarah (tudassipulung) untuk menyatukan pendapat, (c) pentingnya persaudaraan (assiajing?¬ng) dalam suka dan duka, dan (d) berdedikasi tinggi (mawatang) untuk membangun masyarakat, bangsa dan negara, dan (e) menjaga dan memelihara kerukunan hidup (asal?¬wang?¬ng). Dari aspek pelestarian budaya NRB, ada dua strategi yang dilakukan pada masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Pertama, strategi langsung yang dilakukan oleh pemerintah untuk memelihara keberadaan tradisi lisan NRB, meliputi (a) inventarisasi dan dokumentasi, (b) dijadikan sebagai muatan lokal di beberapa sekolah, dan (c) sebagai hiburan pada acara resmi pemerintah daerah, melalui Pembinaan tradisi lisan NRB, perlombaan yang dilakukan setiap hari besar nasional dan hari jadi kabupaten/kota, (3) melalui pengembangan, yaitu diteliti dan dikembangkan oleh ilmuwan dan budayawan Bugis, dan kedua strategi tidak langsung yang dilakukan oleh masyarakat dalam upaya pelestarian tradisi lisan NRB, meliputi (a) pelatihan Makkacaping dan Elong, (b) pembentukan grup Kecapi NRB, (c) penyiaran dan promosi melalui media, (d) membudayakan NRB sebagai hiburan di lingkungan rumah tangga, (e) keterlibatan industri rekaman, dan (f) menggunakan NRB sebagai hiburan masyarakat pada acara keluarga. Berdasarkan data wawancara, ditemukan pula strategi pelestarian yang seharusnya dilakukan, yaitu (a) pembinaan kepada para pelaku NRB, (b) memfasilitasi pembentukan grup NRB/simfoni kecapi, (c) Pemberian dana pembinaan, (d) seharusnya ada seksi khusus yang membidangi kebudayaan daerah, (e) perlombaan penulisan teks NRB, dan (f) dilaksanakan seminar dan diskusi tentang pengembangan NRB. ABSTRACT Amaluddin. 2009. Buginese Folksong (Study of Form, Function, Value, and its Perpetuation Strategy). Dissertation of Indonesian Language Education Study Program, Postgraduate Program of State Unversity of Malang. Advisor (I) Prof. Dr. H. Abdul Syukur Ibrahim, (II) Dr. Djoko Sarjono, M.Pd., and (III) Prof. Dr. H. Imam SyafiÔÇÖie. Key words: folksong, form, function, value, perpetuation strategy, and hermeneutic Buginese Folksong (BF) is a cultural product of Buginese ethnic. The song has been orally handed down from one Buginese generation to the next. As a cultural product, it has been used as a medium of art expression to convey various things on Buginese life, in addition to the people entertainment medium. This research is focused on four aspects, namely (1) the form, (2) the function, (3) the value, and (4) the defensive or perpetuation strategy. The form aspect covers: (a) understanding on diction category which is used in the song and which is related to the very substantial and fundamental of Buginese life perception, (b) understanding on sentence form in relation to the existence of siriÔÇÖ and pesseÔÇÖ as cores of Buginese culture which are applied in the tune, (c) understanding on language style of the song that describes about the Buginese behaviours. The function aspect involves: (a) its function as a social critique media in Buginese society, (b) norms observer in Buginese society, (c) besides, its function as an educational mean for Buginese young generation.The value covers: (a) the philosophical value, (b) religiuos value, and (c) sociological value. The perpetuation strategy aspect of Buginese falksong. It involves: (a) direct strategy which is cunducted by the government, and (b) indirect strategy which is conducted by the members of society. This research includes a qualitative research which employs hermeneutics theory. The research data are oral texts on Buginese folksongs and the other primary data in relation to the songs. Data collection was conducted by recording, observing, interviewing, and studying/learning the Buginese folksong documents. In collecting data, the researcher himself was the key instrumen. Besides, he also used other instrumental such as, field notes, inteview guide, intrument for filtering data, handycam, tape recorder, and digital camera. Data analysis has been done at the beginning of data collection activity. Therefore, when data collection was going on, the researcher began to identify, classify the selected data, present, interpret, and draw a conclusion or data veryfication. All of these proccesses were based on ethic and emyc concept in the study of culture. Data were analyzed by using hermeneutic theory by means of interactive-dialectic. It means that the data collection and data analysis were conducted simulteneously, repeatedly again and again according to the hermeneutic cycle; it follows the Recouer hermeneutic model, that is accurate understanding through sementic, reflexive, and existencial level. Triangulation to the Buginese language experts, Buginese-Makassarese old manuscript experts, and Buginese cultured man. Based on data analysis it is found that on the aspect of diction meaning to express various cultural load which is full of meaningful life, it is found the use of diction categories (1) being consisting (a) assim?¬ll?¬r?¬ng and siakkamas?¬ang, (b) atong?¬ng?¬ng, (c) asipakataung?¬ng, (d) appaccing?¬ng, (e) al?¬bbireng, (f) adeleÔÇÖ, (g) assicocok?¬ng/asal?¬wang?¬ng, (h) alempur?¬ng, (i) acenning?¬ngati, and (j) apator?¬ng. (2) terresterial, consisting of some vocabularies (a) galung, (b) sepeÔÇÖ, (c) saloÔÇÖ, (d) dareÔÇÖ, and aleÔÇÖ, (3) living, consisting of the vocabularies such as (a) batakkaju, (b) taneng-taneng, and (c) buaÔÇÖ, (4) annimate, consisting of some vocabularies such as (a) dongiÔÇÖ, (b) manuÔÇÖ, (c) meong, and so forth. The sentence types which are used in oral tradition of Buginese Folksong to describe patt?¬ttong siriÔÇÖ and p?¬sseÔÇÖ in Buginese society namey (1) declarative sentence, (b) imperative sentence, and (c) interrogative sentence. The language styles or linguistic styles in the song comprise (1) hyperbole, (2) simile, (3) personification, (4) metaphor, and (5) repetition. From the aspect of function, the Buginese folksong functions as (1) critical media or social protest which aims to criticize again the (a) imbalanced, deviation, and arbitrariness conducted by the government toward the people they govern, (b) provide critique of the social problem as faced the community and (c) provide input and advice to the leader in implementing their policy as expected by the community, (2) supervisor of the norms establish the community (as the tradition), which aims to (a) establish the tradition adeÔÇÖ to give penalty to those who break the traditional norms, (b) establish the tradition norms adeÔÇÖ in deciding a case (low decision), and (c) prohibition to deviate the traditional norms adeÔÇÖ in Buginese community, (3) as educational guides to Buginese young generation in order to (a) advise the children in the family (paseng ri wijae), (b) encourage veryone to behave properly in daily life, (ampe deceng), (c) advise everybody to behave properly for hereafter (bokong temmawari), (d) to talk politely (ada tong?¬ng), (e) to be patient in their life (sabbaraÔÇÖ), (f) to respect each other (sipakatau)), (g) establish generosity (malabo), (h) to encourage to people to work hard (r?¬so), and (i) to make people realize the important of education in life (amaccangeng). From the aspect of values, the Buginese folksong contain deep values in Buginese life, they are (1) philosophical values representing the ways of life or wisdom to control of people behave properly embracing (a) strong principle, (b) choice of strong ways of life, and (c) to be wise, (2) religious values are the pure values which are relating to their belief in god in human beingÔÇÖ activities as a servant of god comprising: (a) belief in God as the owner of the universe and the protector of the servant, (b) accept fate (totoÔÇÖ), (c) order to make much deed (bokong temmawari) for herafter, as proper behavior, (d) encouragement to strengthen the belief (teppeÔÇÖ), and (e) encouragement to worship (pat?¬ttong), and (f) encouragement o avoid making sin (ampesala or adosang), (3) sociological values are the values representing the relationship or human interaction among Buginese people reflected in their behaviors, manners, habit to build mutual relationship in better harmony, consisting of (a) the important of helping each other (assiturus?¬ng), (b) the important of making consensus (tudang sipulung) in any situation, and (c) the important of establishing brotherhood (assiajing?¬ng) in any condition, and (d) high dedication (mawatang) to build the strong society, nation and country, and (e) to maintain the life harmony (asal?¬wang?¬ng). Form the cultural security aspect of Buginese folksong, there were two strategies employed in the past, today, and in the future. First, direct strategy employed by the government to maintain the existence of oral tradition of the song, encompassing (a) recording and documenting, (b) as a local content in the curriculum of some schools, and (c) as an entertainment for the official ceremony of local government through teaching oral tradition of the song, competition on every important national and local ceremonies, (3) that is by research and development by the experts and Buginese cultured men, and the second is the indirect stategy employed by the government in order to maintain the Buginese oral tradition of Buginese folksong by Makkacaping and elong trainings, (b) establishing groups of Kacaping of the song, (c) broadcasting and promoting through the media, (d) acculturates the Buginese folksong as an entertainment of the family, (e) the involvement of recording industry, and (f) using the song to entertain people in any family party. Based on the interview, it is also found defense strategy which should e done, they are (a) guiding the actors of the Buginese folksong, (b) facilitating the form of group of the song/ kacaping symphony, (c) financing the group, (d) there should be a particular oard managing the local culture, (e) text writing competition on the Buginese folksong, and (f) conducting seminar and discussion about the Buginese folksong development.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisions: Fakultas Sastra (FS) > Jurusan Sastra Indonesia (IND) > S3 Pendidikan Bahasa Indonesia
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 11 Mar 2010 04:29
Last Modified: 09 Sep 2010 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/64227

Actions (login required)

View Item View Item