Perubahan model penylenggaraan pendidikan pesantren (Studi multi khusus pada pesantren Bungkuk Singosari, pesantren Al-Furqan Tamhidiu Buring dan pesantren An-nur 2 Bululawang)/Abdul malik karim amrullah

Amrulah, Abdul Malik Karim (2012) Perubahan model penylenggaraan pendidikan pesantren (Studi multi khusus pada pesantren Bungkuk Singosari, pesantren Al-Furqan Tamhidiu Buring dan pesantren An-nur 2 Bululawang)/Abdul malik karim amrullah. Doctoral thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

. Disertasi. Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd ; (II) Prof. H. Ahmad Sonhadji K.H, M.A, Ph.D.; (III) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd Kata kunci: perubahan organisasi, peran kyai, peran pemangku kepentingan, model penyelenggaraan pendidikan pesantren Penelitian ini bermula dari ketertarikan peneliti melihat fenomena yang terjadi pada lembaga pendidikan Islam tradisional yang memiliki tradisi serta kultur yang berkarakter yaitu lembaga pendidikan pesantren. Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di pesantren an-Nur 2 Bululawang, pesantren PTIQ al-Furqan Buring serta pesantren Miftahul Falah Bungkuk Singosari. Ketiga pesantren tersebut memiliki karakter dan kasus yang berbeda satu sama lainnya. Pesantren Miftahul Falah adalah pesantren yang memiliki kasus menurun, pesantren al-Furqan memiliki kasus yang berbeda dimana pesantren ini baru lahir serta yang ketiga pesantren an-Nur yang mengalami masa kejayaan. Dari ketiga pesantren yang memiliki kasus berbeda itulah peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terutama tentang : (a) Perubahan organisasi pesantren, yang meliputi (1) perubahan sistem manajemen pesantren, (2) Pembinaan pemberdayaan SDM pesantren, (b) kepemimpinan di lembaga pendidikan pesantren yang meliputi (1) pengembangan visi, dan (2) gaya kepemimpinan kyai pada pesantren, (c) perubahan model pembelajaran serta, (d) peran pemangku kepentingan (stakeholder) internal dan eksternal dalam proses perubahan pesantren, yang meliputi (1) peran sertanya dalam pengembangan pesantren, dan (2) tipologi pelanggan pesantren pada proses perubahan pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dilakukan pada tiga kasus. Ketiga pesantren tersebut memiliki kasus yang berbeda. Kasus pertama adalah pesantren yang mengalami perkembangan bahkan kejayaan, kasus kedua adalah pesantren yang baru lahir dan berupaya berkembang dan kasus yang ketiga adalah pesantren yang mengalami kemunduran. Berdasarkan perbedaan kasus itulah peneliti menggunakan pendekatan rancangan penelitian multi-kasus, dengan menggunakan metode analisis data komparatif konstan dan induksi termodifikasi. Orientasi teoretik yang digunakan adalah pendekatan fenomenologis dan budaya. Penelitian ini menemukan fenomena yang menarik yaitu tentang perubahan organisasi pesantren. Dari ketiga kasus tersebut tentunya bisa disederhanakan dalam kategori perubahan sebagai berikut; 1) Pesantren Kategori A yaitu pesantren yang mengalami penurunan dan mencoba bertahan dari sisi manajemen pesantren ini mencoba menjalankan fungsinya sebagai pesantren, akan tetapi tidak berjalan dengan baik karena struktur kepengurusan tidak efektif, pemberdayaan sumber daya manusia juga tidak berjalan dengan baik, (2) Pesantren kategori B yaitu pesantren yang mulai berinisiatif berkembang yaitu pesantren yang mulai menerapkan manajemen dengan baik meskipun instrumen yang dimilikinya sangat sederhana ditunjang dengan pemberdayaan sumber daya manusia yang baik juga perubahan struktur kepengurusan secara radikal sehingga perubahan itu berjalan efektif, (3) Pesantren dengan kategori C yaitu pesantren yang sudah pada taraf kejayaan fungsi manajemen berjalan secara total, pemberdayaan sumberdaya manusia juga dilakukan mulai dari santri sampai kepengurusan Temuan yang kedua adalah tentang tipologi kyai. Tipologi kyai yang pertama adalah Inovatif-Terbuka. Tipologi yang pertama ini terdapat pada pesantren yang mengalami pengembangan. Adapaun indikatornya antara lain; (1) kyai mendirikan sekolah; (2) kyai mengintegrasikan kurikulum; (3) kyai memberdayakan SDM; dan (4) kyai mengedepankan kemandirian. Tipologi yang kedua adalah Konservatif-Inovatif. Tipologi yang kedua ini terdapat juga pada pesantren yang mengalami pengembangan. Adapun indikatornya antara lain; (1) kyai menolak sekolah; (2) kyai mengintegrasikan kurikulum; (3) kyai memberdayakan SDM; dan (4) kyai mengembangkan kemandirian. Tipologi yang ketiga adalah Terbuka-Tidak inovatif. Tipologi yang ketiga ini terdapat pada pesantren yang mengalami kemunduran. Adapaun indikatornya adalah sebagai berikut; (1) Kyai tidak menolak sekolah; (2) Kyai tidak mengintegrasikan kurikulum; (3) Kyai tidak memberdayakan SDM; (4) Kyai tidak mengedepankan kemandirian. Temuan ketiga adalah tentang perubahan sistem pembelajaran diniyah ke salaf yaitu pesantren yang tidak memiliki standar mutu pembelajaran, perubahan orientasi belajar para santri yang lebih memprioritaskan pada pengembangan ilmu umum, metode menghafal, memiliki praktek pembelajaran dan menurunnya jumlah santri. Pesantren yang berinisiatif meningkatkan kualitas yaitu pesantren yang memiliki standar kualitas pembelajaran, terjadi perubahan sistem yaitu salaf menjadi sistem kelas dan pesantren yang melakukan inovasi pengembangan sistem pembelajaran dan jumlah santri yang meningkat.Perubahan model pembelajaran pesantren adalah pengembangan model pembelajaran sistem salaf ke diniyah, dikembangkan menjadi madrasah yang masih menggunakan standar pesantren. Ini yang saya sebut sebagai perubahan tanpa perusakan (changing without breaking) Temuan yang keempat adalah tentang kategori pemangku kepentingan. Pemangku kepentingan memiliki peran yang penting bagi pengembangan dan kemunduran pesantren. Setidaknya ada tiga kategori peran pemangku kepentingan bagi pesantren yaitu antara lain; (1) pemangku kepentingan sebagai agen perubahan dalam hal ini yang menjadi agen perubahan bagi pesantren adalah keluarga itu sendiri; (2) pemangku kepentingan sebagai user bagi pesantren. User adalah masyarakat yang memanfaatkan sumber-sumber pesantren yang dianggap menguntungkan bagi masyarakat terutama dalam hal pendidikan dan pengajaran; dan (3) pemangku kepentingan sebagai pelanggan. Pelanggan berbeda dengan user, karena pelanggan adalah menggunakan produk-produk yang sudah jadi di pesantren sedangkan user adalah pengguna produk-produk yang masih ada di pesantren. Pelanggan yang loyal adalah pelanggan yang menganggap bahwa semua produk yang dihasilkan pesantren memiliki nilai berkah bagi masyarakat.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisions: Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) > Jurusan Administrasi Pendidikan (AP) > S3 Manajemen Pendidikan
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 22 Mar 2012 04:29
Last Modified: 09 Sep 2012 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/63867

Actions (login required)

View Item View Item