Diagnosis kesulitas siswa dalam menyelesaikan masalah geometri-pisa melalui pemetaan kognitif dan upaya mengatasinya dengan scaffolding / Agung Prasetyo Abadi

Abadi, Agung Prasetyo (2014) Diagnosis kesulitas siswa dalam menyelesaikan masalah geometri-pisa melalui pemetaan kognitif dan upaya mengatasinya dengan scaffolding / Agung Prasetyo Abadi. Masters thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

Abadi, Agung, Prasetyo. 2014. Diagnosis Kesulitan Siswa Dalam Menyelesaikan Masalah Geometri-PISA Melalui Pemetaan Kognitif dan Upaya Mengatasinya dengan Scaffolding. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Subanji, M.Si., (2) Drs. Tjang Daniel Chandra, M.Si, Ph.D. Kata Kunci: Diagnosis, Kesulitan Siswa, Geometri-PISA, Pemetaan Kognitif, Scaffolding    Salah satu indikator yang menunjukkan mutu pendidikan di tanah air cenderung masih rendah adalah hasil penilaian internasional tentang prestasi siswa. Survey Trends International Mathematics and Science Study (TIMSS) pada tahun 2003 menempatkan Indonesia pada peringkat 34 dari 45 negara. Prestasi tersebut bahkan relatif lebih buruk pada Programme for International Student Assessment (PISA), yang mengukur anak usia 15 tahun dalam literasi membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 2003 menempatkan Indonesia pada pada peringkat 2 terendah dari 40 negara sampel, yaitu hanya satu tingkat lebih tinggi daripada negara Tunisia. Bahkan pada PISA tahun 2012 Indonesia nyaris menjadi juru kunci, Indonesia berada di peringkat 64 dari 65 negara yang ikut berpartisipasi dalam tes.    Penelitian ini mengungkap apa saja kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah geometri-PISA dan upaya mengatasinya menggunakan scaffolding. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus karena dalam penelitian ini dilakukan kepada individu secara mendalam, mulai dari mendiagnosis kesulitan sampai pemberian scaffolding. Subjek penelitian ini terdiri 6 siswa dari 3 kelompok kemampuan matematika yang berbeda. Kelompok pertama dengan kemampuan matematika baik, kelompok kedua dengan kemampuan matematika sedang, dan kelompok ketiga dengan kemampuan matematika kurang. Masing-masing kelompok terdiri dari 2 siswa.    Kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan masalah geometri-PISA antara lain: (1) memahami masalah, hal ini disebabkan karena siswa jarang atau tidak pernah diberikan latihan dengan soal-soal yang berkarakteristik seperti soal PISA, (2) menuliskan kondisi awal dari apa yang sudah dipahami, hal ini disebabkan karena siswa tidak terbiasa melakukannya di kelas, (3) kesulitan dalam mengaitkan apa yang diketahui dengan apa yang ditanyakan sehingga menghasilkan jawaban yang benar, hal ini disebabkan karena dalam menyelesaikan soal PISA diperlukan beberapa konsep yang saling terkait. Hal demikian masih belum terbiasa dilakukan di kelas, (4) kesulitan dalam melakukan pengecekan jawaban yang telah diperoleh dan kesulitan dalam memberikan kesimpulan terhadap jawaban yang dihasilkan.    Sebagai upaya mengatasi masalah tersebut, maka peneliti memberikan scaffolding kepada subjek penelitian. Berdasarkan pada pengertian dari ZPD yaitu daerah diantara tingkat perkembangan aktual dan perkembangan potensial, atau dengan kata lain daerah di mana siswa belajar secara individu dengan siswa belajar dibantu oleh orang yang lebih mampu (scaffolding), maka scaffolding dikaitkan dengan interaksi di mana guru menstruktur tugas agar siswa dapat berpartisipasi aktif dalam aktivitas pembelajaran.    Anghileri (2006:39) mengusulkan tiga hierarki dari penggunaan scaffolding yang merupakan dukungan dalam pembelajaran matematika yaitu: Level 1: Environmental provisions (Classroom organization, artefacts), Level 2: Explaining, reviewing, and restructuring, Level 3 :Developing conceptual thinking. Peneliti mengaitkan dengan tiga tingkatan scaffolding yang dikemukakan oleh Anghileri (2006) meskipun tidak semua tingkatan digunakan, mengingat kondisi siswa dan materi yang dibahas dalam penelitian ini. Scaffolding yang diberikan berupa dukungan untuk belajar dan mengatasi masalah yang diberikan secara bertahap dan seminimal mungkin dengan mengacu pada tahapan scaffolding Anghileri pada level 2 (Explaining, reviewing, and restructuring).      Dari hasil penelitian ini, peneliti menyampaikan beberapa saran antara lain: (1) Dalam menjelaskan langkah-langkah pengerjaan soal terutama soal cerita, sebaiknya dilakukan dengan rinci, sehingga diharapkan siswa mengetahui manfaat tiap langkah pengerjaan soal, (2) Membiasakan siswa dengan soal-soal yang bukan prosedural, misalnya dengan soal yang sesuai dengan standar PISA. (3) Kajian dalam penelitian ini masih terbatas, sehingga perlu adanya penelitian lain yang lebih mendalam.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisions: Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) > Jurusan Matematika (MAT) > S2 Pendidikan Matematika
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 01 Oct 2014 04:29
Last Modified: 09 Sep 2014 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/59444

Actions (login required)

View Item View Item