Kontribusi ludruk pada masa kolonial bagi pertumbuhan jati diri bangsa Indonesia di Jawa Timur tahun 1910-1940 / Octavia Cony Francis Moore</p> - Repositori Universitas Negeri Malang

Kontribusi ludruk pada masa kolonial bagi pertumbuhan jati diri bangsa Indonesia di Jawa Timur tahun 1910-1940 / Octavia Cony Francis Moore</p>

Moore, Octavia Cony Francis (2021) Kontribusi ludruk pada masa kolonial bagi pertumbuhan jati diri bangsa Indonesia di Jawa Timur tahun 1910-1940 / Octavia Cony Francis Moore</p>. Diploma thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

Kesenian Ludruk sudah berada di tengah masyarakat khususnya di Jawa Timur sejak masa Kerajaan Majapahit di abad 13 dan abad 14. Ludruk yang mengalami perubahan nama dari lerok ngamen lerok bandan lerok besut dan akhirnya menjadi ludruk merupakan salah satu bukti bahwa pertunjukan ini mengalami perkembangan dan mengikuti perubahan zaman sesuai dengan jiwa jaman yang dialami kesenian tersebut. Seturut dengan perkembangan pesat yang dialami Ludruk hingga di tahun 1910-an Ludruk mulai berani untuk melebarkan kiprahnya dengan membawa pesan tersirat di dalam setiap lakon yang diperankan. Lakon yang dibawakan para pemain Ludruk kala itu berisi tentang kehidupan sehari-hari yang dialami langsung oleh masyarakat pribumi akibat kekejaman kebijakan pemerintah kolonial. Di tahun 1910-1940 merupakan tahun emas Ludruk untuk berkembang dan ini ditandai dengan hadirnya Ludruk sebagai teater rakyat yang menyinggung aspek politik ekonomi sosial maupun jati diri bangsa Indonesia kala itu yang sangat minim karena mulai tergerus akibat hadirnya budaya Barat. Penelitian ini berakar dari permasalahan untuk mengetahui Kontribusi Seni Ludruk Pada Masa Kolonial Bagi Jati Diri Bangsa Indonesia di Jawa Timur Tahun 1910-1940. Ada tiga hal yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini yaitu (1) Kondisi sosial dan politik Surabaya di masa kolonial pada tahun 1910-1940 (2) Perkembangan Ludruk di masa kolonial pada tahun 1910-1940 (3) Kontribusi Ludruk terhadap jati diri bangsa. Pada penelitian ini penulis menggunakan metode Deskriptif Naratif dari sudut pandang sejarah budaya. Langkah pertama adalah kedekatan emosional dan intelektual. Langkah kedua adalah heuristik atau pengumpulan data data pertama bersifat primer berupa dokumen lakon dan surat kabar. Data kedua bersifat sekunder berupa buku-buku dan hasil penelitian terdahulu yang terkait penelitian. Langkah ketiga berupa kritik sumber berupa kritik intern dan kritik ekstern. Langkah keempat melakukan intepretasi data-data yang telah melalui proses kritik intern dan kritik ekstern kemudian dianalisis dan disimpulkan. Langkah kelima yaitu historiografi merupakan tahap akhir dari penelitian sejarah yang tertuang dalam bentuk tulisan secara kronologis. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Kurun waktu 1910-1940 merupakan waktu yang sangat krusial bagi perjuangan masyarakat Hindia Belanda untuk terbebas dari kebijakan pemerintah kolonial. Keadaan politik yang mulai memanas karena perbedaan pendapat dari kaum terpelajar yang ingin menuntut hak masyarakat pribumi. Kondisi sosial yang terlihat jelas di kalangan masyarakat karena adanya stratifikasi sosial dan juga berbagai ketimpangan yang terjadi membuat masyarakat pribumi mulai berani untuk menyuarakan hak-hak yang selama ini dikekang oleh kebijakan pemerintah kolonial. (2) Kehadiran Ludruk di tengah masyarakat diharapkan mampu untuk mengeskpresikan berbagai macam keresahan yang terjadi. Lakon-lakon Ludruk yang menceritakan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat diharapkan mampu menyampaikan pesan tersirat pada saat melakukan pertunjukan. Ludruk sebagai teater rakyat juga didukung oleh beberapa kaum terpelajar seperti dr. Soetomo yang memberikan wadah bagi para pemain Ludruk untuk berkreasi dan menampilkan lakon. (3) Lakon Ludruk yang dibawakan pemain Ludruk mulai mendapatkan dampak yang sangat signifikan di masyarakat pribumi. Hal ini dikarenakan lakon yang diceritakan mampu menceritakan keadaan masyarakat dalam hal politik ekonomi dan sosial. Penggunaan bahasa daerah dan juga bahasa Indonesia dalam mementaskan lakon juga dinilai dapat memunculkan kembali semangat pergerakan dalam mewujudkan kemerdekaan dan juga dapat memunculkan jati diri bangsa yang mulai terkikis karena budaya Barat yang lebih banyak mengambil peran.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: ?? ??
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial (FIS) > Departemen Sejarah (SEJ) > S1 Ilmu Sejarah
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 29 Jul 2021 04:29
Last Modified: 09 Sep 2021 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/265146

Actions (login required)

View Item View Item