Penanaman nilai-nilai nasionalisme dalam keseharian santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda Kelurahan Mergosono Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Ahmad Imam Musta’in

Musta’in, Ahmad Imam (2018) Penanaman nilai-nilai nasionalisme dalam keseharian santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda Kelurahan Mergosono Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Ahmad Imam Musta’in. Diploma thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

i ABSTRAK Musta in Ahmad Imam. 2018. Penanaman Nilai-nilai Nasionalisme dalam Keseharian Santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi iyah Nurul Huda Mergosono Malang. Skripsi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. H. Suparman Adi W SH M.Hum (2) Dr. Sri Untari M.Si. Kata kunci Penanaman Nilai Nasionalisme Keseharian Santri dan Pondok Pesantren Nasionalisme adalah rasa cinta dan bangga kepada negara dan tanah air Dibutuhkanya rasa nasionalisme adalah untuk tercapainya tujuan negara terutama Negara Indonesia yang bertujuan untuk memajukan kesejahteraan umum mencerdaskan kehidupan bangsa serta. ikut melaksanakan ketertiban dunia namun dewasa ini nilai-nilai nasionalisme semakin terkikis terutama bagi generasi muda di Indonesia generasi muda sebagai generasi penerus bangsa akan mengantarkan Indonesia ke dalam kehancuran dan perpecahan jika tidak memiliki rasa nasionalisme Untuk menghindari hal tersebut terjadi di Indoneisa maka Nilai-nilai nasionalisme harus dijaga dan dilestarikan oleh semua kalangan semua pihak dan menyeluruh di semua cabang ilmu salah satu cara menanamkan nilai nasioanlisme adalah melalui jalur pendidikan baik pendidikan formal seperti sekolah umum pendidikan informal seperti sekolah rumah (homeschoolling) maupun non-formal seperti pondok pesantren. Pondok pesantren sendiri merupakan salah satu lembaga pendidikan non formal yang secara khusus mengajarkan ilmu agama islam secara umum pondok pesantren tidak mengajarkan nasionalisme kecuali secara hidden terutama Pondok Pesantren Salafiyah Syafi iyah Nurul Huda yang merupakan pondok pesantren tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Nilai-nilai nasionalisme apa saja yang terkandung dalam kurikulum di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi iyah Nurul Huda (2) penanaman nilai-nilai Nasionalisme dalam keseharian santri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi iyah Nurul Huda (3) kendala yang dihadapi dalam penanaman nilai-nilai Nasionalisme dalam keseharian santri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi iyah Nurul Huda dan (4) solusi dari kendala yang dihadapi dalam penanaman nilai-nilai nasionalisme dalam keseharian santri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi iyah Nurul Huda Mergosono kota Malang. Pendekatan dan jenis penelitian menggunakan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan metode yaitu wawancara observasi dan dokumentasi. Alanisis data yang digunakan adalah tehnik perjodohan pola Robert K. Yin yaitu hasil yang diharapkan sebagai suatu pola penjelasan saingan sebagai pola dan pola yang lebih sederhana. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh dari hasil penelitian peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber. Adapun Hasil penelitian adalah sebagai berikut (1) kurikulum pondok pesantren salafiyah syafi iyah nurul huda hanya berupa kegiatan belajar mengajar dengan bidang keilmuan fiqh nahwu shorof tauhid dan aqidah akhlaq. nilai- ii nilai nasionalisme yang terkandung dalam kurikulum pondok pesantren salafiyah syafi iyah nurul huda terdiri dari Nilai Rela Berkorban yang terkandung dalam kajian ilmu Fiqh Nilai Persatuan dan Kesatuan yang terkandung dalam kajian ilmu tauhid dan aqidah akhlaq Nilai Toleransi yang terkandung dalam kajian ilmu aqidah akhlaq Nilai kerjasama yang terkandung dalam kajian ilmu aqidah akhlaq Nilai Cinta Tanah Air yang terkandung dalam kajian ilmu fiqh dan aqidah akhlaq (2) penanaman nilai-nilai nasionalisme dalam keseharian santri pondok pesantren salafiyah syafi iyah nurul huda melalui 2 kegiatan yaitu kegiatan formal serta kagiatan non formal. Kegiatan formal yang terdiri dari madrasah diniyah dan non-madrasah diniyah melalui proses pembelajaran dengan memberi contoh yang langsung mengarah pada kahidupan masyarakat. Sedangkan kegiatan non-formal terdiri dari kegiatan ekstrakulikuler ditanamkan secara hidden dan lebih menekankan pada prakter dalam kehidupan bermasyarakat. (3) kendala yang dihadapi dalam penanaman nilai-nilai nasionalisme di pondok pesantren salafiyah syafi iyah nurul huda setidaknya ada tiga poin yaitu kurangnya pemahaman para pengajar tentang nasionalime sedikitnya kitab yang mencakup tentang materi nasionalisme dan aktifitas yang padat baik santri maupun para pengajar dipondok pesantren dan diluar pondok pesantren. (4) ada beberapa solusi untuk mengatasi kendala tersebut seperi memanfaatkan semaksimal mungkin materi yang selaras dengan nasionalisme baik santri maupun para pengajar diizinkan untuk membawa dan mengkaji kitab lain yang selaras dengan materi pembelajaran dan berhubungan dengan nasionalisme menjadikan santri mutakhirijin (santri yang sudah lulus dan mengabdi) sebagai badal atau asisten Ustadz untuk menggantikan mengajar jika Ustadz berhalangan hadir. Saran yang diberikan oleh peneliti setelah melakukan penelitian ini antara lain (1) Para pengajar diharapkan mempelajari dan mendalami tentang nasionalisme secara pelan-pelan serta diharapkan mampu lebih kreatif dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada santri melalui proses pembelajaran dengan memberi contoh kehidupan masyarakat dan keadaan yang dialami indonesia sekarang. (2) Para pengurus diharapkan menyediakan buku-buku tentang nasionalisme atau kitab-kitab yang relefan dengan nasionalisme di perpustakaan agar para santri maupun para pengajar lebih mudah mencari referensi jika ingin mendalami tentang nasionalisme. Diadakanya kelompok belajar perkelas setelah madrasah diniyah selesai atau diwaktu yang lain agar santri yang ketinggalan materi madrasah diniyah bisa mengukuti sekaligus sebagai muroja ah (mengulang kembali) materi yang telah diajarkan kepada santri. lalu diberlakukanya takzir (hukuman) bagi santri yang tidak ikut kegiatan nonformal karena hanya dengan sanksi sosial masih belum bisa membuat para santri jera terlebih lagi di pondok pesantren.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: ?? ??
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial (FIS) > Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan (HKn) > S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 04 Sep 2018 04:29
Last Modified: 09 Sep 2018 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/130626

Actions (login required)

View Item View Item