Kompetensi sintaksis bahasa Indonesia lisan siswa kelas 8 SMPN 1 Palu / Ida Nur'aeni

Nur'aeni, Ida (2020) Kompetensi sintaksis bahasa Indonesia lisan siswa kelas 8 SMPN 1 Palu / Ida Nur'aeni. Doctoral thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

RINGKASAN Nur’aeni, Ida. 2019. Kompetensi Sintaktis Bahasa Indonesia Lisan Siswa Kelas 8 SMPN 1 Palu. Disertasi, Program Studi S3 Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Suparno, (II) Dr. Titik Harsiati, M.Pd, (III) Prof. Dr. Sumadi, M.Pd. Kata-kata kunci: kompetensi sintaktis, bahasa Indonesia lisan, siswa sekolah menengah pertama Kompetensi sintaktis merupakan salah satu komponen penting dalam kompetensi komunikatif. Kompetensi sintaktis menurut teori transformasional ditunjukkan oleh kompetensi dalam menyusun kalimat, baik kalimat dasar maupun kalimat transformasi. Kompetensi sintaktis secara psikologis menjadi gambaran kompetensi siswa dalam memperoleh dan mengolah informasi menjadi kalimat. Penelitian kompetensi sintaktis bahasa Indonesia lisan ini memiliki dua fokus. Pertama, kompetensi sintaktis bahasa Indonesia lisan siswa kelas 8 SMPN 1 Palu yang terwujud pada pola kalimat dasar. Kedua, kompetensi sintaktis bahasa Indonesia lisan siswa kelas 8 SMPN 1 Palu yang terwujud pada pola kalimat transformasi. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus satu situs. Kasus yang diteliti adalah siswa sebagai penutur bahasa ibu bahasa Indonesia di sebuah sekolah. Sumber data penelitian ini adalah teks lisan siswa kelas 8 SMPN 1 Palu yang diperoleh melalui teknik observasi, wawancara, dan perekaman. Data penelitian ini adalah kalimat yang berterima secara lisan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori transformasi melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi sintaktis bahasa Indonesia lisan siswa SMP digolongkan menjadi dua. Pertama, kompetensi sintaktis bahasa Indonesia lisan siswa kelas 8 SMP yang terwujud pada kalimat dasar terdiri atas lima pola, yaitu FN1+FN2, FN+FV, FN+FA, FN+FNum, dan FN+FPrep. Ciri gramatika bahasa lisan dalam kalimat dasar adalah kalimat yang pendek dan penggunaan pengantar hey. Kedua, kompetensi sintaktis bahasa Indonesia lisan siswa kelas 8 SMP yang terwujud pada kalimat transformasi terdiri atas tiga pola yaitu pola transformasi tunggal, pola transformasi sematan, dan pola transformasi rapatan. Kompetensi sintaktis bahasa Indonesia lisan siswa yang terwujud pada kalimat transformasi tunggal (TT) terdiri atas enam pola, yaitu pola penambahan, pola pengurangan, pola penggantian, pola pemendekan, pola fokus, dan pola khusus. Kompetensi sintaktis bahasa Indonesia lisan siswa kelas 8 SMP yang terwujud pada kalimat transformasi sematan terdiri atas tiga pola, yaitu (1) pola sematan atribut, (2) pola sematan pelengkap FN, dan (3) pola sematan pelengkap FV. Kompetensi sintaktis bahasa Indonesia lisan siswa kelas 8 SMP yang terwujud pada kalimat transformasi rapatan terdiri atas sebelas pola, yaitu (1) TR Kontras ditandai oleh penanda kontras namun, tapi, cuma, dan tetapi; (2) TR Aditif ditandai oleh kata dan; (3) TR Rampatan ditandai oleh tidak ada penanda rapatan; (4) TR Waktu yang ditandai oleh kata setelah, sebelum, dan ketika; (5) TR Tujuan ditandai oleh kata supaya; (6) TR Sebab ditandai oleh kata karena; (7) TR Alternatif ditandai oleh kata atau; (8) TR Simpulan ditandai oleh kata jadi; (9) TR Hasilan ditandai oleh kata sehingga; (10) TR Kondisional ditandai oleh kata kalau; dan (11) TR Tegasan ditandai oleh penanda bahkan. Ciri gramatika bahasa lisan dalam kalimat transformasi ditunjukkan oleh lima penanda. Pertama, pelesapan bagian kalimat yang ditunjukkan oleh pelesapan FN1, FV, FPrep, serta FN dan FV. Kedua, dislokasi kiri yang ditunjukkan oleh pemindahan FN2, FV, FA, dan FPrep, dan FNum. Ketiga, pengisi yang ditunjukkan oleh penggunaan kata baru dan ujaran ee. Keempat, pengantar yang ditandai oleh tiga ciri, yaitu (a) konjungsi, yaitu setelah, sebelum, tapi, jadi, berarti, maksudnya, karena, dan harusnya; (b) penggunaan seruan, yaitu wey, cie, aduh, astaga, bah, dan ish; dan (c) penanda pengantar, yaitu terus. Kelima, potongan frasa yang ditandai oleh penggunaan kata-kata yang menunjukkan tingkat dan rasa, yaitu agak, lebih jauh, lebih segar, lebih dalam, lebih kuat, dan memang. Hasil penelitian ini berimplikasi pada pembelajaran struktur kalimat dan penyusunan tata bahasa pendidikan. Guru harus merancang pembelajaran sesuai dengan kompetensi sintaktis bahasa Indonesia lisan siswa yang terwujud pada pola kalimat dasar dan pola kalimat transformasi. Penyusunan tata bahasa pendidikan dilakukan berdasarkan tata bahasa lisan siswa karena bahasa lisan adalah representasi otentik dari kompetensi sintaktis.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisions: Fakultas Sastra (FS) > Jurusan Sastra Indonesia (IND) > S3 Pendidikan Bahasa Indonesia
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 22 Jan 2020 04:29
Last Modified: 09 Sep 2020 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/115445

Actions (login required)

View Item View Item