Tindak tutur impositif siswa dan guru dalam berkomunikasi di sekolah dasar / Mohammad Setyo Wardono

Wardono, Mohammad Setyo (2020) Tindak tutur impositif siswa dan guru dalam berkomunikasi di sekolah dasar / Mohammad Setyo Wardono. Masters thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

RINGKASAN Wardono, Mohammad Setyo. 2019. Tindak Tutur Impositif Siswa dan Guru dalam Berkomunikasi di Sekolah Dasar. Tesis, Program Studi S2 Pendidikan Dasar, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd., (II) Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd. Kata Kunci: Tindak Tutur, Impositif Tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan tindak impositif (meminta, memerintah, bertanya dan menolak) dan prinsip kesantunan dalam interaksi siswa di SDN Ngadas 2 Malang. Proses pengumpulan data menggunakan alat bantu recorder untuk mengambil data rekaman saat kegiatan penelitian, serta menggunakan teknik wawancara untuk memastikan dan memberikan hasil yang valid. Data penelitian ialah transkrip rekaman, hasil wawancara serta catatan lapangan. Penelitian ini menggunakan sumber data siswa, guru dan orang tua. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa ditemukan empat tindak impositif yang terdapat pada warga sekolah di SDN Ngadas 2 Malang. Keempat tindak tersebut yaitu tindak meminta, tindak bertanya, tindak memerintah dan tindak menolak. Pertama, hasil penelitian dalam tindak meminta dikelompokkan menjadi tiga, yaitu tindak meminta modus eksplisit, meminta dengan modus berpagar dan meminta dengan tuturan tidak langsung. Berdasarkan tingkat kelangsungan suatu tuturan, strategi tindak meminta tidak langsung terbentang dari yang mudah dipahami sampai yang paling sulit dipahami secara langsung. Tindak meminta tidak langsung yang paling sesuai, cenderung sangat sulit dipahami. Sebaliknya, tindak meminta tidak langsung yang mendekati langsung, cenderung mudah dipahami. Hasil pengamatan tindak meminta menunjukkan subjek memiliki kemampuan untuk menggunakan tindak tidak langsung tersebut. Kedua, pada hasil pengamatan tindak memerintah hubungan yang akrab, tindak memerintah seperti pada percakapan di atas diharapkan tidak dianggap sebagai tindak mengancam muka. Untuk menunjukkan kesantunan, perintah meminta tidak langsung juga dapat disampaikan dengan cara bercanda. Strategi bercanda dimaksudkan untuk menjalin hubungan agar bertambah akrab diantara penutur dengan petutur. Serta dengan cara tersebut diharapkan bisa bermakna lebih baik dan lebih santun. Ketiga, dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa tindak bertanya bisa digunakan sebagai cara bersikap yang santun untuk melakukan tindakan dan tuturan yang disampaikan secara bercanda namun mengimplikasikan maksud untuk menolak. Dengan seperti itu, tindak bertanya dalam interaksi percakapan yang sudah terekam tidak termasuk tindak mengancam muka. Tindak bertanya merupakan salah satu cara wujud kesantunan. Keempat, hasil pengamatan yang telah dilaksanakan pada tindak menolak mengungkap bahwa subjek cenderung memilih tuturan tidak langsung untuk menolak dikarenakan paling santun untuk memberikan cara meminta tolong. Hasil yang telah diteliti mendapatkan empat prinsip tindak ujar kesantunan dalam berbahasa, antara lain maksim kurmat atau hormat, maksim andhap asor atau rendah hati, maksim ampan papan atau sadar akan tempat, dan maksim tepa selira atau tenggang rasa. Secara umum tindak tepa selira cenderung menempatkan status sosial dan kekuasaan penutur lebih rendah daripada petutur yang lebih rendah status dan kekuasaannya. Oleh karena itu, dalam banyak hal maksim tepa selira sejalan dengan maksim andhap asor sebab tindak tutur yang mencerminkan penerapan maksim tepa selira cenderung mengandung makna merendahkan diri sendiri serta menjunjung tinggi orang lain. Terdapat tiga konsep yang mendasari berbahasa santun dalam lingkungan masyarakat SDN Ngadas 2 malang adalah pertama, konsep ujaran ketidaklangsungan menjadi tema yang mendominasi mereka, karena berada dalam lingkungan dengan masyarakat tempat tinggal yang berbudaya asli Jawa. Kedua, prinsip-prinsip kesantunan yang khas budaya Jawa termotivasi oleh orang tua menjadi pendukung utama terhadap siswa-siswi dalam penanaman tindak kesantunan ujaran. Ketiga, guru dan karyawan yang berada di sekolah pun juga menerapkan kebiasaan berbahasa santun antar guru, serta kepada siswa-siswinya.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisions: PASCASARJANA(PS) > S2 Pendidikan Dasar
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 07 Jan 2020 04:29
Last Modified: 09 Sep 2020 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/114810

Actions (login required)

View Item View Item