Penalaran analogi siswa dalam menyelesaiakan soal Persamaan Eksponen dan Logaritma berdasarkan gaya berpikir / Muhammad Sa’duddien Khair

Khair, Muhammad Sa’duddien (2018) Penalaran analogi siswa dalam menyelesaiakan soal Persamaan Eksponen dan Logaritma berdasarkan gaya berpikir / Muhammad Sa’duddien Khair. Masters thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Khair, Muhammad Sa’duddien. 2018. Penalaran Analogi Siswa dalam Menyelesaikan Soal Persamaan Eksponen dan Logaritma Berdasarkan Gaya Berpikir. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Subanji, M.Si, (II) Dr. Makbul Muksar, S.Pd, M.Si. Kata Kunci : Penalaran Analogi, Gaya berpikir, Persamaan Eksponen dan Logaritma Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana penalaran analogi siswa dalam menyelesaikan soal persamaan eksponen dan logaritma berdasarkan gaya berpikir. Penelitian ini berjenis deskriptif kualitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket gaya berpikir, tes penalaran analogi soal persamaan eksponen dan logaritma dan pedoman wawancara. Subjek penelitian ini adalah 8 siswa kelas X program Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam SMA Negeri 2 Banjarmasin yang terdiri dari 2 orang subjek dengan gaya berpikir sekuensial konkret (SK), 2 orang subjek dengan gaya berpikir sekuensial abstrak (SA), 2 orang subjek dengan gaya berpikir acak abstrak (AA) dan 2 orang subjek dengan gaya berpikir acak konkret (AK). Hasil yang didapat dari penelitian ini menunjukkan bahwa penalaran analogi siswa dengan gaya berpikir sekuensial konkret dimulai dengan melakukan encoding pada masalah sumber lalu dilanjutkan dengan inferring. Setelah itu subjek melakukan encoding pada masalah target dan cenderung kesulitan dalam melakukannya. Meskipun demikian, siswa dengan gaya berpikir sekuensial konkret mampu melakukan tahap berikutnya yakni tahapan mapping. Penalaran analogi siswa dengan gaya berpikir sekuensial konkret diakhiri dengan tahap applying. Sayangnya, pada tahap tersebut, siswa dengan gaya berpikir sekuensial konkret masih belum mendapatkan jawaban akhir karena adanya kesalahan maupun belum sempurnanya tahapan applying. Penalaran analogi siswa dengan gaya berpikir sekuensial abstrak dimulai dengan melakukan encoding pada masalah sumber dan dilanjutkan dengan inferring. Siswa dengan gaya berpikir sekuensial abstrak sudah mampu melaksanakan kedua tahap tersebut dengan baik. Setelah itu siswa melakukan encoding pada masalah target dimana siswa cenderung kesulitan untuk melakukan penyimbolan mengenai apa yang mereka pahami terhadap masalah target. Penalaran analogi siswa dengan gaya berpikir sekuensial abstrak kemudian dilanjutkan dengan tahapan mapping dimana ada siswa yang sudah mampu menghubungkan antara penyelesaian masalah sumber dengan penyelesaian masalah target dan ada yang belum mampu menghubungkan antara penyelesaian masalah sumber dengan penyelesaian masalah target yang diakibatkan oleh kesulitan saat melakukan penyimbolan pada tahapan encoding untuk masalah target. Penalaran analogi siswa sekuensial abstrak diakhiri dengan tahap applying. Sayangnya, pada tahap tersebut, siswa dengan gaya berpikir sekuensial abstrak masih belum mendapatkan jawaban akhir karena kesalahan konsep pada tahap applying. Sementara itu, penalaran analogi siswa dengan gaya berpikir acak abstrak dimulai dengan melakukan encoding pada masalah sumber yang dilanjutkan dengan inferring. Sayangnya ada kesalahan konsep saat melakukan inferring untuk menyelesaikan masalah sumber. Setelah itu subjek melakukan encoding pada masalah target. Saat melakukan tahap ini, siswa dengan gaya berpikir acak abstrak salah dalam memahami masalah target sehingga berdampak pada kesalahan mereka dalam membuat penyimbolan. Penalaran analogi siswa dengan gaya berpikir acak abstrak kemudian dilanjutkan dengan tahapan mapping dimana siswa sudah mampu menghubungkan antara penyelesaian masalah sumber dengan penyelesaian masalah target. Penalaran analogi siswa dengan gaya berpikir acak abstrak diakhiri dengan tahap applying. Kesalahan tahap inferring berdampak pada kesalahan tahap applying. Penalaran analogi siswa dengan gaya berpikir acak konkret dimulai dengan melakukan encoding pada masalah sumber yang dilanjutkan dengan inferring. Siswa dengan gaya berpikir acak konkret cenderung mampu menghubungkan dengan baik unsur-unsur yang terdapat pada masalah sumber meskipun ada kasus munculnya kesalahan prosedur saat melakukan inferring untuk menyelesaikan masalah sumber. Setelah itu siswa dengan gaya berpikir acak konkret melakukan encoding pada masalah target dimana siswa dengan gaya berpikir acak konkret cenderung kesulitan untuk melakukan penyimbolan mengenai apa yang mereka pahami terhadap masalah target. Penalaran analogi siswa dengan gaya berpikir acak konkret kemudian dilanjutkan dengan tahapan mapping dimana ada siswa yang sudah mampu menghubungkan antara penyelesaian masalah sumber dengan penyelesaian masalah target dan ada yang belum mampu menghubungkan antara penyelesaian masalah sumber dengan penyelesaian masalah target yang diakibatkan oleh kesulitan saat melakukan penyimbolan pada tahapan encoding untuk masalah target. Penalaran analogi siswa dengan gaya berpikir acak konkret diakhiri dengan tahap applying. Kesalahan tahap inferring maupun kesalahan pada tahap encoding pada masalah target berdampak pada kesalahan tahap applying.Selain itu, siswa dengan gaya berpikir acak konkret juga melakukan kesalahan konsep saat melakukan tahap applying.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisions: Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) > Jurusan Matematika (MAT) > S2 Pendidikan Matematika
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 30 Jul 2018 04:29
Last Modified: 09 Sep 2018 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/110912

Actions (login required)

View Item View Item