Proses berpikir kreatif siswa dalam memecahkan masalah open-ended ditinjau dari adversity quotient (AQ) siswa / Mega Ervannanda Putri

Putri, Mega Ervannanda (2017) Proses berpikir kreatif siswa dalam memecahkan masalah open-ended ditinjau dari adversity quotient (AQ) siswa / Mega Ervannanda Putri. Masters thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Putri, Mega Ervannanda. 2017. Proses Berpikir Kreatif Siswa dalam Memecahkan Masalah Open Ended Ditinjau dari Adversity Quotient (AQ) Siswa. Tesis. Jurusan Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Ipung Yuwono, M.S, M.Sc, (II) Dr. Sisworo, S.Pd, M.Si. Kata Kunci: proses berpikir kreatif, kreativitas, pemecahan masalah, open ended, Adversity Quotient. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif eksploratif yang bertujuan untuk mendiskripsikan proses berpikir kreatif siswa dalam memecahkan masalah open ended ditinjau dari Adversity Quotient (AQ) siswa. Penelitian ini dilakukan di kelas VIII SMP Bhakti Malang. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 3 (tiga) siswa yaitu tipe climber, camper, dan quitter masing-masing 1 (satu) siswa untuk setiap tipe. Proses berpikir kreatif pada penelitian ini mengacu pada tahapan proses berpikir kreatif dari Krulik dan Rudnick yaitu menyintesis ide-ide, membangun ide-ide, dan menerapkan ide yang melibatkan indikator kreativitas Silver yakni kefasihan/kelancaran (fluency), fleksibel (flexibility), dan keaslian/keunikan (originality). Proses berpikir kreatif dalam memecahkan masalah open-ended pada tahap menyintesis ide-ide, siswa climber dan camper dapat mengidentifikasi dan memahami masalah, dapat menjelaskan komponen-komponen yang diperoleh dari masalah yang diberikan dan juga pengetahuan yang harus dimiliki untuk memecahkan masalah yang diberikan. Sedangkan siswa quitter hanya dapat mengidentifikasi akan tetapi tidak bisa memahami masalah karena ada beberapa informasi yang di soal yang tidak dipahaminya, tidak dapat menjelaskan komponen-komponen yang diperoleh dari masalah yang diberikan dan juga pengetahuan yang harus dimiliki untuk memecahkan masalah yang diberikan sehingga pada tahap ini gagal. Pada tahap membangun ide-ide, siswa climber dan camper dapat memadukan komponen-komponen yang telah diperlukan untuk mencari solusi dari suatu masalah dengan pengetahuan yang dimilikinya mengenai masalah tersebut, dapat merepresentasikan masalah ke dalam ilustrasi gambar ataupun membuat pemisalan berdasarkan informasi yang diberikan di soal, mendapatkan ide untuk mencari solusi dari suatu masalah dari ilustrasi gambar ataupun pemisalan yang dibuat. Namun ada hal yang berbeda pada tahap membangun ide-ide kedua siswa ini yakni: setelah menemukan ide pertama siswa climber terus berjuang untuk mencari ide-ide lainnya sampai menemukan semua ide-ide yang dimilikinya, dan siswa camper memutuskan untuk tidak mencari ide lain dengan alasan tidak mempunyai ide lagi dan sudah cukup puas dengan idenya karena sudah sesuai dengan yang diminta di soal dan ide yang dimilikinya masih terbatas. Sedangkan siswa quitter ini juga gagal pada tahap membangun ide-ide karena pada tahap menyintesis ide-ide sebelumnya gagal sehingga siswa quitter tidak dapat memadukan komponen-komponen yang telah diperlukan untuk mencari solusi dari suatu masalah karena kurangnya pengetahuan yang dimilikinya dan tidak memahami masalah yang diberikan. Pada tahap menerapkan ide, siswa climber dan camper dapat menerapkan ide-ide yang dimilikinya, dapat mencari solusi dari suatu masalah yang diberikan sehingga mendapatkan jawaban yang menurutnya benar. Namun ada hal yang berbeda pada tahap menerapkan ide kedua siswa ini yakni: siswa climber dapat memilih ide-ide yang akan dituliskan di lembar jawaban sebagai solusi dengan alasan ada beberapa ide yang hampir sama dengan ide lainnya dan melakukan pengecekan kembali untuk meyakinkan pada diri sendiri kalau jawaban yang didapatkan memang benar, sedangkan siswa camper tidak melakukannya dan juga tidak meneliti kembali jawaban yang dia miliki. Sedangkan siswa quitter tidak dapat menerapkan ide karena menyerah dan gagal pada tahap menyintesis ide-ide dan membangun ide-ide. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa pada tahap membangun ide-ide dan menerapkan ide, ketiga indikator kreativitas yakni fluency, flexibility, dan originality yang terlihat pada hasil jawaban siswa climber. Namun pada hasil jawaban siswa camper, minimal 1 (satu) atau 2 (dua) indikator kreativitas yang terlihat pada tahap membangun ide-ide dan menerapkan ide. Sedangkan pada hasil jawaban siswa quitter, ketiga indikator kreativitas tidak terlihat pada tahap membangun ide-ide dan menerapkan ide.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisions: Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) > Jurusan Matematika (MAT) > S2 Pendidikan Matematika
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 26 Jul 2017 04:29
Last Modified: 09 Sep 2017 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/110840

Actions (login required)

View Item View Item