The embodiment of liberated female in the main heroin of Avatar: The legend of Korra / Angga Yuhindra Prasetia Nugraheni

Nugraheni, Angga Yuhindra Prasetia (2018) The embodiment of liberated female in the main heroin of Avatar: The legend of Korra / Angga Yuhindra Prasetia Nugraheni. Diploma thesis, Universitas Negeri Malang.

Full text not available from this repository.

Abstract

ABSTRAK Nugraheni, Angga Yuhindra Prasetia. 2017. Perwujudan Perempuan yang MerdekapadaPahlawan Utama Wanita dalam Avatar: The Legend of Korra. Skripsi, Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Inayatul Fariha, S.S., M.A., (II) Dr. Mirjam Anugerahwati, M.A. Kata kunci: posfeminisme, perempuan, pembebasan, Avatar Korra, interpretasi film Posfeminisme adalah sebuah bentuk dari feminisme yang menyesuaikan kebutuhan dan keinginan dari seseorang, melihat bahwa kebutuhan pembebasan dan kebebasan antar satu orang dan lainnya berbeda. Posfeminisme berkeyakinan kepada agensi, pilihan, kemajemukan, dan kebebasan untuk memilih tindakan, diri sendiri, dan peran sosial. Dalam ideologi tersebut perempuan, pada khususnya, adalah seorang agen yang bebas. Skripsi ini terarah pada analisis dan diskusi tentang kebebasan yang direpresentasikan oleh Korra, tokoh utama dari serial animasi Nickelodeon yang berjudul Avatar: The Legend of Korra. Skripsi ini menggunakan metode analisis isi kualitatif untuk menganalisis data. Sumber data adalah 31 dari 52 episode Avatar: The Legend of Korra yang memiliki data yang diperlukan. Setelah mengumpulkan dan menyortir data, pengategorian dilakukan untuk menyaring data. Setelah itu, proses penganalisisan dan penulisan dilaksanakan dengan menggunakan posfeminisme dan pembacaan film posfeminis untuk menginterpretasi apakah serial ini memiliki kualitas perempuan yang merdeka di dalam diri tokoh utamanya. Hasil temuan menunjukkan bahwa Avatar: The Legend of Korra memiliki banyak data yang berhubungan dengan representasi pembebasan perempuan pada tokoh utamanya dengan menggunakan teori posfeminisme. Pada penokohannya, ditemukan bahwa Korra tidak memperlihatkan kecantikan tradisional perempuan. Korra juga merupakan contoh yang baik dari feminisme interseksional: dia adalah seorang perempuan biseksual non-kaukasian, namun dia bisa menjadi pemimpin spiritual yang sadar, pun dicintai dan dihormati oleh masyarakatnya. Tidak seorangpun karakter di dalam serial yang menilainya dari status minoritas sosialnya, tetapi dari kemampuannya untuk memimpin, yang merupakankeadilan yang dituju oleh feminisme. Korra menunjukkan pentingnya menyadari identitas dan tumbuh dengan menyadari akan identitas tersebut. Hubungannya dengan karakter lain pun semakin dewasa seiring berjalannya waktu, bahkan dengan mereka yang memiliki masalah dengannya. Tindakannya memperlihatkan adanya pembebasan; dia terbebas dari stereotipe, heteronormativitas, suara lian, dan male gaze. Berdasarkan hasil temuan, skripsi ini dapat dilebarkan ke fokus yang berbeda di Kajian Wanita di bawah feminisme, seperti teori homoseksual atau male gaze. Untuk mahasiswa literatur yang tertarik dengan kajian feminisme di serial animasi televisi pada khususnya posfeminisme dan pembebasan perempuan, mereka dapat menggunakan Avatar: The Legend of Korradikarenakan banyak elemen yang merujuk pada tujuan feminisme. Untuk penelitian selanjutnya, skripsi ini dapat dirujuk untuk referensi.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: ?? ??
Divisions: Fakultas Sastra (FS) > Jurusan Sastra Inggris (ING) > S1 Bahasa dan Sastra Inggris
Depositing User: Users 2 not found.
Date Deposited: 02 Feb 2018 04:29
Last Modified: 09 Sep 2018 03:00
URI: http://repository.um.ac.id/id/eprint/10838

Actions (login required)

View Item View Item